Affair (Faira)

Affair (Faira)
Haruskah?



"Kau itu egois!" ujar Faira pergi meninggalkan Ditya tetapi tangan Ditya memegangnya erat.


"Tidak Faira, aku tidak egois. Aku hanya ingin mengatakan jika aku tidak mau kehilanganmu, wanita paling baik yang pernah ku temui," ujar Ditya.


" Mas Ditya," gumam Faira melihat mata Ditya yang berembun dia bisa melihat ketulusan dan kejujuran dari kata-kata Ditya.


"Berilah aku kesempatan satu kali lagi," pinta Ditya. "Ku mohon."


Faira melihat ke arah Cintya yang berdiri menatap mereka.


"Cintya sedang hamil anakmu," cetus Faira.


"Aku tahu, aku salah namun jujur aku tidak bisa jika harus kehilangan kalian berdua," ucap Ditya.


"Mas Ditya aku ... ," lirih Faira serak. Dia menengadahkan wajah, mengerjapkan mata berkali-kali agar butiran kristal itu tidak turun ke bumi.


"Tanyalah dulu pada Cintya baru temui aku," ucap Faira mengusap air matanya.


"Setelah itu aku ingin berbicara berdua denganmu dan mendengar jawaban Cintya," ucap Faira.


Faira dah Ditya lalu memulai proses persidangan pertamanya. Pengadilan yang melihat tidak ada kebencian di mata keduanya memerintahkan agar mereka hidup bersama dulu selama satu bulan jika tidak menemui titik terang bisa dilakukan persidangan kedua.


***


Satu hari berikutnya Ditya datang menjemput Faira untuk dibawanya ke rumah kembali. Keluarga Faira dengan berat melepaskannya apalagi Raka. Dia seperti tidak rela jika adiknya dibawa pergi oleh Ditya.


Mereka hanya terdiam sepanjang perjalanan. Faira belum mengatakan apapun. Namun, Ditya berkeyakinan jika ini adalah kesempatan kedua baginya untuk membuat Faira kembali bersamanya.


Cintya menyambut kedatangan Faira, mertua Faira dengan bahagia menyambut kedatangannya dengan bahagia. Mereka seperti hendak menyingkirkan Cintya dari kehidupan Ditya.


Cintya lalu masuk ke kamar karena merasa keberadaannya tidak diharapkan. Namun, Faira datang ke kamar setelah ayah dan ibu Ditya pergi. Dia mendekati Cintya yang sedang terisak di tempat tidur.


"Cintya, aku tidak ingin untuk merusak kebahagiaanmu," kata Faira.


"Ibu benar jika wanita sepertimu kayak untuk dipertahankan, sedangkan aku merasa menjadi wanita murahan yang menggoda suami seseorang. Aku sudah bisa merasakan jika Ditya itu mencintaimu dari awal, dia memang memberi perhatian padaku tetapi dia akan memberikannya berlebih ketika kau datang. Mungkin dia ingin memanasimu saja."


"Ditya bertanya apakah aku rela jika tinggal bersamamu?" ujar Cintya. Dia lalu menyeka air matanya.


"Apa pendapatmu?"


"Kau bertanya apa pendapatku Faira kau ingin meledekku! Di sini aku orang ketiganya jika yang seharusnya menyingkir itu aku bukan kau!" ucap Cintya mengeluarkan emosinya.


"Itu artinya kau tidak ingin kita bertiga bersama?" tanya Faira.


"Kau yang berhak untuk memberikan keputusan ini. Aku tidak akan menyela, aku cukup tahu diri, siapa aku?''


"Aku hanya apa kau ikhlas?" tanya Faira.


"Aku ... ." Sejenak Cintya merasa ragu tetapi ketika melihat mata Faira yang lembut dan penuh kasih sayang dia yakin jika mereka akan bisa melalui ini bersama.


"Aku yakin kita bisa melalui hari-hari ini bersama-sama," ucap Cintya.


Faira mengambil nafas entah lega entah merasa sesak. Setelah itu dia keluar kamar. Ditya mendekat ingin berbicara dengan Faira namun Faira merenggangkan tangannya untuk memberinya waktu berpikir.


Di dalam kamar Faira berjalan hilir mudik berkali-kali. Tidak tahu harus bagaimana. Sebuah alat pengecek kehamilan berada di tangannya.


Sebelumnya dia merasa shock ketika tahu bahwa dia sedang hamil anak dari Evan. Bagaimana dia akan melalui hari-hari ini. Semu orang pasti akan mengira jika ini anak Ditya. Namun, pada kenyataannya Ditya belum pernah menyentuhnya sekalipun.


Faira tidak tahu harus bagaimana tawaran Ditya untuk membentuk hubungan baru seperti angin segar baginya tetapi bagaimana jika Ditya tahu jika dirinya hamil anak Evan?


Haruskah dia mengugurkan janin dalam kandungannya?


Atau diam saja dan membiarkan kehamilan tetap ada, lalu menjebak Ditya supaya pria itu tahunya ini anaknya?