Affair (Faira)

Affair (Faira)
Pria Gila



Beberapa jam kemudian Faira mulai sadar, dia merasa hangat dan nyaman tidur dalam dekapan seseorang, indera penciumannya sangat mengenal bau harum ini. Mungkin ini hanya mimpi liarnya yang sedang tidur bersama Evan, pria dari masa lalunya.


Tangan halus dan panjang wanita itu mulai mengusap sesuatu yang panas dan berbentuk. Ini bukan mimpi, terasa nyata dan bergerak, batin Faira. Seketika, membuka matanya besar, melihat jika Evan sedang memeluk dan memandanginya. Faira lalu melihat ke arah tangannya yang menyentuh pinggang Evan.


"Akh!" teriak Faira mendorong tubuh Evan. Dia lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya dengan selimut itu. Sejenak dia melihat ke dalam selimut dan tahu dia masih berpakaian lengkap.


"Kau mengapa ada di kamarku?" bentak Faira marah. Evan lalu menunjuk pada ruangan itu. Faira mulai mengamati isi ruangan itu.


Ruangan bercat putih dengan semua perabot berwarna putih bersih. Hanya sebuah vas putih besar dengan bunga mawar merah yang terlihat paling mencolok dari tempat itu.


"Di-dimana ini?" tanya Faira. Evan lalu duduk bersandar, memperlihatkan dadanya yang terekspose sempurna karena tanpa tertutup sehelai benang pun.


"Di kamarku," jawab Evan santai memandangi Faira. Wanita itu mulai mengingat apa yang telah terjadi.


"Kau menculikku?" seru Faira geram. Evan terdiam.


"Kenapa? Untuk apa?"


"Aku hanya merindukan kebersamaan kita!" jawab Evan santai.


"Kau itu, sungguh pria paling bejat yang pernah kutemui. Kau dulu meninggalkanku begitu saja kini kau menculik karena merindukanku. Lucu!" murka Faira.


"Aku memang salah dan aku tidak akan membenarkan kesalahanku," jawab Evan.


"Dan kau ingin mengulangi kesalahan yang sama! Bajingan kau Evan!" seru Faira melemparkan bantal ke arah Evan dengan keras.


"Aku harus pulang semua orang pasti mencariku," ujar Faira bangun dari tempat itu. Lalu mengambil sepatunya yang berada di lantai. Dia mulai menggunakannya. Mengambil tas miliknya dan berjalan menuju pintu kamar.


"Kau, jangan dekati aku lagi!" seru Faira.


Evan hanya melihatnya tanpa mencegah wanita itu berjalan. Faira lalu memutar knop pintu yang tertutup namun tidak berhasil dan diulanginya lagi namun tetap tidak bisa.


Faira menarik rambutnya kebelakang.


"Apa maumu dengan mengurungku di sini!" seru Faira marah.


"Aku akan melepaskan mu asal kau mau menciumku," pinta Evan.


"Kau gila Evan! Aku sudah mempunyai suami," cetus Faira marah. Wajahnya yang putih kini memerah.


Evan hanya diam dan melipat tangannya di dada.


"Kau tidak mau melepaskan aku!" teriak Faira. Evan masih terdiam melihat apa yang akan Faira lakukan.


Wanita itu lalu mengambil vas bunga besar yang terbuat dari kristal dan menjatuhkannya ke lantai.


Pyaar!


Wajah Evan memucat seketika dia langsung bangkit dan berjalan mendekati Faira.


"Jangan mendekat!" Evan lalu terdiam di tempat tangannya direnggangkan ke arah Faira.


"Tenang Faira aku hanya ingin berbicara padamu!"


"Apa yang perlu kita bicarakan semuanya telah berakhir. Itu semua hanya sebuah kesalahan yang tidak mempunyai arti bagiku!" seru Faira.


"Faira buang itu jangan bertindak bodoh."


"Jika kau tidak membuka pintu itu aku akan melukai diriku sendiri. Aku tidak sudi kau sentuh lagi!" ucap Faira.


"Faira buang dulu kaca itu, itu bisa melukai kulitmu," pinta Evan melihat sedikit darah mulai menetes dari tangan Faira.


"Jika kau tidak ingin aku mati maka buka pintu itu dan biarkan aku pergi dari sini!" teriak Faira.


"Okey, kau bisa pergi dari sini tetapi ingatlah satu hal, aku tidak akan berhenti sampai di sini."


"Kenapa? Apakah kau tidak ada pekerjaan lain selain melakukan ini padaku!''


"Karena aku bisa melihat kau hidup tidak bahagia. Mana ada wanita hidup bahagia jika tinggal bersama madunya!" ujar Evan lirih mencoba menenangkan Faira.


Faira memejamkan matanya sejenak untuk mengambil nafas tetapi itu digunakan oleh Evan untuk mengambil pecahan kaca itu dan membuangnya dari tangan Faira.


"Evan lepaskan aku!" seru Faira.


"Kau harus diobati terlebih dahulu," ujar Evan.


"Jika kau tidak melepaskan ku kali ini maka aku akan menghabisi diriku dengan hal gila lainnya!"


"Biarkan aku merawatmu setelah itu kau bisa pergi dengan tenang," pinta Evan lembut.


"Evan aku tidak terluka parah, aku bisa mengatasinya," ujar Faira.


"Ku mohon,"


"Evan, anak dan suamiku pasti khawatir akan keadaanku," lanjut Faira mulai menekan suaranya.


"Aku sudah mengatakan jika kau akan pulang ke rumah ayahmu malam ini pada suamimu lewat chat."


Faira menggelengkan kepalanya. Otak kepala pria ini sepertinya sedang mengalami korsleting karena berpikir hal diluar batas.


"Mana obatnya biar aku sendiri yang akan mengobati setelah itu ijinkan aku pergi pulang ke rumah," ucap Faira.