The Borders

The Borders
Bagian 96 – Pertempuran Belum Selesai



"Kau kejam sekali, wajar saja jika kegelapan berkembang di dalam dirimu seperti penyakit ganas. Kau bahkan tidak memiliki perasaan untuk melindungi seseorang." Ujar Kashel terlihat marah, Kashel merasa tidak terima jika harus terikat dengan modelan seperti Guardian, dirinya sendiri bahkan tidak tega untuk menyakiti orang lain jika itu manusia.


"Itu dulu Kashel, jika kau tidak muncul tadi aku akan menyelamatkan mereka di detik-detik terakhir. Aku sudah tidak seperti dulu, walaupun sedikit, aku mulai paham perasaan manusia berkat dirimu." Guardian menjelaskan sambil menatap Kashel kali ini dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.


"Tetap saja jika itu terlambat akan sangat berbahaya, untuk mereka."


Percakapan mereka terputus karena badai kegelapan menyerang mereka.


"Ugh!" Kashel merasakan hawa kebencian yang menyeruak, karena Kashel di dekatnya Guardian tidak merasakan apa-apa sebab Kashel menetralkan energi gelap yang ingin melahap Guardian.


Berkat itu, pertarungan mereka terasa lebih mudah. Dengan mantra pelindung milik Kashel. Badai kegelapan itu tidak berarti apa-apa untuk Guardian, tapi Kashel menerima tekanannya karena mantra pelindungnya.


Mereka berdua sedang mencari inti dari badai kegelapan itu, badai kegelapan yang datang selalu memiliki inti, itu adalah batu sihir hitam yang berasal dari alam roh.


Kashel dan Guardian terbang menggunakan elemen angin milik Guardian karena Kashel harus fokus pada mantra penghalangnya. Biasanya Guardian melakukan hal ini sendiri makanya Guardian sering terpengaruh oleh kegelapan dan mengacaukan Kashel juga.


Setelah menjelajahi badai itu Kashel melihat ada titik hitam yang pekat tidak jauh di depan mereka.


"Bertarung bersamamu atau tidaknya tidak ada bedanya! Aku masih merasakan hal yang sama." Kashel protes, tidak terima karena semua beban kegelapan dia yang tanggung.


"Itu adalah tugasmu Kashel." Dengan santainya Guardian berucap seperti itu.


"Kepalamu! Kalau begitu lebih baik sama-sama saja kita tanggung kegelapannya." Kashel sepertinya mulai menggila, Guardian menatapinya berpikir apa itu perintah.


"Sudahlah, aku tidak mengatakannya benar-benar. Cepat hancurkan inti hitam pembuat onar itu." Kashel sudah reda dengan kekesalannya.


Guardian mengeluarkan pedang cahaya. Pedang cahaya yang dipegang oleh Guardian itu tampak nyata karena itu adalah wujud sesungguhnya dari pedang cahaya, milik Kashel hanyalah duplikatnya jiwa dari pedang cahaya itu.


KRAK!


DAAS!


JDAR!


Inti hitam itu hancur berkeping-keping ketika pedang cahaya menebasnya. Perlahan badai kegelapan memudar dan sedikit demi sedikit menghilang.


Para bangsa peri juga berhasil menangani roh-roh kegelapan lemah yang mengacaukan tempat tinggal mereka, walaupun sebagian dari mereka terlihat sangat kelelahan karena sebelumnya mereka belum pernah bertarung sama sekali.


Namun, karena kejadian itu mereka sangat puas dengan pencapaian mereka dan bertekad menjaga tanah mereka dengan tangan mereka sendiri, tidak bersembunyi lagi ketika Roh Kegelapan penghuni hutan ini menjajah tempat tinggal mereka. Mereka merasa bisa jika harus berusaha.


Tidak ada yang terluka berat bahkan Fellos dan Stella yang sempat batuk darah sudah terlihat baik-baik saja walaupun mereka kelelahan.


"Setidaknya pemikiran mereka bisa berubah sekarang, walaupun mungkin masih membenci manusia," gumam Kashel berjalan ke arah mereka semua di samping Guardian.


.


.


.


.


"Jadi tugas kita di sini sudah selesaikan?" Kashel berdiri di samping Guardian. Guardian hanya diam saja, tidak menjawab.


"Pokoknya kalau kau mau tinggal di sini tinggal saja sendiri aku mau pulang." Kashel mengeluh kesal.


"Sabarlah sebentar lagi Kashel," ujar Guardian membuka suara.


Stella berjalan ke arah Kashel, dia yang tadi terluka kini sudah terlihat baik-baik saja, bangsa peri juga memiliki kemampuan sihir regenerasi sehingga luka mereka bisa pulih dengan cepat. Mungkin hal itu juga yang membuat mereka jadi berumur lebih panjang.


"Terima kasih Kashel, berkat dirimu. Bangsaku sedikit mau berubah. Ke depannya semoga bangsa peri yang lain, bisa juga berperilaku seperti penduduk di kota peri ini."


"Hah? Jadi ini masih belum semuanya?" Kashel terbengong kaget.


"Tentu saja bangsa kami juga ada banyak Kashel walaupun tak sebanyak manusia, di wilayah ini hanya sebagian kecil dari bangsa peri seharusnya."


"Sejujurnya aku baru tahu," Kashel berbicara jujur.


"Maafkan aku yang sudah menghina manusia, bangsa kalian benar-benar hebat karena sudah menjaga dunia ini dari makhluk kegelapan, yang kami bahkan menghadapinya benar-benar kelelahan." Fellos berucap, akhirnya kata maaf terlontar juga dari mulutnya.


"Kuharap kita bisa saling menghormati satu sama lain, makhluk dari dunia cahaya harus bisa bekerja sama dalam membasmi kegelapan untuk kedamaian dunia ini." Kashel demikian dengan yakin, karena ia tahu jika ingin membasmi kegelapan ia tidak bisa sendiri tapi butuh orang lain untuk mendukungnya juga.


Kashel dan Guardian akhirnya bersiap untuk pulang. Semua orang memberikan hormat pada kepulangan mereka, sampai akhir para peri tidak mengetahui identitas Kashel yang sesungguhnya.


Mereka hanya yakin Kashel adalah orang yang sangat penting untuk Guardian, kehadiran manusia itu di dekat Guardian seperti menghilangkan energi negatif Guardian yang biasanya ditakuti oleh para makhluk di dua dunia.


.


.


.


Kashel terlihat sangat senang ketika kakinya mulai memijak di depan kantor divisinya.


Kashel berjalan di depan dan Guardian yang sudah berubah wujud menjadi Lyam membuntuti Kashel di belakangnya.


"Wah ayah dan anak itu sudah pulang." Salah satu teman Kashel berucap.


"Siapa yang berbicara tadi barusan?" Kashel langsung menyahutnya.


Hari itu masih termasuk pagi, jadi para anggota Divisi Batas Senja semua baru pulang dari misinya. Semuanya bersantai di kursi menunggu sarapan mereka jadi.


"Kashel kau sudah kembali?" Grizelle menengok dari arah dapur menggunakan celemek dan memegang sutil di tangan kanannya.


"Biar aku membantumu," Kashel langsung mendatangi Grizelle girang, menurut Kashel gadis itu sungguh cantik sekarang. Ia tidak peduli dengan teman-temannya yang lain sedang menatapinya.


"Duo bucin bertingkah." Gumam Rigel malu sendiri melihat kelakuan dua orang itu.


"Makanya cari pacar sana," Luan melewati Rigel dan mendudukkan diri di meja makan.


Luan terlihat seperti anak kecil yang menunggu ayah dan ibunya selesai memasak.


"Juga mau punya pacar." Chain bergumam sambil menopang dagunya dengan lengannya melihat kedekatan Kashel dan Grizelle.


"Bisa saja kau dapat pacar asal kau berhenti jadi mata keranjang." Erphan berucap sambil meminum kopi buatannya menghilangkan kantuk.


"Tapi mereka menarik sih semuanya cantik." Ujar Chain lagi.


"Jangan berharap kau menemukan pacar jika seperti itu," timpal Freda yang sedari tadi hanya diam.


"Kashel laporan menumpuk!" Anna berteriak dari dalam ruangan.


"Suruh Lyam yang bereskan." Kashel berteriak menyuruh Anna tapi Anna tidak menyahut.


"Lyam tolong bereskan laporan ya, kaukan tidak membutuhkan istirahat seperti kita!" Kashel berteriak di lantai bawah, Lyam tidak menyahut tapi Kashel mengerti pasti Lyam mengambil alih tugasnya jika disuruh.


Kyler keluar dari ruang kerja yang sama dengan Kashel tidak lama setelah Lyam masuk ke dalamnya.


"Ketua sudah kembali?" Kyler menuruni tangga.


"Nyenyak tidurmu?" Luan mengejek Kyler yang sepertinya turun karena terganggu oleh kehadiran Lyam di sana.


"Berisik!" ketus Kyler pada Luan. Ia tampak menguap dan mendudukkan dirinya di meja makan.


Pagi itu Grizelle menyiapkan nasi goreng untuk mereka sarapan. Semuanya duduk di kursi mereka masing-masing dan mulai memakan sarapannya.


Kashel yang suasana hatinya rusak beberapa waktu lalu sudah terlihat bahagia kembali. Karena kehadiran Grizelle di dekatnya.


.


.


.