
Intan lalu melangkah kembali masuk ke dalam ruangan itu. Dia meletakkan tiga cangkir ke atas meja dan memberikannya pada Lusi, Raka serta satu untuk dirinya sendiri. Dia lalu duduk di kursi.
"Cakenya enak, Om," kata Laura.
"Kalau makan sambil duduk, Sayang," beritahu Intan. Laura akhirnya berjalan ke arah kursi Intan tetapi tangan Raka memegangnya.
"Duduk di sini saja," kata Raka.
"Dipangku Om lagi?" ucap Laura polos.
"Bukan Om, Ayah," kata Raka membuat Intan dan Lisa membuka mulutnya terkejut. Raka dengan cepat memutuskan semuanya sendiri.
"Ayah? Aku sudah punya Ayah?" ucap Laura tidak mengerti. Intan ingin mengatakan sesuatu tetapi Raka merenggangkan tangan ke arahnya.
"Ada Ibu dan Ayah, mereka adalah orang tuamu. Ayah yang di sana adalah ayah yang membesarkanmu sedangkan aku adalah ayah yang menyebabkan kau ada di dunia ini. Darahku mengalir dalam dirimu. Lihat wajahmu saja seperti aku dalam versi wanita, seperti wajah Bibi mu Faira, adik Ayah. Hanya saja mimik dan mata sama seperti ibu. Rambutmu juga seperti Ibu," terang Raka. Laura menatap Intan yang sedang mengigit bibirnya sendiri menunggu jawaban dari Intan.
"Kau ingat pernah bertanya apakah aku punya anak? Kau adalah anakku yang selama ini kucari." Mata Raka menatap sayu pada Laura berharap semoga dia bisa menerima dirinya. Dadanya merasa sesak jika harus di panggil Om. Dia tidak bisa menerima hal itu lebih lama lagi.
"Ibu, apakah aku adalah anaknya?" tanya Laura. Raka bisa melihat Intan menangis dan menahan diri untuk meluapkan perasaannya. Dia memegang wajah Laura. Bibirnya bergerak ingin mengatakan sesuatu tetapi tertahan. Hanya sebuah anggukan saja yang terlihat.
"Ayah?" Laura melihat ke arah Raka sembari mengernyitkan dahi. Raka menganggukkan kepalanya sembari menetes buliran bening dari kedua pelupuk mata. Dia lalu memeluk tubuh kecil itu dalam dekapannya.
"Oh, anakku. Bertahun-tahun aku mencarimu hingga seluruh pelosok negeri, aku tidak tahu jika kau itu adalah anak kecil yang menyelinap dalam kamar," ujar Raka. "Jika aku tahu kau sudah kubawa pergi dari kemarin." Raka memangku anak itu kembali.
"Nanti jika aku jadi anak, Apakah aku akan ikut dikejar sama orang yang bawa kamera?" ujar Laura yang melihat begitu banyak wartawan di klinik Atalarik tempo hari.
"Karena ayahmu bukan orang biasa," jawab Intan membuat Raka terkejut. Pria itu lalu tersenyum dan mengusap lembut rambut Intan.
Evan benar jika dulu dia terpuruk dan hancur maka Intan dan Laura tidak akan bangga melihatnya. Dia bisa berdiri tegak dan merengkuh anak serta istrinya kini setelah masa kelam dia lalui.
"Kalian pulang ke rumahku, ya?" pinta Raka memegang tangan Intan.
"Aku tidak bisa, aku telah berjanji akan selalu bersamanya."
"Kau bisa membagi waktu jika Lusi tidak mau ikut bersama kita. Seperti kau ikut bekerja dengan Dokter itu dulu."
"Orang tuamu, apakah kau juga tidak merindukan mereka. Mereka selalu menunggu kau pulang."
Mata Intan kembali berkaca-kaca. Siapa yang tidak merindukan orang tuanya. Bertahun-tahun dia menahan semua perasaan dalam dadanya.
"Kita pulang dan menikah lagi seperti rencana kita bertahun-tahun yang lalu. Jika dulu kita mau melakukan itu demi nama baik. Kini aku ingin kita melakukannya karena cinta. Menyatukan hati dan perasaan kita berdua," ucap Raka serak. Dia sangat berharap Intan mau menerimanya dengan sepenuh hati.
Intan terisak menatap Raka.
"Intan Lavanya, mau kah kau menikah denganku?" tanya Raka. Intan ingin menjawab sesuatu tetapi dia mendengar suara tepuk tangan.
Intan dan Raka terkejut melihat Lusi berdiri dengan senjata di tangannya lalu ditodongkan ke arah mereka.