Affair (Faira)

Affair (Faira)
Mulai Merasakan



Pagi harinya Raka bangun dengan kepala yang terasa pusing. Pandangannya berputar, perutnya terasa mual.


"Intan... Intan...!" panggil Raka.


Intan yang baru saja masuk ke dalam kamar dibuat terkejut oleh teriakan Raka. Dia lalu meletakkan kopi di meja dan mendekati suaminya.


"Ada apa?" Intan memegang pipi Raka. "Kau sakit?"


Raka memegang mulutnya. Intan yang melihat Raka hampir memuntahkan isi perut, langsung menengadahkan kedua tangannya, menampung muntahan Raka agar tidak tersebar kemana-mana.


"Huek ... ." Raka terkejut melihat hal itu.


"Maaf! Aku tidak bisa menahannya," ucap Raka.


"Sudah lega?" Raka menganggukkan kepalanya.


Intan lalu pergi berlari ke kamar mandi untuk membuang muntahan itu dan membersihkan dirinya dengan cepat. Setelah itu, dia kembali lagi mengambil dress rumah di lemari dan memakainya.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit!" kata Intan memasukkan dress ke tubuh sembari melihat Raka yang memegang kepalanya.


"Tidak usah," ucap Raka. Intan lalu pergi ke dapur mengambil baskom yang telah diisi air hangat.


Di lorong kamar dia bertemu dengan Laura.


"Buat apa Ibu?" tanya Laura.


"Untuk ayah, dia sedang sakit. Ibu akan membersihkan tubuh ayah," jawab Intan.


"Aku mau lihat ayah," kata Laura mengikuti ibunya.


"Nanti saja setelah ayahmu dibersihkan, okey!" Laura mengerti lalu menganggukkan kepala.


"Bermain dulu dengan Mbak-Mbak di rumah," ujar Intan. Faira dan keluarganya telah pulang ke rumah tadi malam jadi Laura mulai merasa kesepian.


Intan lalu kembali ke kamarnya.


"Apa yang kau rasakan, Sayang?" tanya Intan.


"Entahlah kepalaku seperti berputar dan perutku serasa ingin mual ingin muntah. Tolong ambilkan wadah untuk menampungnya," pinta Raka. Intan lalu membuang isi baskom ke kamar mandi dan kembali mendekat ke arah Raka.


Entah sudah muntah berapa kali Raka dalam waktu satu jam ini tetapi pria itu masih tidak mau saja ke rumah sakit. Intan mulai khawatir melihat keadaan Raka yang memutih dan terlihat lemas dengan mata selalu terpejam.


"Hallo, Yah," panggil Intan menangis.


"Mengapa kau menangis? Ada apa?" suara dari balik telephon itu terdengar khawatir.


"Raka sakit, dia bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya dan muntah-muntah terus." Intan memegang dahinya.


"Kau telepon rumah sakit," kata Ardianto.


"Dia tidak mau ke rumah sakit," ungkap Intan dengan suara gemetar.


"Aku akan kesana, kau siapkan saja pakaian yang akan dibawanya nanti," kata Ardianto.


"Laura?"


"Laura biar nanti bersama Faira. Sudah kau jangan menangis seperti itu, semua akan baik-baik saja," ucap pria Itu menenangkan menantunya.


Satu jam kemudian Ardianto datang ke rumah Raka. Dia bahkan membatalkan pertemuannya dengan duta besar negara tetangga demi melihat keadaan putranya. Di sana Faira telah berada di kamar Raka.


"Raka, ayah telah membawa mobil ambulans untuk membawamu ke rumah sakit."


"Ayah, aku baik-baik saja hanya butuh istirahat," ujar Raka.


"Baik-baik saja? Kau bercanda, sedari tadi kau hanya muntah saja sembari memegang kepala," sela Faira kesal. Dari tadi dia sudah membujuk kakaknya namun tidak berhasil juga. Kakaknya memang paling anti kalau ke rumah sakit.


"Mungkin virus itu sedang bereaksi," ujar Evan.


"Nah itu yang kutakutkan?"


"Vi-virus apa?" tanya Intan terkejut menatap Evan.


"Dia disuntikkan virus meninghitis, katanya tidak apa-apa tetapi lihat yang terjadi," ucap Faira.


"Tenang, semua akan teratasi. Kita hanya perlu berpikir positif saja."


Intan mulai menangis lagi. Dia memeluk tubuh Raka erat. Takut jika hal buruk terjadi padanya.


"Aku baik-baik saja, kau jangan menangis! Seperti aku sedang sekarat dan akan menemui kematian saja?" ucap Raka seraya mengusap kepala Intan lembut.