Affair (Faira)

Affair (Faira)
Rasa yang Berbeda



Faira tertawa kecil sembari menutup mulutnya.


"Apa yang aku dapatkan dari menikah denganmu?" tanya Faira.


"Perdebatan, permusuhan dan pertengkaran juga hinaan? Bisakah kau menawariku hal yang manis, seperti kehidupan yang tenang dan damai." Bibir Evan terkatup rapat mendengar kata-kata dari Faira. Yang diucapkan wanita itu benar adanya. Dia tidak menawarkan hidup yang nyaman dan aman.


"Dengan Ditya, cinta memang harus dibagi tetapi aku dan Ello mendapatkan ketenangan dalam hidup," lanjutnya.


"Aku memang tidak bisa menawarkan apapun padamu tetapi aku punya cinta yang hanya kupersembahkan padamu. Cinta sejati memang penuh dengan jurang yang terjal untuk mengujinya tetapi jika kau dan aku saling berpegangan tangan erat kita bisa melaluinya bersama," jawab Evan.


"Cinta, aku tidak percaya lagi dengan kata cinta," jawab Faira berjalan keluar dari ruangan itu.


"Aku akan mengenalkannya lagi padamu Faira apa itu cinta," gumam Evan.


Evan faham bagaimana perasaan Faira yang tersakiti karena dia pergi tanpa pamit dahulu menyebabkan wanita itu tidak lagi mempercayai kata-katanya.


Evan lalu duduk kembali ke kursi kebesarannya dan melihat dokumen yang tadi di berikan oleh Kendrick. Memeriksa semua hal terkait dengan masalah konspirasi ini. Dia sedang memikirkan langkah apa yang akan Albert lakukan ke depannya untuk menjatuhkan Evan lagi.


Mana ada ayah yang membenci anaknya sedemikan rupa. Tetapi Albert benar-benar melakukannya.


Setelah satu jam lamanya menunggu Evan bekerja membuat Faira bosan sendiri. Tidak ada handphone atau apapun yang bisa dia gunakan untuk mengusir kebosanan itu. Ello sendiri sedang asik bermain dengan para bodyguard Evan bersama Kendrick di ruangan lain.


"Kau membuatku mati bosan di sini!" gerutu Faira membuat Evan menghentikan gerakannya dan meletakkan pena di meja. Dia berdiri dan berjalan mendekati Faira yang sedang duduk santai dengan memegang remot TV.


"Kau mau apa?" tanya Evan yang sudah duduk di sebelah Faira dan mengambil jus yang telah Faira minum.


"Itu minumanku," ucap Faira keberatan.


"Tidak apa-apa, ada bekas manis bibirmu di sini," rayu Evan seperti dulu tetapi tidak membuat Faira berbunga-bunga lagi.


"Apakah perlu kita bercinta agar kebosananmu itu hilang?" goda Evan.


"Sifat mesummu dari dulu belum hilang juga."


"Mati suri ketika kau pergi dan kini hidup lagi bila bersamamu," jawab Evan.


"Aku tidak pernah melihat wanita lain kecuali dirimu," kata Evan.


"Kau bohong!" Evan mengernyitkan keningnya.


"Buktinya kau masih melihat Hana," jawab Faira.


"Itu beda konteks," ujar Evan, kepala di letakkan pada sandaran kursi.


"Lalu kenapa kau bertunangan dengan Lin?" entah mengapa pertanyaan itu tiba-tiba menggelitik sanubari Faira.


"Karena aku butuh dia untuk mengalahkan ayah pada waktu itu. Tuan Xie, adalah ayah Lin dia punya sepuluh persen saham di perusahaan ini. Jika aku bersama dengan Lin maka Albert akan kalah suara denganku."


"Lalu kenapa kau memilihku saat ini? Apa karena kau merasa tidak membutuhkan Lin lagi?" tanya Faira. Evan memiringkan tubuhnya menatap ke arah Faira satu tangannya yang berada di sandaran sofa membenahi segelintir Surai hitam Faira yang menutupi wajahnya.


"Dari awal aku memilihmu, hanya dirimu yang berhak mendapatkan hatiku hanya saja takdir memisahkan kita dan aku harap kau tidak membuat takdir itu memisahkan kita lagi. Selain kita, ada Ello yang butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya."


"Aku tahu dengan baik masalah Ello," ujar Faira.


"Evan apakah kau pernah tidur dengan wanita lain selain aku setelah itu?" lirih Faira membuat Evan terkejut. Pria itu terlihat pucat dan menelan Salivanya dalam-dalam.


"Aku jawab jujur walaupun itu akan menyakiti mu. Aku pernah tidur dengan Lin hanya satu kali saja itupun karena aku mabuk berat dan itu sudah satu tahun yang lalu sewaktu ada perayaan ulang tahun perusahaan ini. Lin benar-benar membuatku mabuk. Namun, besoknya dia marah-marah karena aku memanggil nama perempuan lain ketika bersamanya dan nama wanita itu adakah kau," jawab Evan jujur.


Apakah ini hal yang membahagiakan atau tidak Faira tidak tahu, hanya saja dia merasa bahwa apa yang dikatakan Evan memang benar adanya tidak ada letak kebohongan sedikitpun.


"Aku membayangkan jika itu kau Faira, jika saja kau tahu betapa aku sangat merindukanmu."


"Berilah aku satu kesempatan lagi untuk membuktikan semuanya," kata Evan sembari menangkup wajah Faira dan menatap manik mata Onyx yang ada dihadapannya.


"Jangan katakan sesuatu cukup ungkapkan dengan ciuman," kata Evan lalu mendekatkan bibirnya pada bibir Faira membuat wanita itu terkejut dengan serangan yang mendadak.


Panas, lembut dan memabukkan rasa yang Faira terima ketika bibir tebal itu mulai menyesap labium merah miliknya. Pikiran Faira mulai bekerja untuk menolak, namun tubuh dan hatinya menginginkan lain. Dia menikmatinya. Hanya seorang Evan saja yang pernah menyentuh dan memilikinya selama ini. Hingga kini tubuh Faira merasakan hal berbeda tiap kali bersentuhan dengan nya.


Rasa yang tidak sama jika dia bersama Ditya. Dia tidak pernah merasa gairahnya muncul jika bersama mantan suaminya walau dia berusaha. Untuk dicium bibir saja dia enggan untuk menerimanya dari Ditya. Apalagi pria lain yang tidak dia kenal dekat.