
Ini adalah hari kepulangan Ditya dari rumah sakit, sedangkan Faira masih berada di dalam kamar tidurnya. Langkah kakinya diseret ketika berjalan malas ke dalam kamar mandi, matanya masih panas karena telah menulis beberapa bab hingga tidak terasa menjelang pagi tiba.
Namanya dalam dunia penulisan sudah tidak diragukan lagi. Dia melakukan itu sebagai penyalur hobi saja dan hampir seluruh uang itu dia donasikan untuk sekolah anak-anak terlantar.
Selain itu menulis juga bisa mengisi waktunya agar tidak selalu memikirkan nasibnya yang tidak terlalu baik. Jika dia mengatakan buruk itu tidak buruk sepenuhnya karena masih banyak wanita yang bernasib lebih mengerikan darinya. Beruntung dia tidak memiliki anak dari Ditya jika itu sampai terjadi maka dia tak tahu masa depan anaknya ke depan. Apakah akan suram sesuram hidupnya saat ini.
Setelah mencuci muka dan menyikat giginya dia lalu keluar kamar untuk sarapan pagi. Sesuatu yang sangat tidak dia sukai karena nafsu makannya masih hilang.
Dia segera turun dari kamarnya menuju ruang makan. Seperti biasa Mbok Nah selalu duduk di meja makan untuk menemani makan karena dia selalu sendiri. Ditya tidak pernah mau melakukan ini, kecuali jika ada anggota keluarga yang lain dia harus bersandiwara sebagai suami yang baik.
"Mau sarapan apa Nyonya Muda Mbok sudah menyiapkan lontong opor yang enak, Mbok masak tadi pagi," sapa Mbok Nah.
"Sepertinya lezat tetapi aku masih malas makan, sebaiknya aku akan meminum jus apel ini saja," ujar Faira mengambil segelas besar jus apel yang sudah disiapkan oleh Mbok Nah.
"Nyonya Muda, tadi Nyonya Besar menelpon kalau mereka sudah pulang dari Amsterdam dan kini mereka menuju rumah sakit" kata Mbok Nah. Faira yang mendengarkan langsung menyemburkan minuman dari mulut.
Wajahnya memucat, dia lalu menutup wajahnya dengan tangan.
"Kapan mereka menelpon mbok?" tanya Faira.
"Satu jam yang lalu, tadi Mbok mau memberitahu Anda, tetapi Nyonya besar mengatakan tidak usah ka... " kalimat Mbok Nah menggantung melihat Faira sudah berlari keluar mengambil kunci mobilnya.
Faira merutuki jalanan di depannya yang sedang macet total. Wajahnya terlihat panik dan tegang. Sesekali dia menarik ke belakang rambutnya atau menekan berkali-kali klakson.
"****! Bagaimana ini?" gumam Faira kesal. Dia mengerang keras sembari menendang bagian depan mobilnya.
Dia sudah membayangkan apa yang akan mertuanya perbuat. Mereka pasti bisa saja mengusir Cintya dan memarahi Ditya habis-habisan. Hari Minggunya yang dia kira akan dijadikan waktu bersantai seketika ambyar karena kejadian pagi ini.
"Ach, sial … sial … .'' rutuknya berkali-kali.
Mobil di depannya sudah mulai berjalan walau pelan. Faira langsung menjalankan mobilnya dan berharap dia akan sampai di sana terlebih dahulu dari kedua orang tua Ditya.
Akhirnya Faira sampai juga ke tujuannya walau dengan rentang waktu yang lebih lama. Dia berlari bergegas berlari menuju kamar Ditya. Nafasnya terengah-engah ketika sampai di depan pintu kamar Ditya. Dia mengatur nafas terlebih dahulu dan merapikan penampilannya walau dia kini hanya memakai baju tidur sutra bermodel kemeja pendek dan celana panjang.
Dia membasahi bibirnya yang terasa kering, lalu menggigit bibir keras dan hendak memutar knop pintu kamar. Tetapi tangannya ditariknya kembali. Terdengar suara mertuanya sedang berbicara di dalam sana membuat Faira mengeluarkan keringat dingin.
Dia meremas tangannya lalu memberanikan diri memutar knop pintu dan melongok terlebih dahulu untuk melihat situasi.
Semua mata di dalam ruangan itu menatapnya. Faira akhirnya masuk ke dalam ruangan itu. Dia menghembuskan nafas keras.
"Huft!" Mencoba tersenyum pada semua orang.
"Ayah Ibu kapan kalian sampai kemari?" tanya Faira. Tetapi kedua orang tua Ditya menatapnya tajam. Kaki Faira terasa tidak berpijak tetapi dia mencoba untuk tetap maju dan mengendalikan tubuhnya agar tidak terjatuh. Dia lalu mengambil kedua tangan orang tua Ditya mencium punggung tangan mereka. Kepada ibu Ditya dia mencium kedua pipinya lembut.
"Faira terangkan pada Ibu dan Ayah apa yang telah terjadi. Apa kau tahu hubungan suamimu dengan wanita murahan itu!" seru Ayah mertuanya, Radit dengan wajah merah padam.
Faira menarik nafas panjang. Dia lalu menarik dua sudut bibirnya ke atas dengan paksaan. Senyum canggung yang tidak sampai ke mata. Sedangkan netranya malah terlihat sendu dan menyimpan banyak kesedihan.
Ibu Ditya bisa merasakannya. Nafasnya juga merasa sesak karena kecewa dengan tingkah laku anak tunggalnya. Dia lalu menarik tangan Faira dan mendudukkannya di antara kedua mertuanya. Kini posisinya seperti seorang anak yang sedang mendapat perlindungan dari orang tuanya, Ditya serta Chintya seperti terdakwa yang sedang dihakimi oleh kedua orang tuanya.
" Itu Faira yang menginginkan pah. Faira yang membawa Chintya kemari dan ingin agar Cintya menikah dengan Mas Ditya," jawab Faira dengan nada yang terlihat tenang dan santai seolah dia hanya meminjamkan benda kesayangannya pada seorang teman.
Radit menggelengkan kepalanya. Sedangkan ibu Ditya mengusap air yang keluar dari hidungnya.
" Tapi Faira itu sangat menyakitkan untukmu, Walau Ditya anak Ibu, namun Ibu tidak suka jika dia melukai istrinya sendiri, ibu tidak pernah mengajarkannya untuk bersikap egois," ujar Tri, Ibu Ditya.
"Betul Bu, Faira yang ingin kok! Mas Ditya menolak dan Cintya juga menolak, tapi Faira yang membujuk agar mereka bersama kembali," bukannya tangis Tri berhenti setelah mendengar hal itu dia malah tambah meraung.
"Kau tidak pandai berbohong Faira, lihat saja dua pasangan ini, sangat jelas kemesraan mereka kamu jangan membela mereka dengan kata penolakan mereka. Cuih! Aku tidak sudi memiliki menantu seperti wanita itu, dia itu seperti ****** yang mau merusak kebahagiaan orang." ungkap Ayah Radit.
"Percayalah pada Faira, ini memang kehendak Faira," ungkap Faira pelan mencoba menenangkan Ayah mertuanya itu. Faira sendiri sudah dianggap putri sendiri oleh mertuanya mereka bahkan lebih mencintai Faira daripada anak lelakinya.
"Hei kau wanita ******, kenapa kau datang kembali pada Ditya, apa kau tidak punya harga diri sama sekali. Bukankah aku sudah menyuruhmu pergi dari kehidupan Ditya sebelumnya tetapi kau itu memang wanita bebal," hina Radit pada Cintya. Tubuh Cintya gemetar karena menangis dalam pelukan Ditya. Ditya hanya terdiam sembari menatap tajam pada Faira. Seolah arti tatapan itu adalah puaskah kau, telah membuat orang tuaku membenci anaknya sendiri!
"Faira kenapa kau malah membawanya masuk ke rumahmu, wanita itu seperti hama yang kecil tapi merusak seluruh tanaman yang ada," lanjut Tri pada Faira.
"Faira hanya ingin Mas Ditya bahagia," ucap Faira membuat kedua orang tua Ditya hanya bisa menghela nafas panjang.
"Apakah kebahagiaannya itu menikahi wanita yang sangat berbeda level denganmu itu? Apakah Ditya tidak bersyukur telah memilikimu? Kau itu cantik dan berkelas tidak seperti wanita itu. Hatimu terlalu lembut untuk mengetahui masalah yang sesungguhnya, Nak, Ibu mohon agar kau tidak mengijinkan Ditya untuk menikah lagi," pinta Tri yang terdengar tulus dan penuh rasa was-was.
" Faira sudah memberi izin pada Mas Ditya untuk menikah lagi. Bahkan Faira sudah mengurus semua surat-surat yang mereka butuhkan untuk pernikahan mereka nantinya, hanya menentukan tanggal pernikahan saja yang belum. Tetapi Faira sudah berjanji pada Mas Ditya agar pernikahan itu bisa terjadi secepatnya secepatnya," ucap Faira.
"Faira!" seru kedua mertuanya bersamaan.
"Kau itu terlalu polos, Nak ... perempuan itu tidak seperti yang terlihat.'' Tri mencoba untuk menyadarkan Faira jika apa yang dilakukannya itu salah
"Cintya wanita yang baik, kalian saja yang belum mengenalnya, berilah kesempatan pada cinta mereka Yah, Bu," sanggah Faira.
"Jika dia wanita baik dia tidak akan melakukan ini!" tunjuk Radit penuh kemarahan pada Cintya.
"Apa kau akan meninggalkan Ditya setelah ini?" Mertua lelakinya mulai bisa menebak isi kepala Faira. Dia bisa melihat ada yang tidak beres dengan pernikahan mereka jika tidak Faira tidak akan melakukan itu.
"Sejujurnya aku sudah lelah dan menyerah dengan pernikahan ini, aku mau kehidupan lamaku kembali lagi," kata Faira.
"Kehidupan yang mana? Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian berdua katakan pada Ibu." Tri mengoyak bahu Dara. "Dan kau pergi dari ruangan ini karena kau bukan bagian dari keluarga ini!" usir Tri pada Cintya. Cintya hendak pergi namun Ditya malah memeluknya semakin erat.