Affair (Faira)

Affair (Faira)
Parasit



Akhirnya setelah satu Minggu terpuruk dan shock Faira bisa menatap dunia lagi. Dia mulai kembali ke rumahnya bersama Ditya.


Raka mengantarnya sampai ke depan rumah. Tidak tega sebenarnya melihat keadaan Faira yang masih kacau. Cobaan demi cobaan datang bertubi-tubi memporak-porandakan hidup adiknya. Nasib seakan sedang senang mempermainkannya, membuatnya jatuh berkali-kali hingga tidak bisa bangkit.


Satu Minggu Faira mengurung diri dalam kamar menangisi semua yang terjadi dan Raka bertindak sebagai kakak yang baik dengan membuat adiknya tenang kembali. Walau dia, tidak yakin apakah adiknya akan bisa menikmati hidup lagi seperti dulu kala.


"Akhir kau pulang juga," sindir Ditya yang berdiri di ruang tamu. Faira tidak mengabaikan perkataan Ditya, dia memilih untuk berjalan terus tanpa melihat ke arah Ditya.


"Faira!" panggil Ditya keras. Faira tetap tidak mendengarkan panggilan Ditya dia terus naik ke atas sedangkan Cintya hanya melihat keributan itu dari pintu ruang tengah.


"Kau jangan berani berbuat kasar pada adikku!" seru Raka tersulut emosi.


"Aku suaminya berhak bertanya dari mana saja dia selama ini?" balas Ditya emosi.


"Memang kau peduli, bukankah kau tidak pernah memperdulikannya selama ini. Kau hanya peduli pada nilai sahammu dari pada adikku yang telah menolong dirimu. Dasar parasit."


"Kakak jangan membuat kesabaranku habis!" Mata Ditya mulai memerah tangannya di kepal keras.


"Ha ... ha ... ha ... ," tawa sumbang Raka. "Aninditya Maheswara. Dengar baik-baik urus saja wanita barumu dan jangan sakiti adikku lagi. Dia sudah lama terluka karenamu!" tuding Raka membuat wajah Ditya menggelap.


"Kenapa kau marah, aku akan katakan apa yang seharusnya aku katakan padamu dari dulu," seru Raka.


"Kakak, kumohon jangan!" teriak Faira turun kembali dari atas.


"Kakak, kumohon jangan lakukan!" pinta Faira memelas. Ditya menyatukan alisnya. Memang apa yang tidak dia ketahui yang Faira rahasiakan selama ini.


"Dengarkan aku Ditya, buka telingamu lebar-lebar," ujar Raka sambil menunjuk ke telinga Ditya.


"Faira pernah mendengar usahamu hampir bangkrut dan kau sudah mengajukan pinjaman ke mana saja namun tidak berhasil. Kau tahu mengapa karena perusahaanmu itu terlihat tidak ada harapan sama sekali saat itu."


"Kau tahu apa yang dilakukan adikku kala itu menjebakmu. Tanyakan padanya mengapa? Bukan karena dia mencintaimu, dia pikir hanya itu satu-satunya cara agar kau mau menikah dengannya dan ayah selaku pemilik dari Bank Diamond Internasional mau membantu perusahaanmu karena kau adalah menantunya."


Tubuh Ditya melemas dan hampir limbung ke belakang. Dia lalu menatap tidak percaya pada Faira.


Faira memandang ke arah Ditya dan menggelengkan kepalanya sembari mengeluarkan anakan sungai yang tidak ada habisnya.


"Ayah menggelontorkan banyak dana ke perusahaanmu dan dia merekomendasikan serta mempromosikan perusahaanmu ke banyak teman relasinya sehingga perusahaanmu berkembang dengan pesat. Kau kira kau yang memajukan usahamu itu? Tidak Ditya kau salah ini semua berkat Faira, wanita yang sudah kau sia-siakan hidupnya dan kau sakiti hatinya."


"Itulah mengapa Faira sabar menunggu perusahaanmu besar dan kuat, baru mengajukan cerai. Kau tahu mengapa? Karena dia tahu setelah bercerai darinya kau tidak akan mendapat keistimewaan dari ayah dan mungkin beberapa relasi mu akan pergi jika kau tidak bisa menjaga usahamu dengan baik."


"Kau paham dengan ucapanku Ditya. Kini kau tahu mengapa aku menjulukimu parasit karena seorang parasit akan menyerap indung semangnya hingga layu dan mati. Itulah dirimu."


"Sekarang aku titip Faira. Jaga dia dengan baik. Jangan pernah sakiti dia lagi! Jika aku melihat dia menangis karenamu, maka jangan salahkan aku jika dalam waktu beberapa jam saja perusahaanmu akan tinggal nama saja!" ancam Raka meninggalkan Faira dan Ditya.