The Borders

The Borders
Bagian 86 – Pertarungan Melawan Orang Misterius



"Serahkan batu kristal itu. Jika tidak aku akan menghancurkan seluruh desa ini." Ancam pria berjubah itu.


"Kau pikir akan semudah itu, benda itu berharga bahkan kami menyembunyikannya dari Kantor Pusat." Ujar Leon tidak mau kalah.


"Apa yang kau sembunyikan, hah?" Erphan muncul di antara mereka.


"Jangan ganggu aku!" Leon malah marah.


"Sepertinya aku tertinggal pertarungan yang menarik." Ujar Chain bersiap dengan roh pelindung miliknya.


"Kami ada dipihakmu Leon, meskipun kau cukup menyebalkan." Ujar Erphan terlihat fokus pada musuhnya.


"Dia kuat asal kalian tahu." Meskipun begitu Leon tetap memberitahu mereka bagaimana kekuatan musuh mereka.


Mereka bertiga kemudian bertarung saling bahu membahu. Tapi meskipun sendiri energi hitam milik pria berjubah itu berfungsi sebagai tameng sekaligus juga alat untuk menyerang. Mereka kewalahan menyerang orang itu.


"Dasar lemah." Gumamnya.


Ia kemudian menyerang ketiganya secara serempak dan membuat mereka semua terpental, beruntungnya roh pelindung mereka dengan sigap menangkap tuan mereka.


"Kita tidak bisa meremehkan energi sihir kegelapan itu." Gumam Leon merintih kesakitan.


Kemudian pria berjubah itu mengumpulkan energi hitam untuk mengakhiri pertempuran mereka. Mereka bertiga yang kesakitan hanya bisa pasrah karena roh pelindung nereka juga lumpuh saat menangkap tuan mereka yang terhempas dengan kuatnya.


"Matilah kalian semua." Pria berjubah itu ingin mengakhiri pertarungan itu dengan membunuh ketiga orang tersebut.


"Pedang cahaya." Kashel melalui portalnya muncul di belakang pria berjubah itu dan langsung menebas energi hitam yang ingin menyerang teman-temannya. Bersamaan dengan orang yang mengeluarkannya. Tapi orang itu sempat menggunakan teleportasinya sehingga energi gelapnya saja yang berhasil dihilangkan oleh Kashel.


"Cih! Kenapa ada orang ini di sini." Ucap pria berjubah itu menghindar.


Ia bisa terbang dengan energi hitam yang ia miliki, ia melihat Kashel menatapnya dengan tajam dan turun dari udara secara perlahan dan tenang.


Teman-temannya merasa itu bukanlah Kashel yang mereka kenal. Mata merah milik Kashel berkilat saat itu. Teman-temannya ketakutan, meskipun energinya tidak terasa mereka tahu Kashel sedang lepas kendali.


"Hei Leon bodoh jangan dekati Kashel saat dia seperti itu!" Erphan berteriak nyaring, saat Leon mencoba mendekat ke arah Kashel entah karena penasaran atau apa.


"Siapa kau sebenarnya?" Leon malah menanyakan hal konyol di saat Kashel dalam keadaan seperti itu, sama saja cari mati.


"Siapa kau?" Kashel berucap suaranya berbeda dari biasanya. Lebih dingin dan tegas.


.


.


.


Di alam bawah sadarnya ...


"Hei naga sialan, lepaskan aku. Jangan ambil alih diriku. Sialan!" Kashel meronta-ronta ia sedang dikurung oleh The Borders dan itu kesempatannya untuk mengambil alih diri Kashel.


"Lepaskan aku!" penghalangnya sedikit retak akibat tinjuan Kashel tapi Kashel tidak punya begitu banyak tenaga karena ada tekanan yang ia dapatkan dari berbagai arah.


"Apa yang sebenarnya terjadi tekanan dari mana asalnya itu?" tanya Kashel kebingungan.


"Aku harus keluar dari sini, naga buas itu akan melukai teman-temanku jika aku membiarkannya." Kashel terus berusaha melawan, meskipun merasa kelelahan.


.


.


.


"Untuk bebas dalam waktu yang lama, aku tidak bisa menggunakan sihirku dalam jumlah yang banyak. Belum lagi aku harus membagi kesadaran di tempat lain." The Borders saat ini juga sedang mengendalikan Lyam.


"Kenapa dia sangat kecil." The Borders mengoceh sendiri.


.


.


.


"Hei kubilang siapa kau?" tanya Leon lagi dengan tidak sopannya.


"Aku adalah pemilik tanah ini." Ujar Kashel yang dirinya diambil alih menatap Leon dengan seram, ia menahan energi sihirnya yang besar untuk bisa mengambil kesadaran Kashel lebih lama, karena jika energi sihirnya dibiarkan keluar secara terang-terangan ia akan diikat dan dikembalikan ke tempat asalnya alam bawah sadar Kashel.


"Aku tidak percaya, manusia yang menggunakan kekuatanku bisa mengikatku sekuat ini." The Borders menatap kalung yang dipakai olehnya. Itu seperti rantai yang membelenggunya.


"Tapi tak apa aku tidak masalah." Ucapnya lagi berbicara sendiri. Lebih tepatnya berbicara dengan Kashel yang sekarang bertukar tempat dengannya.


"Kau tidak bisa meremehkan Pamanku." Ucap Kashel tertawa meremehkan.


Namun, dengan membabi buta Leon malah mencoba menyerang Kashel. Ia langsung dicekik dengan kuat oleh The Borders.


"Apa aku harus membunuhnya? Naga kecil ini." Ucap The Borders dingin.


"Hei naga gila, jangan menyakiti teman-temanku dengan tanganku." Cengkraman milik The Borders melemah karena perlawanan kuat Kashel.


"Aku akan diam sekarang, kau boleh menggunakan tubuhku. Aku tidak akan melawan, aku lelah juga sebenarnya. Tapi, jangan sakiti temanku. Aku tidak kau harus menjaga mereka." Kashel berucap, baru kali ini ia merasa dirinya bebas dari berbagai macam tekanan yang menyeruak dalam dirinya, ketika ia pasrah saja tekanan yang di terimanya menghilang. Kashel ingin beristirahat karenanya.


The Borders melepaskan cengkeramannya. Kashel memilih duduk diam saja di alam bawah sadarnya, ia malah bersantai di sana.


Apakah ini yang naga gila ini lakukan di sini. Sedangkan aku, malah menerima berbagai macam penderitaan di luar. Batin Kashel merasa kesal, ia ingin istirahat sebentar. Meskipun ia bisa saja melepaskan diri jika Kashel mau tapi Kashel lebih memilih diam saja karena merasa nyaman.


"Hei naga gila, apakah Lyam sudah baik-baik saja?" tanya Kashel sangat tidak sopan.


"Bisakah kau berhenti memanggil naga Agung ini dengan sebutan seperti itu." The Borders protes dengan narsisnya.


"Kau adalah makhluk narsis rupanya, tidak ada yang lebih cocok dari panggilan itu untukmu." Kashel malah tertawa.


"Lyam sudah kembali ke kesadarannya jadi kau tidak perlu khawatir." The Borders tidak mempermasalahkannya.


"Baguslah, kau bisa menikmati tempat kelahiranmu ini, lagi pula ini tanahmukan. Aku tidak masalah, aku akan diam di sini sejenak. Jaga temanku baik-baik, jangan berbuat aneh-aneh pada diriku dan satu lagi jangan kau coba-coba membunuh orang dengan mengotori tanganku. Kalau bisa kau harus menolong orang."


"Banyak sekali permintaanmu, tapi aku akan menurutinya. Lagi pula aku bukan makhluk rendahan seperti itu." Kashel setelah itu benar-benar mengistirahatkan dirinya di alam bawah sadarnya.


"Uhuk! Uhuk!" Leon terbatuk-batuk akibat cengkeraman kuat dari Kashel.


Tubuhnya kurus tapi kekuatannya tidak main-main. Batin Leon terus terbatuk memegang lehernya yang sakit.


Chain dan Erphan menghampiri Kashel dan Leon.


"Kashel kau sekarang tidak apa-apa?" tanya Chain.


"Kalian siapa?" rupanya The Borders tidak pernah memperhatikan teman-teman Kashel sama sekali.


"Kau siapa?" Chain malah tanya balik dan memegang dahi Kashel.


"Kau tidak sakitkan Kashel?" tanya Chain lagi sambil memeriksa keadaan Kashel.


"Jangan sentuh-sentuh aku." Dinginnya menyingkirkan tangan Chain menatap tajam.


"Aku bukan Kashel, anak itu katanya sedang istirahat. Tapi tidak apa-apa jika kau memanggilku dengan namanya." Ia menjelaskan dengan tampang dingin dan angkuhnya.


"Ka-kau?!" Chain dan Erphan nampak terkejut ketika siapa yang berada di depan mereka. Mereka merasa merinding. Leon hanya menatap heran kelakuan dua orang itu.