
Intan begitu terkejut ketika melihat Lusi menodongkan senjata ke arah mereka. Dia langsung berdiri menggendong Laura. Sedangkan Raka terlihat santai menahan senyumnya.
"Mom, apa yang kau lakukan?" tanya Intan terkejut.
"Itu seperti senjata yang di tembakkan di film kartun," pekik Laura dengan wajah lucunya meniru gerakan orang ketakutan di sebuah film komedi.
"Kau benar, senjata ini akan menghabisi kalian semua terutama kau, pembunuh anakku!" ujar Lusi dengan ibu jari di pelatuk pistol itu.
"Mom, kumohon jangan kau lakukan!"
"Aku bukan Ibumu."
"Tetapi aku sudah menganggap mu seperti orang tuaku sendiri!" ungkap Intan terkejut.
"Jika kau menganggapku sebagai Ibu mu seharusnya kau menuruti kata-kataku!" ujar Lusi sengit. "Kau berjanji untuk melupakannya tetapi apa yang kau lakukan? Kau malah berniat untuk kembali padanya. Kau hanya ingin menipuku, mungkin kau sudah merencanakan semua ini sedari kita ada di Bangka," ucap Lusi curiga.
"Demi Tuhan, Mom, kita bisa bicarakan ini baik-baik tidak usah menggunakan senjata," lirih Intan.
"Membicarakan baik-baik apa waktu dia membunuh suami dan anakku dia membicarakan ini terlebih dahulu padaku?" seru Lusi lantang.
"Apa sewaktu Alberth menyuruh seseorang untuk membunuh adikku sekeluarga dia membicarakan masalah ini terlebih dahulu pada kami. Atau setidaknya Robert mencegah perbuatan ayahnya? Tidak kan? Kau marah karena Evan dan keluarganya masih selamat serta hidup bahagia sedangkan kau hidup kesulitan selama ini, tanpa suami dan anak" ucap Raka dingin lalu menoleh dengan tatapan yang tajam dan dingin pada Lusi.
"Lalu kau mengambil keuntungan dari kepolosan Intan. Kau mengambil keuntungan. Kau memutar balikkan cerita seolah aku yang bersalah dalam hal ini dan mendulang simpatiknya. Aku tidak sebodoh itu untuk tahu apa yang telah kau rencanakan selama ini."
"Apa yang Raka katakan itu benar, Mom?"
"Dia benar, aku hanya memanfaatkanmu untuk menjatuhkannya," kata Lusi berterus terang membuat Intan terkejut.
"Bukan hanya aku tetapi kedua temanku juga melakukannya. Dewi, sangat membenci Raka karena dia, karir ayahnya di departemen kesehatan harus berakhir."
"Ayah dari istri Arik adalah salah satu pemilik perusahaan yang mengadakan vaksin untuk imunisasi anak-anak di seluruh Indonesia. Namun, Sayang, vaksin itu palsu dan perusahaan farmasi milik keluarga Dewi harus tutup. Oleh sebab itu, Dewi dan Arik pergi ke Bangka untuk menutup diri dari orang luar," terang Raka.
"Dewi juga berbohong padamu jika dia menderita sakit parah. Dia hanya memanfaatkanmu untuk bekerja di klinik milik mereka," imbuh Raka.
Intan hanya bisa membuka mulutnya lebar tidak percaya. Orang yang selama ini dia percaya malah memanfaatkannya.
"Apakah kau yang selama ini mengirimkan gambar Intan padaku?" tanya Raka.
"Bukan hanya aku, Dewi dan Arik pun ikut terlibat. Mereka bahkan memasukkan virus yang akan membunuhmu perlahan tanpa kau sadari," ucap Lusi penuh kemenangan.
"Mom, kau sangat jahat!" seru Intan.
"Kau baru tahu seperti apa aku ini?" Lusi hendak menarik pelatuknya ketika sebuah pisau bergerak cepat mengenai tangannya.
Dor! Sebuah tembakan mulai terdengar Raka segera menendang kursi dan menarik tangan Intan sehingga keduanya jatuh ke lantai.
"Akh!" teriak Lusi keras memegang tangannya yang berlumuran darah. Intan terpaku dalam tempatnya sedangkan Laura memeluk leher ibunya erat karena takut.