
"Jika kau melakukan hal seperti ini padaku, aku akan pastikan kau tidak akan menemukan aku atau Ello lagi!" teriak Faira murka sembari berderai air mata.
Evan lalu bergerak mundur, "Maaf!" kata pria itu lalu mengambil handuknya dan pergi dari kamar itu.
Sedangkan kaki Faira yang sudah lemas tidak lagi bisa menopang tubuhnya. Badannya luruh di lantai yang basah itu. Dia menangis keras sembari memaki Evan.
Hatinya terguncang. Dia adalah wanita yang ingin dihargai dan dicintai bukan hanya sebagai pemuas hawa nafsu seorang lelaki. Tindakan Evan sangat melukai hatinya.
"Aku benci kau, aku benci kau yang menyentuh tubuhku," kata Faira sembari mengusap kulitnya keras. Dia berusaha menyingkirkan bayangan Evan yang menyentuhnya. Walau sesaat dia menikmati namun pemaksaan yang dilakukan Evan terakhir kalinya membuat pikirannya kepada pria itu kembali buruk.
Antara benci dan cinta itu tipis. Dia tidak bisa menerima pria lain lagi setelah Evan namun tidak berarti dia memaafkan apa yang telah dia lakukan bertahun-tahun lalu. Walau dia telah mengatakan alasannya namun dia masih tetap bersalah. Evan bisa saja membangunkannya dan mengatakan apa yang terjadi sebelum pergi, bukannya meninggalkannya tanpa kabar setelah malam pertama mereka.
Tengah malam setelah memeriksa pekerjaannya Evan menengok ke kamar Faira dan melihat anak serta wanita yang dicintainya tertidur pulas.
Dia ingin mendekat namun dia takut jika wanita itu kembali marah padanya. Apa yang harus dia lakukan?
Evan tidak tahu harus berbuat apa, dia lalu membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu, baru beberapa langkah dia membalikkan tubuh lagi dan masuk ke dalam kamar dengan hati-hati. Dia memastikan Faira tertidur pulas setelah itu dengan gerakan sangat lembut dan halus dia naik ke atas tempat itu, berbaring di sisi Ello yang lain dan mulai memejamkan matanya.
Dia adalah penderita insomnia yang parah. Sangat jarang baginya tertidur lelap di tempat tidur. Jika pun iya dia hanya akan tertidur satu atau dua jam saja. Berbagai pengobatan telah dia lakukan namun hasilnya nihil.
Lama dia memandang ibu dan anak itu hingga tanpa sadar matanya ikut terpejam. Terasa tenang, damai dan nyaman itu yang dia rasakan. Lama-lama dia mulai larut dalam mimpinya.
***
"Evan bangun, ini bukan saatnya kau tidur. Kau harus menghafalkan istilah dalam perusahaan itu dengan baik," tegas Albert, ayah Evan.
"Daddy, aku sedang sakit, kepalaku terasa pusing. Aku lelah setelah sekolah dan pergi ke tempat les," lirih Evan kecil sembari memegang kepalanya.
"Bagaimana kau akan menjadi penerus Mountain. Inc jika kau hanya tidur dan malas-malasan saja," seru Albert keras.
"Daddy, sudah malam biarkan aku istirahat," pinta Evan. Albert berjongkok.
"Tidak! Kau akan tidur setelah menghafal isi buku ini!"
"Daddy ku mohon, aku sangat lelah,'' cicit Evan.
"Aku sekarang mengerti mengapa Mom pergi dari Daddy. Daddy selalu bertindak keras padanya dan mengekang keinginannya!" geram Evan. Mata Albert menggelap seketika.
"Kau ingin membantah pada Daddy!" teriak Albert mencekik leher kecil Evan.
"Dad-dy," ucap Evan tercekat. Albert lalu mendorong tubuh kecil Evan ke belakang sehingga jatuh di lantai dan terbentur meja belajar.
Albert yang sedang mabuk lalu menarik ikat pinggangnya. Dia lalu menyabetkan ikat itu ke udara.
"Apa kau sedang mengejek Daddy karena kepergian wanita ****** itu?" murka Alberth. Dia lalu mulai menyabetkan ikat pinggang itu ke tubuh Evan berkali-kali.
"Tidak Daddy, ampuni aku, jangan Daddy," teriak Evan keras.
***
"Ampun Daddy," gumam di sela tidurnya Evan sambil menutup matanya rapat. Tubuhnya meringkuk dan sudut matanya sudah basah.
Faira terkejut mendengar suara Evan. Dia terbangun dan melihat Evan yang sedang mengingat dalam tidurnya. Untung saja Ello tidur pulas tidak mendengar suara Evan.
Faira lalu bangkit dan menggeser tubuh Ello ke sisinya. Dia lalu mengambil bantal guling dan meletakkannya di pinggir tempat tidur Ello. Setelah itu dia pindah ke tengah diantara Ello dan Evan.
Faira mengerutkan dahinya mendengar ceracau Evan. Keringat dingin membasahi keningnya. Tangan Faira lalu mengusap jejak air di sudut mata Evan. Tangannya masuk ke dalam sela rambut pria itu dan mencondongkan tubuhnya sembari mengatakan," Tenanglah aku ada di sini tidak akan ada yang bisa melukaimu."
"Ibu, jangan tinggalkan aku!" ucap Evan sembari memeluk tubuh Faira. Faira terkejut. Namun, dia membiarkan saja. Dia mengusap punggung Evan pelan. Ikut berbaring dan menatap wajah Evan sendu.
Faira tidak mengenal siapa Evan tetapi hatinya mengatakan jika pria ini pria yang baik. Hanya saja, masih banyak misteri yang dia harus ungkap mengenai diri Evan.
Sudah sepantasnya dia tidak menghujat sebelum mengetahui kejadian apa yang menyebabkan Evan meninggalkannya.
Faira sudah mendengar dari Evan jika pria itu dalam keadaan bahaya sehingga meninggalkannya. Setelah itu dia mengalami kecelakaan. Okey, Faira akan mencari tahu semuanya. Setelah itu baru dia akan menentukan keputusannya. Apakah dia akan hidup bersama pria itu atau dia akan mencari kehidupan yang lebih baik?
Tidak akan mencintai jika tidak mengenal.
Mencintai seseorang itu bukan karena kesempurnaannya tetapi cinta sejati itu tersembunyi dalam kekurangannya.