
"Baiklah, kita akan bertemu nanti sore sebelum matahari terbenam karena siang ini aku ada temu janji dengan relasi bisnis," ajak Evan.
Mata Faira terlihat berbinar. "Okey!" jawab wanita.
"Tuan Evan," panggil seorang wanita dengan pakaian kerja yang ketat dan menarik. Faira memberi tanda pada Evan ke arah wanita itu.
Evan yang ingin mengucapkan sesuatunya langsung ditahannya dan melihat ke arah asistennya.
"My assistant," ujar Evan. Faira tersenyum sembari mengangkat bahunya sedikit.
"Kenapa kau memberitahunya padaku, itu urusanmu," kata Faira santai.
"Aku takut kau salah sangka?" ujar Evan.
Faira menggelengkan kepalanya lalu berenang menjauh dari Evan.
"Pria aneh," gumamnya lirih.
***
Entah sudah pakaian ke berapa yang dicoba olah Faira untuk bertemu dengan Evan. Ini kali pertama dirinya temu janji dengan seorang pria setelah sekian tahun sendiri. Buka sendiri karena dia telah menikah dengan Ditya namun hidupnya tidak lebih dari seorang Jones, jomblo ngenes.
Dia tidak tahu kemana Evan akan membawanya. Ke tempat resmi atau ke tempat biasa atau bahkan ke clubing.
"Sial!" gerutunya. Dia bahkan tidak bisa menghubungi Evan dan mengatakan apa yang di rasakannya saat ini pada pria itu. Memang dia merasa apa? Batin Faira.
Akhirnya Faira memutuskan memakai rok dengan model Line A setinggi di atas lutut, bermotif bunga di padukan dengan tank top putih yang ditutup oleh kemeja putih yang diikat dibagian bawahnya.
Ini tidak buruk jika dibawa ke restauran mewah, juga bukan pakaian yang terlihat resmi jika di bawa untuk berkeliling kota Denpasar. Baju ini pun bisa di buat untuk ke clubbing. Dia hanya tinggal mencopot kemeja itu.
Faira membuat gelombang pada rambutnya yang berwarna cokelat kelam. Dia telah merubah warna rambutnya tadi di salon bawah. Di juga melakukan beberapa perawatan kecantikan sehingga seluruh kulit tubuh dan wajahnya terlihat cerah dan lebih kenyal.
Setelah yakin dengan penampilannya yang lebih mirip dengan gadis kuliahan dari pada seorang istri, Faira lalu mengambil tas. Dia lalu melihat cermin besar di depannya.
"Wah tak pantas sebetulnya kau bersolek seperti ini. Lihatlah kakimu saja sudah terlihat menggoda pria yang akan mendekat," ujar Faira memuji penampilannya sendiri.
Setelah itu dia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju lift tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Evan keluar dari kamarnya bersama seorang pria tampan.
Faira menghentikan langkahnya. Ternyata kamarnya dengan Evan saling bersebelahan.
Evan yang merasa diperhatikan lalu menoleh dan mendapati Faira telah siap. Wanita itu terlihat lebih muda dan cantik dari awal mereka bertemu. Dia seperti melihat Faira yang berbeda.
Evan lalu memutuskan pembicaraan dengan. teman relasinya dan mendekat ke arah Faira yang berdiri di samping tembok. Satu tangan Evan dia letakkan di sisi atas kepala Faira. Tubuhnya lalu dicondongkan ke depan membuat wajah Faira terlihat gugup.
Manik mata mereka saling bertemu. "Kau tampak sangat cantik dan menawan membuat aku tidak ingin mengajakmu keluar. Aku takut pria lain sana mengagumi keindahan yang terpancar dari dirimu," rayu Evan.
"Gombal!" ujar Faira mendorong lembut dada Evan agar menjauh.
Entah apa yang membuat tubuhnya menurut dengan perlakuan manis Evan yang baru dikenalnya. Apakah karena ini efek balas dendamnya pada Ditya? Ataukah dia hanya ingin melupakan Ditya dengan membuat kisah singkat dengan pria yang tidak dia kenal sebelumnya.
"Duduklah, tunggu aku akan mengganti bajuku," kata Evan. Faira yang tidak pernah masuk ke kamar seorang pria merasa canggung. Dia lalu duduk di salah singel sofa.
Evan lalu berjalan menuju lemari dan membuka kemejanya.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Faira gugup dan panik melihat Evan mulai membuka kancing bajunya.
"Aku hanya ingin mengganti pakaian," ujar pria itu. Dada pria itu terbuka karena kancing bajunya sudah terbuka semua menampilkan lekukan lekukan otot yang menggoda setiap mata wanita yang memandang.
Faira lalu memalingkan wajahnya ke arah lain sembari menelan Salivanya sendiri. Dadanya berdegub dengan kencang, jantungnya seperti mau keluar dari tempatnya. Untuk menetralisir perasaannya sendiri dia menarik nafas dan mengeluarkannya pelan.
Faira melirik sedikit ke arah Evan. Tubuh pria itu tegap dengan otot-otot keras yang membalut otot dan lengannya. Dadanya bidang dan lebar. Pinggangnya ramping dengan kotak-kotak seksi yang bisa membuat pria lain menjadi iri bila melihatnya.
"Huft!" Faira menelan Salivanya sendiri sembari mengipasi tubuhnya dengan tangan. Dia bahkan belum pernah melihat tubuh Ditya sebegitu detailnya. Tetapi perawakan Ditya lebih pendek dari pada Evan yang sudah terlihat jelas bahwa dia bukan warga negara sini. Matanya yang biru dan terang menggambarkannya demikian.
"Ayo kita pergi sekarang!" ajak Evan yang telah siap dengan kaos putihnya yang melekat apik dan tidak bisa menutupi lekukan tubuh pria itu.
"Kemana kau akan mengajakku pergi?" tanya Faira bangkit dan merapikan bajunya.
"Surprise," ujar Evan sembari mengeringkan satu matanya membuat Faira melonjak terkejut oleh sifat genit pria itu.
Tangan besar Evan menggenggam tangannya dan menarik Faira keluar dari kamar itu. Faira hanya bisa melihat genggaman tangan keduanya. Dia tersenyum kecil. Andai saja ini Ditya yang melakukannya pasti dia akan merasa bahagia.
Tetapi senyumnya langsung sirna teringat jika Ditya sudah mengenggam erat tangan wanita lain.
Evan menutup pintunya ketika mereka sudah berada di luar kamar. Faira hanya berdiri di sampingnya saja sembari melihat keadaan.
Setelah itu Evan lalu meraih pinggangnya. Tubuh Faira membeku seketika. Dia melihat ke arah tangan Evan yang dengan mudah memegang pinggangnya. Evan yang sudah terbiasa dengan kehidupan luar yang bebas lalu menghentikan gerakan kakinya dan melihat ke arah Faira.
"Ups ... . Maaf jika kau keberatan," Evan lalu menarik tangannya lagi dan menarik nafas panjang.
Faira menunduk, dia menarik sedikit rambutnya ke belakang telinga untuk mengatasi perasaan gugupnya.
Dia tersenyum pada Evan. "Tidak masalah."
"Apakah aku boleh menggenggam tanganmu?" tanya Evan sopan. Faira memang bukan seperti wanita yang dia kenal yang akan melebarkan paha ketika melihat lampu hijau darinya.
Wajah merah alami Faira yang pemalu membuat Evan gemas. Ingin menyentuh kulit pipi yang kemerahan itu.
Faira lalu mengangkat wajahnya dan menatap manik biru mata Evan. Dia coba untuk membaca pikiran pria itu. Apakah dia berbahaya atau tidak?
Yang dia temukan hanya pandangan yang menyiratkan keramahan dan kehangatan. Dalam hati dia berujar ,"Oh, ini berbahaya Faira. Pria tipe seperti ini bagai singa jantan yang terlihat anggun namun akan memakanmu habis dalam sekali lahap."