
Faira duduk tenang di pinggir kolam renang sembari melihat bulan di langit. Dia merasa seperti bulan itu yang sendiri tanpa ada yang menemani.
"Ra, di mana Ello?" tanya Raka mendekat ke arah Faira setelah pulang dari tempat kerjanya.
"Dia sudah tidur," jawab Faira dengan suara melamun.
"Aku dengar tadi Ditya datang kemari?" tanya Raka.
"Hummm," hanya itu jawaban yang Faira berikan.
"Jika dia adalah suami yang bertanggung jawab, dia pasti akan melindungimu dan menjagamu mati-matian dari saingannya," kata Raka.
Faira tersenyum kecut. Raka tidak tahu bagaimana sebenarnya hubungan dia dan Ditya. Jika tahu, dia tidak akan pernah menghina pria itu. Pria yang selama ini memberikan perlindungan dan kasih sayang padanya dengan tulus.
"Dia menyerahkan semua keputusan padaku," jawab Faira.
"Dan dia lepas tanggung jawab! ****!" rutuk Raka.
"Dia adalah pria yang sangat baik. Percaya padaku Kak, aku tidak pernah melihat ada pria sebaik dirinya."
"Dari awal kau terlalu buta akan cintanya."
"Sudahlah, aku mau keluar untuk melihat klub malam milikku," ucap Raka. "Sudah lama aku tidak melihatnya. Ayah sudah memberikan semua perusahaannya padaku untuk kuurus dan aku sudah tidak bisa pergi bersenang-senang lagi. Kertas-kertas itu selalu menghantuiku dari pagi hingga tengah malam. Untung saja sekretarisku Cindy bisa memberikan asupan semangat setiap waktu."
"Wanita bule tadi itu Kak?" tanya Faira.
"Ya, dia seksi bukan?" tanya Raka.
"Tapi bukan wanita baik-baik."
"Pria baik untuk wanita baik dan aku tidak masuk kriteria pria baik itu," cetus Raka jujur.
"Ditya tidak pernah bermain wanita, dia hanya mencintai istrinya saja," kata Faira.
"Tapi dia mempunyai dua istri," jawab Raka.
"Itu lebih baik dari pada punya satu istri tetapi suka berkeliaran dengan banyak wanita!" bela Faira tidak mau kalah, dia tidak suka jika Ditya dijelekkan oleh Raka. "Dan kau, aku sudah jengah dengan kebiasaan mu berganti-ganti pasangan terus. Semoga akan ada wanita baik yang akan membuatmu bertekuk lutut!"
"Tidak akan pernah seorang Raka bertekuk lutut pada seorang wanita," jawab Raka sombong.
"Jika saat itu datang aku akan tertawa puas," ujar Faira.
"Kau itu selalu saja tidak mendukungku," sungut Raka.
"Kak, aku ingin kau mempunyai keluarga yang bahagia. Aku lelah melihatmu terus seperti ini, umurmu sudah tiga puluh lima dan kau masih belum mempunyai istri, sedangkan teman seusiaku sudah punya dua atau tiga anak."
"Untuk apa harta melimpah jika kau hidup sendiri," kata Faira.
"Justru karena aku tahu bagaimana watak wanita aku tidak ingin menikah. Aku tidak bisa memberikan mereka kebahagiaan yang diinginkan setiap wanita. Waktu bersama. Kau tahu bagaimana aku menjalani hariku. Selalu bekerja dari pagi hingga petang dan dimalam harinya aku masih mengadakan rapat atau pertemuan. Apakah ada wanita yang akan menerima hal itu? Kebanyakan mereka akan mencari kebahagiaan di luar dan berselingkuh."
"Kak, ibu kita wanita yang setia."
"Kau benar hanya ibu wanita yang baik. Kau juga berselingkuh dari Ditya, Faira," ucap Raka.
"Dan aku menyesal karena telah melakukan hal itu. Aku buru-buru menghujat suamiku sebelum tahu sifatnya terlebih dahulu. Dan aku melakukan kesalahan dengan menikahkannya lagi. Andai itu tidak kulakukan, maka pernikahan kami akan baik-baik saja, dan tidak perlu ada kesalahan yang berakibat fatal." ujar Faira menunduk.
"Namun, Ello bukan bukan bentuk kesalahan itu," ujar Raka.
"Dia hanya korban," lanjut Faira.
Sejenak Faira terdiam, berpikir. "Seorang istri akan mencintai suaminya."
"Maka berjuanglah untuk orang yang kau cintai," kata Raka. Menepuk Sayang pada Faira.
"Aku akan pergi jangan tunggu aku mungkin aku akan pulang pagi,'' kata Raka tanpa berpaling.
"Jangan kau bawa wanita mu kemari jika ada Ello."
Raka memberi tanda O pada Faira.
Setelah Raka pergi Faira kembali ke kamarnya. Dia merasa diawasi oleh seseorang namun dia pikir itu hanya sebuah halusinasi. Evan tidak akan bisa menembus pertahanan rumah Raka karena banyak bodyguard yang berjaga secara bergantian.
Faira lantas masuk ke dalam kamarnya tetapi sebelum itu dia masuk ke kamar Ello yang berada di sebelah kamarnya.
Dia menyentuh kepala Ello dan memandanginya setelah itu dia mengecup kening anak itu dan keluar dari sana.
Di saat yang sama seseorang masuk ke dalam kamar Faira lewat balkon kamar. Gerakannya yang cepat dan lincah membuat para penjaga tidak curiga jika ada yang masuk ke rumah ini secara diam-diam.
Pria itu lalu masuk ke dalam kamar Faira dan melihat seisi kamar yang masih kosong serta gelap. Namun dia masih bisa mencium bau parfum yang biasa digunakan oleh wanita itu.
Faira kembali masuk ke dalam kamarnya. Pria itu lantas dengan cepat bersembunyi di balik korden.
Wanita itu terus saja melangkah ke kamar mandi untuk membersihkannya diri sebelum tidur. Setelah itu dia pergi ke kamarnya dan mengambil gaun tidur dari di dalam lemari.
Dia mulai membuka bajunya satu persatu hingga tersisa satu segitiga pengaman saja berwana hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.
Pria itu menelan Salivanya dalam-dalam melihat pemandangan indah di depan matanya namun tidak dapat dia sentuh karena merasa ini bukan waktu yang tepat.
Faira lantas memakai gaun tidur sutera, dengan tali di bagian bahu dan bagian bawahnya yang menggantung di atas lutut. Meletakkan baju kotornya di tempat kotor dan pergi berbaring.
Di saat yang sama handphonenya kembali berdering.
"Hallo, Mas," jawab Faira.
"Ehm, aku baik-baik saja."
"Baiklah aku akan menunggu tiket itu datang besok setelah itu akan ke bandara sendirian jika kau tidak sempat."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku hanya titip Cintya dan Ella."
"Aku akan menjaga diri dengan baik. Kau tidak perlu khawatir. Kau bisa menemuiku di New York jika sempat."
"Ya. Bye." Faira lalu menutup panggilan dari Ditya. Dia berencana pergi ke New York besok siang. Dia berharap, di kota besar itu Evan tidak akan bisa menemukannya karena dia juga tidak akan menceritakan perihal ini pada Raka.
Faira lalu berbaring dan memejamkan matanya.
Setelah melihat Faira tertidur tenang Evan keluar dari tempat persembunyiannya dan ikut berbaring di sisi Faira.
Dia lalu membelai pipi Faira.
"Jadi kau mau bermain-main denganku. Baiklah akan kuturuti. Kita lihat siapa yang akan menang kali ini. Kau atau aku!" bisik Evan.
Dia lalu memeluk Faira dengan sangat pelan takut jika wanita itu terbangun. Timbul keisengan dalam dirinya untuk membuat tanda pada Faira.
Dia lalu menggigit pelan pada leher Faira dan memberikan tanda merah di sana. Di saat itu pula Faira bergumam. "Evan, hentikan ini tidak benar."