Affair (Faira)

Affair (Faira)
Sebuah Alasan



"Tidak biarkan dia di sini untuk mendengar semuanya," kata Ditya.


"Faira hanya ingin melihat kebahagiaan Mas Ditya maka jangan halangi kami untuk melakukan ini," pinta Faira menahan air mata yang sudah mengembun di netranya.


"Kau lihat ketulusan dimata istrimu dan kau malah mengkhianatinya!" seru Radit pada anaknya.


"Ayah yakin kau tidak akan memperoleh perempuan sebaik Faira lagi jika kau sampai melepaskannya. Dan wanita itu tidak ada apa apanya jika dibanding Faira," tunjuk Radit pada Cintya.


"Dari pribadi karakter dan kecantikan Faira jauh melebihi wanita itu, Ditya sadarlah... sebelum semuanya terlambat," kata Tri mengusap air matanya.


"Aku tidak berniat melepas Faira tapi aku juga tidak bisa hidup tanpa cintaku," jawab Ditya santai. Cintya yang mengira dirinya akan menjadi satu-satunya setelah Faira pergi menengadahkan wajahnya. Kenyataan dia akan menjadi madu kedua bagi Ditya membuat dia ragu untuk melangkah ke depan. Namun, dia sudah masuk ke dalam kubangan lumpur tidak bisa kembali lagi. Rasa penyesalan menghimpit dada Cintya. Dia tidak ingin menjadi istri kedua tetapi dia tidak bisa meninggalkan Ditya setelah mereka bertemu.


"Kau tidak bisa egois, Ditya!" geram Radit dengan nada suara tinggi.


"Jika mereka tidak berkeberatan maka itu tidak ada salahnya kan Bu, yah," jawab Ditya santai.


"Kau tidak bisa menyakiti keduanya, tetap saja kau akan condong pada satu sisi," sela Ibu Tri.


"Faira kau tidak keberatan jika aku duakan bukan?" tanya Ditya menatap Faira. Faira terkejut karena bola panas itu kini diarahkan kepadanya. Dia lalu melihat ke arah Ayah Radit dan Ibu Tri bergantian. Wajah mereka terlihat mengeras.


Jika dia mengatakan keberatan, maka akan timbul masalah baru jika iya mengiyakan maka itu seperti buah simalakama untuknya. Semua mata menatap ke arahnya, Cyntia terlihat menggelengkan kepalanya.


Faira hanya mengangguk lemas. Cintya lalu menutup wajahnya, dadanya terasa panas dan sesak. Ini lah yang dia takutkan menjadi wanita kedua dalam rumah tangga seseorang.


Ibu Tri bisa melihat kesedihan di mata menantunya. "Mungkin Faira ditekan oleh Ditya sebaiknya aku akan berbicara dengannya nanti setelah keadaan kondusif," batin mamah Faira.


" Aku bisa pergi dari kehidupan kalian," kata Cintya tiba-tiba


"Tidak" jawab Faira dan Ditya bersamaan. Menimbulkan kebingungan bagi kedua mertuanya.


"Wanita ini tidak sedang hamil 'kan?" seru Radit curiga.


"Aku tidak yakin, Yah," Faira sambil melihat Ditya dan Cintya. "Kalau dia hamil apakah tega jika cucu kalian hidupnya terkatung-katung tanpa menyandang nama ayahnya dan tanpa ada yang mendampingi hidupnya hingga dewasa," ujar Faira memberi satu alasan tepat agar orang tua Ditya menerima pernikahan ini


"Kau itu selalu bisa membuat orang tua ini terdiam. Jika sampai ayahmu tahu, bagaimana caraku untuk menjelaskannya. Hilang wajahku di depan mereka. Kau adalah permata keluarga itu, ayahmu tidak akan menerima jika kau sampai tersakiti?"


"Aku yang akan menjelaskannya pada ayah, Yah?" ucap Faira terlihat yakin dengan keputusannya. Membuat Radit dan Tri bingung. Mereka ingin membela Faira dari ketidak Adilan ini tetapi yang dibela malah menolaknya. Ini sebuah kepolosan atau sebuah kebodohan, batin Radit kesal pada Faira.


"Aku juga sayang kalian, hanya saja ini urusan rumah tangga kami," kata Faira.


"Aku sebagai orang tua juga berhak meluruskan kesalahan anak-anaknya," kata Radit tersinggung.


"Aku tahu Yah, hanya saja ini keputusan kami berdua dan kami harap kalian mau menerimanya dan merestui pernikahan ini," lanjut Faira.


"Ya, sudah jika kau menginginkan ini. Saran Ibu, jika anak bodoh ini jadi menikah lagi bercerai lah dengannya karena Ibu orang yang paling menentang keras dengan poligami. Ibu akan membantu menguruskannya dan Ibu yang akan mendampingimu bukan anak tidak tahu diri ini. Mamah tidak tega melihatmu terus menerus terluka oleh tingkahnya," akhirnya kata-kata yang ditahannya dari tadi keluar juga.


Faira terlihat bingung oleh ucapan mertuanya. "Selama ini, aku hidup baik-baik saja dengan Mas Ditya dia selalu memperhatikan aku dan berusaha untuk selalu membahagiakan aku."


"Hentikan kebohonganmu Faira!" bentak Tri pada Faira membuat menantunya terkejut dan memutih wajahnya.


Radit hanya duduk bersedekap dan melihat reaksi anaknya.


"Kalian kira kami tidak memantau kehidupan kalian di sini?" sudut Tri. Faira melihat ke arah Ditya tidak mengerti. Wajah Ditya pun terlihat menegang. Cintya lalu menghentikan tangisnya dan menegakkan tubuh. Dia menunggu jawaban apa yang akan Faira berikan.


"Kami memantau kehidupan kalian dari CCTV yang diletakkan tersembunyi di setiap ruangan yang krusial," lanjut Radit menunduk melihat sepatunya.


Wajah Faira dan Ditya terlihat terkejut. Radit lalu menatap sepasang suami istri itu.


"Bukankah terakhir kali kau berada di rumahmu satu dua Minggu kemarin Radit, kau meninggalkan Faira di teras rumah dalam keadaan menangis. Dia memohon dan mengejarmu hingga terjatuh tetapi kau tidak melihat ke arahnya sedikit pun," terang Radit.


Wajah Ditya memucat seketika, bahunya turun ke bawah. Dia menundukkan wajahnya malu mendengar semua perkataan ayahnya benar adanya.


"Maaf Yah, aku tidak bermaksud seperti itu," ujar Ditya.


"Jika sekali kau melakukannya aku harus maklum tetapi kau telah mengulangi kesalahan yang sama setiap harinya. Entah itu menghinanya, memaki dan bersikap kasar dengan perkataanmu itu," lanjut Radit kesal pada anaknya sendiri. Tatapan Ditya makin turun kebawah. Penyesalan sekarang ini sudah tidak ada gunanya lagi.


Faira tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia memeluk tubuh mertuanya, wanita yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Tubuhnya gemetar dan tangisnya terdengar semakin keras. Perasaan yang selama ini dia tahan dia keluarkan. Membuat suasana terasa menyedihkan.


Kegelapan, kesedihan, kekecewaan yang menyesakkan dadanya ternyata diketahui oleh orang tua Ditya. " Bu, ... " Faira menengadahkan kepalanya menatap kedua mata mertuanya secara bergantian lalu memegang kedua tangan mereka. Dia tersenyum sembari meneteskan air mata.


Tri sangat kecewa pada anaknya berharap bahwa anaknya akan berubah dan menerima istrinya. Tapi yang dilakukan anaknya sungguh mengecewakannya. Anaknya lebih memilih wanita lain dan menyakiti istrinya sendiri, istri sempurna yang telah dia pilihkan untuk putranya malah akan dibuang.


Tri sendiri yang hanya sebagai mertua tidak tega dan merasakan penderitaan Faira, bagaimana jika ayah Faira mengetahuinya, Yani tidak bisa menebak kehancuran apa yang akan didapatkan oleh anaknya. Faira yang malang, kau hidup tanpa pernah kesusahan kini hidupmu seperti di dalam jurang gelap yang dalam sehingga dirimu akan sulit keluar dari dalam jurang itu.