Affair (Faira)

Affair (Faira)
Ikatan Batin



Raka terdiam sejenak. Dia hanya menghela nafas.


"Aku akan menjelaskannya nanti tapi tidak sekarang. Ku mohon bersiaplah terlebih dahulu," ucap pria itu tenang lalu melangkah pergi ke pintu dan Intan hanya bersandar lemas di tembok kamar mandi menyesali kebodohannya karena telah diperalat oleh Raka.


Sedangkan di luar hotel tepatnya ketika Raka sudah berada di dalam mobil jemputan bersama dengan ayahnya, Raka berbicara dengan Ardianto dari hati ke hati. Hal yang sudah lama mereka tidak lakukan.


"Apa hubungan kalian itu memang sudah dekat sebelumnya, ayah lihat kalian saling bisa menerima sekarang."


Raka menghela nafas.


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Namun, tadi Intan sudah tahu jika kami memang tidak pernah tidur bersama!" ujar Raka.


"Dan itu jadi masalahmu?"


Raka menganggukkan kepala. Dia melihat keluar jendela. "Dia bisa saja mengungkap ke publik jika dia masih virgin dan tidak terlibat dengan skandal ini."


"Namun, kalian sudah mengungkap ke publik jika kalian sudah menikah, wanita itu tidak bisa menyangkalnya. Lagi pula kau sudah ke rumah orang tuanya dan mereka juga sudah menyetujuinya."


"Itulah yang membuat langkahku ragu untuk meneruskan. Dia terlalu baik untuk kurusak," kata Raka.


"Jika seperti itu maka rawat dan jaga dia dengan baik, bukan kau rusak," ujar Ardianto.


"Aku tidak bisa karena aku tidak mencintainya," jawab Raka.


"Kau yakin jika kau tidak akan jatuh cinta padanya? Saran ayah tunggulah beberapa bulan dan tanyakan kepada hatimu lagi, apakah kau mencintainya atau tidak?" ujar Ardianto. Raka menatap ayahnya.


"Kenapa ayah yakin sekali?"


"Karena dia berbeda dengan wanitamu yang lainnya. Dia bisa mengendalikan mu tanpa kau sadari."


"Dia seperti Faira dan ibumu yang akan menjaga diri dan keluarganya serta setia pada pasangannya," lanjut Ardianto menepuk paha Raka.


"Kau akan menyesal bila kehilangannya," imbuhnya lagi.


Mereka akhirnya terdiam hingga hampir sampai di depan rumah kakek Evan.


"Yah, jangan ceritakan masalah ini pada Faira," kata Raka.


"Masalah pernikahanmu?" Raka menganggukkan kepala.


"Kenapa? Faira pasti akan senang sekali mendengar kau sudah menikah."


"Ini hanya pernikahan palsu bukan asli. Hanya demi nama baik kita agar kembali pulih," ungkap Raka.


"Kau benar-benar mau melepaskan gadis itu," tanya Ardianto.


"Aku sudah janji padanya akan menyerahkannya pada pria tepat yang mencintainya," kata Anjani.


"Ya, sudahlah aku harap kau tidak akan menyesal ketika melakukannya," kata Ardianto. "Namun, bagaimana dengan nasib pernikahanmu selanjutnya? publik pasti menunggu peresmian pernikahan kalian."


"Jika Intan tetap mau melanjutkan ke jenjang itu, aku akan melakukannya. Walau setelahnya kami harus bercerai," kata Raka lesu.


"Menikah untuk bercerai, kalian persis seperti artis jaman sekarang yang menikah hanya untuk menutupi kesalahan atau memperoleh keuntungan," sindir Ardianto.


Setelah itu mereka turun dan sudah di sambut Evan dan Bibi Marry.


"Om," sapa Evan pada Ardianto menjabat tangannya.


"Jika ingin restu cium tangannya Van," kata Raka memberi tahu tradisi masyarakat Indonesia.


Evan lalu mencium tangan Ardianto dan memeluk Raka.


"Ye lah, tahu dari dulu kamu yang akan menikah dengan adikku, sudah ku kenalkan dari awal. Dari pada Faira sama Ditya itu, pria yang hanya bisa menyakiti Faira."


"Raka, sudah jangan bahas masa lalu," kata Ardianto.


"Sudahlah, ini semua terjadi juga berkat bantuan pria itu," kata Evan.


"Memang dia minta apa dari kamu sebagai imbalannya, secara dia pria yang tidak kau rugi," ucap Raka lagi.


Mereka lalu mendekat ke arah Bibi Marry yang menunggu di depan pintu.


"Selamat datang ke rumah kami yang sederhana ini," kata Bibi Marry.


" Sederhana namun indah seindah pemiliknya," kata Ardianto mengambil tangan Bibi Marry dan mengecupnya.


"Anda bisa saja Tuan, mari silahkan masuk. Faira sedang di rias." Mereka semua lantas masuk ke dalam rumah yang lantainya terbuat dari kayu ek. Menyapu pandangannya ke seluruh sudut rumah. Banyak sekali lukisan yang dipajang di saja. Mereka semua kagum pada penataan rumah ini. Kecil namun bernuansa klasik yang indah dan bercitarasa selera tinggi.


"Lukisan itu koleksi Ayah, jadi kami membawanya kemari dari rumah utama kami yang dulu," kata Bibi Marry.


"Dulu kami tinggal di sebuah mansion bersama keluarga besar, hanya saja Bibi ingin pindah dan tinggal sendiri bersama Kakek," jelas Evan.


"Aku ingin fokus merawat ayah tanpa diganggu oleh yang lain," kata Bibi Marry.


"Lalu dimana Kakekmu?" tanya Ardianto.


"Penyakitnya sedang kambuh jadi sulit membujuknya untuk memakai pakaian lengkap."


"Memang sakit apa kakekmu Evan?" tanya Raka.


"Alzheimer," jawab Evan. Ardianto dan Raka menganggukkan kepalanya.


"Om, Raka," teriak Ello dari lantai atas anak itu lantas berlari cepat ke bawah. Raka mendekati tangga dan langsung menggendong keponakannya.


"Jagoan Om, sekarang tinggal jauh dari Om," kata Raka.


"Iya, diajak oleh Om Evan," kata Ello.


"Memang kau belum memberitahunya?" tanya Raka pada Evan.


"Tidak, biar dia terbiasa dulu dengan kehadiranku," jawab Evan.


"Kakek juga ikut kemari?" tanya Ello pada Ardianto. Pria paruh baya itu mendekat ke arah Ello dan mencium kedua pipinya. Anak itu kegelian karena kumis di atas bibir Ardianto yang lebat.


"Kakek kemari karena merindukan Cucu kakek yang bawel ini," ujar Ardianto.


"Hi... hi... hi... geli Kakek," kata Ello.


"Di mana Mom mu?" tanya Ardianto gemas.


"Mom, sedang bersama para wanita, dia sedang diberi warna-warna," jelas Ello.


"Oh, di beri warna-warna," kata mereka semua tertawa kecil.


"Rumah ini terlihat ceria ketika dia datang," ungkap Bibi Marry.


"Dia memang membuat suasana berbeda. Kami juga merindukannya jika lama tidak bertemu," ujar Ardianto lagi.


"Biar ayah yang menggendongnya," pinta Ardianto pada Raka. Raka lalu menyerahkan keponakannya dan berjalan mendekati Evan.


Evan mengambil sebotol minuman, menuangkannya pada sloki, menyerahkannya pada Raka.


"Ini masih pagi dan aku mau segelas kopi saja," kata Raka.


"Ku kira kau butuh, karena kau terlihat sangat kacau," ucap Evan.


"Benarkah?" tanya Raka balik.


"Kita sudah lama saling mengenal dan kita tidak bisa menyembunyikan kegelisahan dari satu sama lain," terang Evan lalu menyuruh salah satu pelayan yang mereka sewa untuk hari ini membawakan kopi.


"Mungkin karena kita ditakdirkan jadi satu keluarga sehingga ikatan batin itu ada," ujar Raka.


"Lalu apa yang membuat pikiranmu kacau?" tanya Evan. "Jangan katakan jika kau memikirkan seorang wanita?" tebak Evan.


Wajah Raka terlihat kelimpungan Evan tahu saja apa yang dia pikirkan.


"Katakan siapa wanita itu, jika perlu aku akan melamarkannya untukmu," kata Evan.