Affair (Faira)

Affair (Faira)
Hancurnya Hati



Selama beberapa hari ini Raka mencari keberadaan Intan namun tidak dia ketemukan. Dia bahkan sudah mengirimkan mata-mata untuk mencari mengintai rumah kediaman orang tuanya dan Ditya namun sosok Intan tidak dia temukan juga.


Dia seperti menghilang bersama dengan Robin, hingga akhirnya dia menghadiri acara resepsi pernikahan Faira. Hatinya gelisah dan tidak tenang seperti ada sesuatu dalam dirinya yang hilang.


"Dia menghilang? Jika aku yang menjadi dirinya juga akan pergi dari hidupmu Kak," kata Faira tenang sembari di rias oleh MUA.


"Kau itu bukannya memberi solusi malah semakin menjatuhkan."


"Kau yang keterlaluan melayani wanita lain padahal kau telah menikah."


"Sara yang terus menggodaku," bela Raka pada diri sendiri.


"Apapun itu sebagai seorang wanita dia pasti sangat terluka."


"Aku tahu, jika aku bersalah, tetapi seharusnya dia memberiku waktu untuk menjelaskan," desah Raka.


"Wanita menggunakan perasaannya bukan pikirannya. Saat ini dia kalut mungkin setelah tenang dia akan kembali," ujar Faira mencoba menenangkan Raka.


"Dia mengatakan tentang perpisahan," lirih Raka getir.


Faira tersenyum tipis. Kakaknya terlihat sangat berbeda ketika menghadapi masalah dengan Intan. Biasanya dia akan cuek dengan wanita yang meninggalkannya tetapi dia terlihat patah hati.


Berharap kakaknya akan berubah menjadi pria yang lebih baik semenjak hari ini. Tidak lagi mempermainkan para wanita. Dia sendiri lelah melihat Raka yang terus-menerus berganti wanita. Dia ingin melihat kakaknya punya keluarga kecil yang bahagia.


"Ya, sudah kau cari istri lain saja. Bukankah katamu dia itu wanita yang judes dan galak. Setelah dia pergi, kau bisa mencari wanita yang lembut dan penyayang."


Raka terdiam tidak menanggapi gurauan Faira. Hatinya benar-benar sakit ditinggal pergi oleh Intan begitu saja. Dan berani benar dia mengatakan kalimat perpisahan padanya. Sampai kapanpun dia tidak akan mengucapkan kata cerai pada wanita itu.


"Aku akan kebawah, jika aku melihat Robin akan kuhajar dia habis-habisan karena telah membawa istriku pergi."


"Dia tidak bersalah karena Intan yang ingin pergi darimu. Kau yang harus mencari wanita itu jika kau memang mencintainya dan membuktikan jika kau telah berubah. Tetapi saranku cari saja wanita lain untuk kau jadikan istri karena sepertinya Intan banyak yang menyukainya," kata Faira menabur garam ke luka Raka.


"Sialan kau! Bukannya menenangkan kakakmu malah membuatku semakin panas."


"Itulah ruginya menikah siri bilang pisah saja langsung berpisah tidak perlu memakai proses. Sekarang kau bisa puas bermain wanita lagi," sindir Faira.


"Pusing aku mendengar celotehanmu," ujar Raka. Dia lalu berjalan meninggalkan ruang rias itu menuju ke ballroom hotel tempat diadakannya acara resepsi pernikahan Faira.


Ketika dia masuk ke dalam matanya langsung mencari sosok Robin. Pria yang telah membawa lari istrinya belum juga dia menemukan pria itu malah Evan mendekat.


"Aku titip Ello dulu ya," kata Evan.


"Om Evan tidak memperbolehkan aku makan kue yang tinggi itu," kata Ello.


"Bukan tidak boleh Sayang, kue itu akan dipotong dulu bersama Mom nanti, seperti perayaan ulang tahun setelah itu baru boleh dimakan," terang Evan. Dia lalu menghadap ke arah Raka.


"Aku harus menemui beberapa tamu penting," kata Evan memelas.


"Ello kita cari kue cokelat kesenanganmu di sana yuk, Om Raka tadi melihat ada bentuk yang lucu dan enak untuk dimakan," bujuk Raka.


"Ehmm, baiklah," kata Ello ragu tapi melepaskan genggamannya pada Evan dan beralih pada Raka.


"Robin apakah sudah datang?" tanya Raka.


Raka mengusap wajahnya kasar.


"Aku akan menghajarnya habis-habisan karena telah menyembunyikan Intan dariku."


"Kata Ditya Intan sudah pergi dari negara ini," ujar Evan membuat wajah Raka memucat.


"Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak tahu tentang masalah ini."


"Kau bisa membicarakan masalah ini padanya. Tanyakan dengan baik dimana keberadaan Intan," lanjut pria itu.


"Semua orang sepertinya ingin menyembunyikan keberadaan istriku," kesal Raka.


"Kau harus mendekati Ditya untuk tahu informasi tentang keberadaannya jika kau memang ingin agar dia kembali lagi."


"Terserah pada wanita itu jika mau pergi. Aku tidak akan mengejarnya apalagi meminta tolong pada Ditya. Pantang bagiku melakukannya." Raka merasa sakit hati akibat kelakuan Intan yang lebih memilih bantuan orang-orang yang tidak disukai.


"Om. Ayuk pergi," tarik Ello pada Raka.


"Kita bicarakan masalah ini lagi nanti," kata Evan.


Raka lalu mengikuti langkah kaki Ello dengan berat. Dia bisa melihat Ditya sedang berada di sudut ruangan lain tersenyum pada orang di sebelahnya. Ingin rasanya dia bertanya pada pria itu namun rasa gengsinya lebih tinggi dari apapun. Harga dirinya akan turun jika dia meminta tolong pada Ditya. Pria itu pasti akan menjadikan ini sebagai alasan untuk menekan dan menghinanya.


Masih banyak wanita lain, bukan hanya Intan saja. Dia hanya butuh waktu untuk melupakannya. Pikir Raka. Namun hatinya mengatakan lain, jika keadaannya tidak baik-baik saja sepeninggal wanita itu.


Faira masuk ke tempat resepsi tepuk tangan terdengar menyambut kedatangannya. Raka sempat melihat Robin berdiri di sudut ruangan lain bersama dengan Alberth. Ingin rasanya Raka mendekat ke arah mereka namun dia harus menyerahkan Ello pada Evan karena anak ini, ingin ikut memotong kue.


Acara potong kue akan dilakukan. Raka berdiri tidak jauh dari keberadaan adiknya. Semua tampak sempurna. Senyuman lebar terlihat dari keluarga kecil itu ketika memegang pisau.


Raka mendengar derit suara besi yang beradu. Dia mencari asal suara. Lalu tatapannya tertuju pada lampu gantung kristal raksasa yang berada di atas keluarga Evan.


Belum juga Raka sempat memberi aba-aba lampu itu jatuh mengenai mereka.


Pyar!


Raka panik. Dia langsung berlari ke arah adiknya dan mengangkat lampu itu. Tubuh Evan menjadi penghalang lampu itu mengenai adik dan keponakannya.


"Tolong mereka... " teriak Raka dengan mata yang memerah. Dia langsung menarik tubuh kecil Ello. Untung saja dia tidak terluka hanya shock.


Raka melihat Ditya yang mendekat ke arahnya. Dia langsung menyerahkan Ello pada pria itu.


"Bawa dia pergi dari sini dan rawat dia. Biar aku mengatasi ibu dan ayahnya," kata Raka.


"Semua akses pintu harap di tutup tidak ada yang boleh keluar dari hotel ini walau seekor tikus pun. Jangan ada yang mengambil foto dari kejadian ini," teriak Raka memberi arahan pada semua orang.


"Raka!" kata Ardianto memegang jantungnya karena terkejut melihat keadaan anak dan menantunya. Raka hanya mengusap tangan ayahnya agar tenang.


"Dokter, adakah yang berprofesi itu di sini?" seru Raka ketika lampu gantung itu berhasil di geser dan tubuh Evan yang tertimpa terlihat jelas.


Darah mengucur deras dari kepala Evan semua tidak tega melihatnya dan menutup matanya dengan tangan. Tubuhnya juga dipenuhi oleh pecahan beling.


"Cepat angkat dan bawa dia ke tempat aman," kata Raka mengangkat tubuh Evan dengan tangan yang gemetar. Dia melihat Faira juga pingsan namun sepertinya tidak terluka parah.