Affair (Faira)

Affair (Faira)
Pertemuan Tidak Sengaja



Faira melangkahkan kakinya keluar dari rumah resepsi itu. Dia segera masuk ke dalam mobil.


"Cepat kita pergi dari sini, Pak," perintah Faira.


"Baik, Bu," ucap sopir itu.


"Mau kemana kita, Bu?" tanya sopir itu ketika mobil telah keluar dari jalan raya.


"Kembali ke hotel," ucap Faira melepaskan kacamatanya. Dia memejamkan matanya dan air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh seketika.


Sopir itu terdiam, hatinya ikut merasakan perih majikannya.


"Sabar, Bu," ucap sopir itu tidak tahan mendengar Isak tangis Faira.


"Iya Pak, terima kasih atas perhatiannya."


"Pak Ditya telah salah langkah, semoga suatu hari dia akan menyesali tindakannya kali ini!" kata sopir itu.


"Entahlah… ," Faira lalu membuang wajahnya ke jendela melihat pemandangan di depannya. Ingatannya kembali pada masa lalu dua tahun silam saat mereka bertiga masih berteman akrab kemana-mana selalu bersama.


Perjalan kali ini terasa menyesakkan untuknya. Ponselnya mulai berdering. Faira melihat siapa yang menelponnya kali ini. Kak Raka.


"Ra, maaf aku tidak bisa menemanimu berlibur ke Bali, aku ada pekerjaan penting di Australia. Aku harap perjalananmu di sana akan menemukan kebahagiaan dan kedamaian," ujar Raka.


"Tidak apa-apa," ucap Faira.


"Aku sudah menyiapkan semuanya, villa kita di sana juga sudah siap untuk kau tinggali dan ada sopir yang akan menjemputmu nanti dari bandara," kata Raka.


"Aku tahu kau selalu melakukan yang terbaik untukku, Kak," ucap Faira.


"Hanya kau satu-satunya yang berharga yang kumiliki saat ini selain Ayah tentunya," kata Raka.


"Sebaiknya kau cari wanita untuk kau cintai hentikan affair mu dengan banyak wanita apalagi wanita yang sudah menikah!" ujar Faira terkekeh.


"Aku tidak pernah punya hubungan dengan wanita manapun, mereka sendiri yang datang padaku memintaku untuk menemaninya," ujar Raka dengan suara merendah.


"Carilah wanita baik yang akan mencintaimu dan dicintai olehmu," ujar Faira.


"Ketika ada seribu bidadari di samping mungkinkah ada satu wanita yang mampu memikat hatiku suatu hari nanti? Rasanya itu sangat tidak mungkin," ungkap Raka.


"Aku yakin akan ada wanita yang membuatmu akan bertekuk lutut suatu hari nanti. Adam mempunyai banyak bidadari tetapi hanya Hawa yang dia cintai."


"Aku pun berharap kau akan bertemu cintamu di Bali dan meninggalkan suami sialanmu itu," ujar Raka kesal.


Faira terkekeh.


"Apakah bisa secepat itu melupakan suamiku?" tanya Faira pada Raka.


"Bisa jika kau menginginkannya."


Semua terdiam. Hanya suara helaan nafas Faira saja yang terdengar.


"Aku harus mematikan teleponku. Pesawat yang sedang kunaiki akan lepas landas," ucap Raka. Panggilan lalu dimatikan.


Dua jam kemudian Faira berjalan tergesa-gesa ke tempat boarding pass di bandara Husein Sastranegara karena lima belas menit pesawat akan lepas landas.


Tanpa sengaja dia menabrak tubuh seorang pria hingga hampir terjatuh ke lantai. Namun, dengan sigap pria itu menangkap tubuh Faira.


Untuk sesaat manik mata mereka saling bertemu. Faira langsung tersadar dan bangun dari pelukan pria itu.


"Maaf," ujar Faira menarik tas di punggungnya dan merapikan pakaiannya.


"Ti… ," ucap pria itu tertahan karena Faira langsung berjalan dengan mundur.


Pria itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Setelah itu Faira melakukan boarding pass dan menuju ke arah pesawat yang sebentar lagi akan terbang ke pulau Dewata Bali untuk melakukan cek in.


Faira lalu masuk ke dalam pesawat dan duduk di kursi kelas bisnis yang dipesannya. Kursi itu tidak berada di sebelah jendela seperti yang diharapkan.


Nampak seorang pria memakai topi sedang membaca sebuah koran duduk di sebelahnya. Faira lantas merilekskan dirinya. Dia memejamkan mata dan bayangan Ditya serta Cintya yang melakukan ijab berkelebat di pikirannya.


Faira mendesah keras. Dia menggelengkan kepalanya dan menekan kuat pangkal hidung agar tangisnya tidak keluar lagi.


Pria di sebelahnya menurunkan koran yang dipegangnya dan menoleh menatap Faira. Dia lalu melepaskan kacamatanya.


"Hai! Kita bertemu lagi," ucap pria itu melihat ke arah Faira. Dia bisa melihat kerut kesedihan yang sempat tertangkap matanya tadi.


"Oh, kau kah yang tadi kutabrak," ucap Faira.


"Ya," jawab pria itu sembari melebarkan senyumnya.


"Kenalkan namaku Evan." Pria itu lalu mengulurkan tangan pada Faira.


"Fa … ," Faira menghentikan kata-katanya. Dia tidak suka berkenalan dengan pria yang baru dikenalnya dengan nama aslinya.


"Fay, panggil aku Fay saja," ucap Faira. Wanita itu lantas menarik kembali tangannya.


"Okey Fay. Jadi kau juga akan pergi ke Bali?" tanya pria itu. Pria itu berpikir jika pertemuan ketiganya dengan Faira memang sebuah takdir untuknya.


"Humm," jawab Faira pendek. Dia lantas memakai kembali kaca mata hitamnya.


Selama beberapa saat Faira melihat keluar jendela. 


"Apa kau mau bertukar tempat duduk!" tawar pria itu. Evan seperti mengerti keinginan Faira. Faira melihat bola mata sapphire yang indah milik Evan. Menarik kedua sudut bibirnya. Sebuah senyuman lebar dia layangkan.


"Jika kau tidak keberatan," jawab Faira antusias. Mereka lalu bertukar tempat duduk.


"Aku suka melihat pemandangan luar jendela, kakak pasti salah memesan tempat duduk," ujar Faira menatap Evan.


Evan terpana pada bulu mata yang panjang dan lentik itu bergerak-gerak diatas manik mata onyx milik Faira. Faira lalu mengerjakan matanya. Dia menjentikkan jarinya tepat di hadapan Evan.


"Apa yang sedang kau pikirkan!" ucap Faira.


"Tidak ada hanya terpana pada matamu yang lebar dan cantik," jujur Evan.


Faira mengerutkan hidungnya.


"Playboy kelas ikan teri," gumam Faira lirih melihat ke arah jendela. 


"Apa yang kau ucapkan," kata Evan menautkan kedua alisnya


"Tidak ada hanya saja aku bosan mendengar ucapan gombal seorang pria," ungkap Faira dengan suara perih.


"Biasanya wanita akan menyukainya," ujar Evan menurunkan tempat duduknya. Faira lalu menoleh lagi menatap ke arah Evan.


"Tidak semua wanita, aku pengecualiannya," jawab Faira.


"Ya, kau memang berbeda," ungkap Evan dalam hatinya. Dia tidak mengira bisa bertemu lagi dengan Faira dan lucunya hatinya merasa senang padahal mereka tidak pernah berhubungan sama sekali. Seperti ada sesuatu yang menariknya lebih dalam ke arah wanita di sampingnya.


Mereka kembali terdiam. Faira terdengar banyak mendesah ketika melihat ke arah jendela. Sesekali Evan melirik dan melihat wanita itu tampak menyeka air matanya. Sudut hati Evan merasa iba. Rasanya dia ingin memeluk tubuh mungil itu. Namun, dia cukup tahu diri jika mereka tidak saling mengenal. Dan raut wajah wanita itu jelas tampak terlihat berduka.


"Cantik, sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu itu. Bisakah aku membantumu mengenyahkan hal yang membuatmu berduka," batin Evan.