
Sudah tiga hari ini Ditya ada di rumah sakit. Setiap harinya Cintya yang menunggui Ditya. Dia bahkan tidak pernah keluar dari kamar itu kalau tidak ada keperluan penting dan mendesak. Dia terlihat sangat peduli pada Ditya bagai seorang istri yang patuh dan mencintainya
Namun berbeda dengan Faira, dia sendiri malah hanya menengok Ditya sebentar lalu kembali lagi ke rumah. Dia terlihat tidak peduli dan bersikap cuek sesuatu yang tidak harapkankan dari sosok Faira yang lemah lembut dan perhatian. Seolah Faira menyerahkan semua keperluannya pada Cintya dan dia lepas tangan. Apakah Ditya sangat kecewa? Dia merasa tidak senang.
Tetapi disisi lain Ditya juga bahagia melihat kehadiran Cintya seolah itu adalah obat bagi lukanya.
Faira tidak mengerti akan hatinya, bagaimana dia bisa mempunyai kekuatan untuk melihat suaminya bersama perempuan lain. Apakah karena perempuan itu sahabatnya, atau dia sangat mencintai suaminya ataukah karena dia terlalu bodoh, tapi rasa bersalahnya yang membuatnya bisa bertahan. Dia sendiri tidak bisa meraba hatinya.
Faira duduk dengan santai bermain handphonenya. Sesekali dia melirik kebersamaan Cintya dan Ditya. Mereka nampak saling mencintai hingga tidak segan-segan memperlihatkan kemesraan mereka, hanya sesekali Cintya terlihat tidak nyaman ketika melihat Faira. Bukan karena tidak suka tetapi ingin menjaga perasaan Faira.
Cintya sendiri hidup berdua bersama ibunya. Ayahnya telah mengusir dia dan ibunya setelah mempunyai wanita lain. Oleh sebab itu, dia sangat membenci wanita perusak rumah tangga orang, tapi takdir mempermainkannya. Cintya kini malah merusak rumah tangga sahabatnya, dia sadar apapun alasannya tetap salah. Tapi rasa cintanya pada Ditya begitu besar sehingga dia mengabaikan semua batasan-batasan itu.
Kini Cintya sedang menyuapi Ditya. Faira terlihat cuek tidak perduli dengan apa yang ada di hadapannya. Ditya pun sama, dia sangat manja dengan Cintya.
Pernikahan apa ini? Mereka terlihat tidak saling memperdulikan perasaan masing masing. pikir Cintya. Dia berharap Ditya lebih bersikap baik kepada Faira. Ditya terlihat ketus ketika berhadapan dengan Faira dan sahabatnya terlihat biasa saja.
"Pantas jika Faira ingin aku menikahi Ditya, mungkin dia sadar bahwa Ditya tidak bisa mencintainya, hanya memberikan luka saja." batin Cintya. "Faira... maafkan aku... aku telah menyakitimu."
"Sudah habis, Dit...?" kata Cintya memperlihatkan baki makanan yang telah bersih. Ditya melongok melihat baki itu telah bersih. Dia lalu tersenyum cerah.
"Hah... masa sih! Aku belum merasakan kenyang sama sekali, kau membangkitkan nafsu makanku Cintya," goda Ditya membuat Faira membuang mukanya dan Cintya merasa tidak enak hati pada Faira.
"Kau ini pandai menggombal," jawab Cintya meletakkan baki itu keluar kamar. Dia lalu kembali untuk membersihkan mulut Ditya dengan tissue. Ditya menerima semua yang Cintya lakukan dengan senang hati.
"Entahlah mulutku selalu ingin merayu jika melihatmu, Sayang." imbuh Ditya lagi membuat Faira merasa mual. Dia lalu memutar bola matanya panas.
"Mas aku harus pergi!" ucap Faira, membuat Ditya dan Cintya melihat ke arahnya. Dia lalu melihat notifikasi hapenya dan melihat jika dia mempunyai janji.
"Aku ada janji penting dengan seseorang. Dia adalah pemilik dari penerbit buku milikku. Kami akan bertemu setelah maka siang nanti."
"Pergi saja tidak perlu meminta ijin," ujar Dityaelihat ke arah Cintya. Faira tersenyum kecut. Cintya terlihat tidak enak melihat keadaan itu.
"Aku ikut denganmu, Ra, aku ingin membeli sesuatu di luar." Cintya mengambil dompet di atas nakas dan segera mendekati Faira.
"Yang.... jangan lama lama." Kata Ditya melihat ke arah Cintya. Setelah melihat keduanya pergi Ditya lalu menghela nafas. Dia tidak mengira Faira akan bersikap masa bodoh seperti itu. Dia ingin marah tetapi pada siapa? Harapan Ditya agar melihat Faira menangis dan sadar jika apa yang dia lakukan ini salah telah pudar. Mungkin kini dia harus merelakan Faira pergi dari hidupnya. Karena bagaimanapun mereka menikah bukan atas dasar cinta tapi sebuah kesalahan.
"Aku belum pernah dipanggil seperti itu. " batin Faira sakit dan iri. Dia hanya bisa menghela nafas panjang mengatasi rasa perih yang dia bercokol di hatinya.
"Ra...maafkan aku karena telah menyakitimu."
"Bukankah itu keinginanku sendiri. Aku sudah mempersiapkan hatiku jauh-jauh hari," ujar Faira tersenyum kecut, berusaha menyembunyikan kesedihannya. Bagaimana pun ada rasa sakit ketika melihat suaminya terlihat lebih menyayangi orang lain dari pada istrinya sendiri!
"Sudah kukatakan sebelumnya, Ra, ini tidak baik buat kita. Tapi kau memaksaku dan aku menolak tapi kau selalu mendorongku untuk mendekatinya, hingga aku tidak bisa menahan perasaanku sendiri. Hatiku sangat merindukan Ditya"
"Setidaknya kau dan Mas Ditya akan bahagia, dan aku ikut juga ikut senang merasakan kebahagiaan kalian," kata Faira yang terdengar tulus.
"Lalu bagaimana dengan hatimu. Aku tahu kau sangat sedih Ra... aku bisa melihatnya di matamu."
"Aku baik-baik saja, lama-lama juga akan terbiasa dengan rasa ini. Awalnya pernikahan kami, aku sangat sedih memperoleh sikap ketus Ditya dan penghinaannya. Kini setelah menjalani satu tahun aku baik baik saja menikmati keketusannya. Bagiku itu makanan sehari-hari," kata Faira sembari tertawa hambar. Dia lalu mendesah
Cintya memegang kedua bahu Faira dan berdiri di hadapan Faira serta menatapnya.
"Ra terbuat dari apakah hatimu itu, jika aku menjadi dirimu aku mungkin bisa membunuh Cintya yang lain,"
"Rasa cintaku lebih besar dari rasa sakitku Cintya. Mungkin itulah mengapa aku bisa bertahan sampai saat ini," jawab Faira serasa menampar wajah Cintya.
"Mas Ditya bodoh karena tidak bisa mencintaimu. Kau wanita paling sempurna yang pernah kutemui," kata Cintya.
"Dia memang selalu bodoh bila berhadapan denganmu. Ha... ha... ha ... . " Faira akhirnya menangis.
"Kau jangan hiraukan tangisanku. Ini hanya untuk sementara setelah ini keadaanku akan baik-baik saja."
"Faira," gumam Cintya memeluk sahabatnya.
"Kau akan kemana Faira?" tanya Cintya ketika mereka di pelataran rumah sakit. "Mana sopirmu?"
"Dia tadi kusuruh pulang. Aku akan ke kantor penerbit yang jaraknya tidak jauh dari tempat ini dengan jalan kaki. Aku ingin mencari udara segar," ujar Faira.
"Hati-hati, Ra, di jalan banyak penjahat berkeliaran. Tetap di tempat ramai," saran Cintya. Faira menganggukkan kepalanya dan berjalan pergi menjauhi Cintya yang terus melihatnya hingga tidak terlihat lagi.
Faira melangkahkan kakinya menyusuri jalanan setapak. Dia berjalan sambil memikirkan semua yang telah terjadi. Apakah ini salah atau benar dia tidak tahu. Tetapi ini bisa membuat Ditya dan Cintya bahagia bukankah itu lebih baik dari pada mereka bertiga sakit bersama. Salah satu harus berkorban dan dialah yang akan berkorban.
.