Affair (Faira)

Affair (Faira)
Tak Diharapkan



Keesokan harinya, Raka setuju untuk mengantarkan Intan kembali ke rumah Lusi. Rumah itu adalah tipe rumah besar yang mewah.


Lusi keluar dari rumah itu setelah tahu ada mobil asing yang memasuki pekarangan rumahnya. Apa yang dia lihat membuat dia harus menahan nafas. Pria yang paling dia benci menjejakkan kaki di rumahnya.


Dengan raut wajah yang menegang dan tangan yang mengepal erat dia seperti hendak melompat ke arah mobil itu dan memukuli pria yang telah membunuh anak serta suaminya.


Tiba-tiba Laura keluar dari pintu ketika Intan keluar dari mobil.


"Ibu, kau sudah pulang?" tanya Laura riang gembira sembari berlari ke arah Intan. Sorot mata tajam mengiringi langkah kaki Laura namun anak itu tidak sadar dengan ketegangan yang terjadi antara ketiga orang itu.


Di saat yang sama Raka keluar dari mobil itu dengan rasa yang menggebu karena rindu dan ingin memeluk anak yang selama ini dia cari keberadaannya.


Mata pria itu memerah fokusnya hanya tertuju wajah riang Laura yang berlari memeluk Intan. Dia mengabaikan larangan Intan untuk keluar dari mobil.


Dengan langkah yang gemetar dia mendekati ibu dan anak itu.


Mata Laura yang lebar bergerak dan melihat ke arah Raka.


"Lho, Om Raka yang ada di rumah sakit juga di sini?''


Raka menarik nafasnya panjang, dia lalu bersimpuh mensejajarkan matanya pada Laura. Tidak ada kata yang bisa dia keluarkan, dia langsung saja memeluk anaknya erat. Air matanya yang dia tahan agar tidak keluar akhirnya mengalir jua. Nafasnya tersengal-sengal karena beban berat di dadanya.


Intan menatap ke langit karena tidak kuat melihat pertemuan ini. Dia menyeka sudut matanya yang mulai basah. Semua salah menurutnya tetapi ada keputusan yang harus dia ambil agar tidak ada pertumpahan darah kembali.


Manik mata terang milik Laura menatap ke arahnya. Meminta kejelasan dari sang ibu mengapa pria ini menangis ketika memeluknya. Intan hanya bisa mengusap kepala Laura dan tersenyum.


Raka lalu merenggangkan pelukannya pada Laura dan menatap mata gadis kecil itu. Manarik oksigen masuk ke dalam tubuhnya serta tertawa tanpa bersuara.


"Om, disini?" tanya Laura lagi. "Kenapa bisa kenal dengan Ibu?"


"Ayah tidak tinggal di sini, ayah sedang bersama Ibu Dewi di rumah lama. Ini rumah baru milik Grand Ma," terang Laura menunjuk ke arah Lisa. Raka teringat bila dia kemari untuk menyelesaikan masalah dengan Lisa.


"Om, ingin menemuimu dan mengajakmu serta Ibu tinggal di rumah Om," terang Raka.


Laura menyatukan alisnya yang masih tipis, sehingga membuat garis-garis halus di antara keduanya.


"Sebenarnya bukan Om lebih... ," ucapan Raka terhenti ketika mendengar Lusi berdehem. Raka lalu berdiri.


"Ada tamu ke rumah saya ini," sindir Lusi.


"Hai Nyonya Winston sudah lama kita tidak bertemu," sapa Raka dengan dagu terangkat.


"Tidak terlalu lama bagi yang tidak punya harapan hidup," ujar Lusi. Menatap tidak suka pada Raka sembari menyentuh pohon aglonema di depannya.


"Untungnya aku masih punya harapan hidup besar, setelah mengetahui jika aku punya seorang putri," ucap Raka tersenyum sinis pada Lusi.


"Siapapun yang telah memberi ku kabar itu, aku sangat berterima kasih," lanjut Raka membuat Lusi mengepalkan tangannya erat walau senyuman masih terlukis di bibirnya yang berwarna merah.


Wanita itu menyibak rambut pirang pendeknya ke belakang.


"Kau beruntung karena 'masih memiliki mereka'."


"Mungkin Tuhan masih berbaik hati padaku sehingga mempertemukan kami kembali. Dan aku mengucapkan banyak terima kasih karena kau telah merawat mereka dengan baik. Aku tidak akan pernah bisa membalas jasa-jasamu ini," kata Raka setengah membungkuk.


Membuat wajah Lusi merah padam. Bukan ini yang dia harapkan. Dia ingin melihat Raka depresi dan terluka bukannya malah terlihat bahagia. Pria itu harus lebih menderita dari dirinya.