The Borders

The Borders
Bagian 67 – Rainer Versus Serigala Buas



Kashel kembali lagi ke dalam tempat di dalam dirinya yang terlihat seperti ruang kosong yang putih bersih.


"A-apa ini?" gumamnya hanya bisa memperhatikan tanpa bisa berbuat apa-apa.


Ia melihat di sekitarnya seperti menyerap energi gelap itu sedikit demi sedikit dan menetralkannya. Tapi perasaan itu membuat Kashel lelah.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada tempat ini?" gumam Kashel ia tidak mengerti, tiba-tiba gumpalan asap gelap datang mendekati Kashel dengan cepat. Pemuda itu lari ketakutan setelahnya. Tanpa sepengetahuannya energi gelap yang mengejarnya telah lenyap di belakangnya.


"Kashel!" Rainer membangunkan Kashel, membuat Kashel bangun dengan sangat terkejut. Tubuhnya dipenuhi oleh peluh saat itu.


"Ada apa Kashel, kau baik-baik saja?" tanya Rainer khawatir, Kashel hanya mengangguk sambil membenarkan nafasnya.


"Aku bermimpi buruk, Paman. Aku merasa energi gelap hutan ini mengejarku." Jelas Kashel.


"Kau tidak boleh takut Kashel, karena jika kau takut energi itu akan semakin kuat mengejarmu." Ujar Rainer menjelaskan, sekarang giliran dirinya beristirahat. Meskipun berbahaya, tapi mau tidak mau ia harus beristirahat untuk mengembalikan tenaganya.


Kashel setelah itu kehilangan rasa kantuknya, ia hanya diam memeluk lututnya menatapi api unggun kecil yang ada di depannya takut tertidur setelah apa yang ia alami beberapa waktu tadi. Di sampingnya ada Rainer yang sedang beristirahat.


.


.


.


Kashel merasa hawa gelap itu mengerikan karena meninggalkan rasa ketakutan yang nyata.


Kemudian Kashel teringat dengan energi milik The Borders yang pernah ia lihat juga di dalam dirinya, ia merasa sangat takut karena makhluk itu sangat amat besar dan bisa saja langsung melenyapkan keberadaan Kashel, tetapi rasa takut yang diberikan energi dari The Borders itu berbeda. Rasa takut yang memberikan ketenangan.


"Kenapa aku memikirkan itu, lagi pula sebenarnya sama saja. Seluruh energi sihir itu sama-sama menakutkannya." Gumam Kashel sendiri.


Energi The Borders itu menakutkan karena terlalu besar dan dahsyat apalagi di sekitarnya telah ada energi-energi gelap yang sedang mencoba mempengaruhinya. Membuat energi itu menjadi lebih menakutkan. Kashel seharusnya tidak bisa membandingkannya dengan apapun. Tapi, Kashel juga tidak bisa meremehkan energi gelap murni yang membangkitkan rasa ketakutan, kebencian, dan kegelapan di hati.


Tidak berapa lama, petir biru hitam tiba-tiba keluar dari tubuh Rainer. Kashel tampak terkejut dan langsung mundur.


"A-apa yang terjadi pada Paman." Kashel bingung harus melakukan apa. Tapi ia tidak bisa membiarkan Rainer seperti itu, tidak perduli ia akan terluka atau tidak karena petir yang Kashel sentuh.


"Paman!" Kashel langsung menyentuh bahu Rainer dan merasakan ada getaran kuat yang merasuki dirinya tapi karena panik Kashel tidak mempedulikan hal itu, kekuatan sihir Rainer juga bisa dilihat oleh mata manusia biasa Kashel, karena kekuatan sihir Rainer adalah kekuatan sihir yang cukup kuat dan berbeda.


Rainer langsung tersadar dan mendudukkan dirinya. Ia bersyukur bisa terbebas dari Roh Kegelapan yang membelenggunya di dalam alam bawah sadarnya karena kedatangan Kashel yang menyentuh dirinya, ia tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika Kashel tidak ada di tempat itu atau jika itu bukan Kashel yang menghilangkan kegelapannya.


"Kita tidak bisa tidur di sini malam hari Kashel." Jelas Rainer.


Akhirnya sampai matahari terbit mereka tidak tidur Kashel hanya memainkan api unggun saja karena ia tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan Rainer ia menatap langit yang malam itu bulannya bersinar terang. Mereka berdua kehilangan rasa kantuk mereka atau lebih tepatnya menahan kantuk mereka.


Lalu, setelah matahari terbit mereka baru beristirahat karena energi gelap di sana hanya kuat ketika malam hari, mereka di sini tidak pernah memangsa manusia. Jadi roh-roh yang ada di sini tidak sempat untuk berevolusi.


Setelah matahari sedikit terik Kashel dan Rainer melanjutkan perjalanannya lagi.


Kali ini mereka berjalan di tempat yang dipenuhi oleh badai salju yang pekat, kuda yang mereka bawa mereka tinggalkan karena di tempat ini tidak mungkin mereka bisa berkuda. Kashel bahkan sampai bergetar saat berjalan di tengah salju itu, meskipun telah menggunakan pakaian dingin Kashel tetap masih tidak terbiasa.


"Bertahanlah Kashel kita harus cari tempat berteduh. Dan melanjutkannya besok lagi." Ucap Rainer mengajak Kashel yang tampaknya sudah setengah sadar saat berbicara. Hawa dingin membuat Kashel tidak kuat lagi.


Beruntungnya tidak lama akhirnya Rainer menemukan gua yang bisa ia gunakan bermalam.


Di situ Kashel terkena gejala hipotermia karena tidak terbiasa dengan suhu yang ekstrim. Di tempat mereka tinggal di kota Baltesam hanya terdapat dua musim, musim hujan dan musim panas.  Kali ini ia benar-benar merasakan hawa dingin yang ia tidak tahu jika akibatnya akan separah ini.


Rainer menggunakan sihirnya untuk mengeringkan tubuh Kashel yang menggigil kedinginan kemudian menyalakan api unggun dan menghangatkan Kashel di situ.


"Aku merasa mengantuk, Paman." Gumam Kashel ia tidak tahan lagi dengan rasa kantuknya.


"Bertahanlah Kashel, berusahalah untuk tidak tertidur sekarang." Rainer berucap pada Kashel untuk membuat pemuda itu tetap sadar dan tetap terjaga untuk tidak tertidur karena itu bisa memperparah gejala hipotermianya.


Seekor serigala putih masuk ke dalam gua itu ingin menyerang mereka, tapi tampaknya serigala itu bukanlah serigala biasa, tetapi Roh Kegelapan yang merasuki si serigala.


Ia langsung melompat menyerang Rainer dan Rainer memancingnya keluar, bahkan di tengah badai salju mereka masih harus bertarung. Tapi Kashel saat ini tidak bisa melakukan apa-apa, ia masih harus memulihkan dirinya.


Beruntungnya Rainer bisa mengalahkan serigala itu dan membunuhnya meskipun serigala itu dirasuki oleh Roh Kegelapan. Kekuatan serigala itu tetaplah lemah karena yang merasukinya hanyalah Roh Kegelapan lemah yang tinggal di lembah bersalju itu. Roh Kegelapan yang merasa tertarik karena keberadaan manusia.


Namun ternyata, serangan serigala itu tidak berhenti sampai di situ saja, tetapi ia memanggil teman-temannya yang lain. Sehingga hal itu harus membuat Rainer bertarung sepanjang malam di tengah badai salju. Beruntungnya ia bisa sihir sehingga dingin bisa ia tahan, tidak seperti Kashel.


Ada satu yang rupanya masuk ke dalam gua tempat Kashel beristirahat Rainer dengan gesit langsung sigap melihat keadaan Kashel, alangkah kagetnya Rainer ada serigala yang menindih badan Kashel dan darah mengucur deras di tanah.


Ia kira saat itu Kashel telah mati digigit oleh serigala itu, namun saat serigala itu bergerak, ternyata itu adalah Kashel menyingkirkan serigala yang berhasil ia bunuh dari tubuhnya, Rainer merasa lega. Kashel tidak berkata apa-apa langsung meletakkan pedang kecilnya sembarangan. Ia masih dalam keadaan tidak stabil tapi terpaksa bertarung sampai akhirnya ia jatuh tertidur.


Paginya Kashel bangun dengan keadaan sudah baikan. Ia ingat semalam refleks membunuh seekor serigala yang tiba-tiba ingin menerkamnya saat Rainer bertarung di luar. Tidak jauh darinya terlihat Rainer yang telah tidur sembarangan kehabisan tenaga dengan tumpukan bangkai serigala.


"Paman!" Kashel panik ia pikir Rainer sedang tidak baik-baik saja.


"Biarkan aku istirahat Kashel," gumam Rainer membuat Kashel bernafas lega karenanya. Tubuh Rainer terlihat banyak terkena darah dari serigala-serigala yang ia bunuh begitu juga baju yang Kashel pakai. Kashel menyelimuti Rainer yang tertidur. Pagi itu badai salju telah terhenti, cuaca di sekitar terlihat cerah walaupun terdapat banyak bangkai serigala.


Siangnya setelah mereka berdua benar-benar merasa baik-baik saja dan mengisi perut mereka. Mereka melanjutkan perjalanan mereka.


.


.


.