Affair (Faira)

Affair (Faira)
Pria Sejati



Evan ingin memegang pundak Faira namun tubuh Faira mundur seketika.


"Faira!" panggil Ditya dari kejauhan.


"Ya, aku disini," seru Faira. Menatap ke arah Evan. Evan melihat ke arah pria itu.


"Oh, kau rupanya di situ. Apakah kau sudah menemukan mereka?" tanya Ditya mendekat.


"Belum," kata Faira terpaku di tempatnya, dia tidak tahu harus melakukan apa.


"Kalau begitu mengapa kau masih berdiri di sini," ucap Ditya. Mata Ditya lalu melihat ke arah Evan. Dia sedikit terkejut namun menyembunyikannya.


Ditya lalu merengkuh pinggang Faira lembut dan menariknya pergi. Tangan Evan mengepal ketika melihatnya. Hatinya tidak terima melihat pujaan hatinya telah hidup bahagia bersama seorang pria.


"Bukankah itu 'dia'?" tanya Ditya.


Dada Faira terasa sesak, dia menatap Ditya yang terlihat posesif lalu menganggukkan kepalanya.


"Kau?" tebak Ditya yang mengira jika Faira dan Evan telah membuat janji di mall ini.


"Aku juga tidak sengaja bertemu dengannya!" potong Faira.


Ditya menghela nafasnya sembari memejamkan mata. Faira sempat menoleh ke belakang untuk melihat Evan lagi.


"Apa kau masih mencintainya?" tanya Ditya.


Faira melihat ke arah Ditya. "Apakah aku pernah berkata jika aku mencintainya?" tanya balik Faira.


Ditya lalu terdiam. Mereka berjalan ke arah lantai atas Mall. Sebuah panggilan mampir ke handphone Faira.


"Cintya dimana kalian?" tanya Faira.


"Kami sudah menunggu kalian di tempat parkir."


"Pantas aku mencari kalian di lantai atas kok sudah tidak ada," ujar Faira.


"Kami akan kebawah," ucap Ditya mereka lalu berjalan ke bawah sembari bergandengan tangan. Hal itu terlihat oleh Evan yang mengikuti Faira semenjak tadi.


"Tidak aku hanya ingin menemukan mereka," ujar Faira tetapi pikirannya ingin segera pergi dari sana karena tidak ingin bertemu dengan Evan lagi. Pria yang telah meninggalkannya setelah dia menyerahkan diri dengan sepenuh hati.


Faira takut jika Evan melihat putra mereka tadi. Tetapi tidak mungkin kan? Karena mall sangat besar selain itu Evan pasti tidak tahu jika itu adalah anaknya karena Ello bersama Cintya bukan dirinya.


Faira dan Ditya lalu melihat mobil milik mereka yang terparkir di depan pintu mall. Di sana anak-anak dan Cintya sudah masuk di dalam.


Faira lalu mendekati mobil itu dan melambai pada dua anak kecil yang berada di dalam.


Ella yang berada di pinggir mobil membuka pintu mobil.


"Mom, kau juga di sini?" tanya Ella.


"Iya, Mom dan Ayah langsung kemari setelah rapat selesai tadi," ujar Faira sembari masuk ke dalam mobil. Ditya masuk di kursi penumpang bagian depan.


"Pakai sabuk kalian!" perintah Ditya sebelum sopir menjalankan kendaraannya.


"Mom, Ello terjatuh dan berdarah." Ella mengadu pada Faira.


Faira lalu terlihat panik dan pucat mendengar namanya terluka.


'Bagaimana bisa?"


"Dia berlari cepat dan terpeleset jatuh inti saja ada Om tampan dan baik menutup luka Ello dengan sapu tangan," terang Ella dengan lancar.


Faira lalu melihat luka Ello.


"Dia tidak menangis Faira," kata Cintya.


"Aku yang salah karena telah membiarkan dia lepas dari pandanganku," ujar Cintya.


"Kau sudah melakukannya dengan baik Cintya seharusnya aku yang berterima kasih padamu karena telah mau merawat anakku," ujar Faira membuka sapu tangan itu dan melihat luka Ello.


"Pasti sakit sekali!" ujar Dara melihat luka Ello.


"Aku pria dan bisa menahan sakit," ujar Ello.