The Borders

The Borders
Bagian 101 – Serangan Golem Api



"Tembakan bayangan."


Itu tidak berpengaruh banyak golem-golem itu malah memecah dirinya jadi kecil saat itu dan bersatu kembali menjadi lebih besar.


"Tembakan tanah." Begitu juga elemen tanah yang di kuasai oleh Argai malah membuat bahan baku mereka, mereka menyerap tanah Argai dan tambah membesarkan tubuh mereka.


Kashel pun juga ingin mencoba membuat peluru api, ia menodongkan pedangnya ke arah salah satu golem api di depannya.


Semua teman-temannya merasakan tekanan yang panas saat Kashel menciptakan bola api besar itu.


"Bola api!" teriak Kashel dan bola api tercipta di ujung pedang Kashel, dan melesat ke arah golem-golem yang berada di depannya.


DAAR!


Ledakan dahsyat dan panas terjadi bahkan membuat gua itu bergetar menjatuhkan reruntuhan.


Teman-teman Kashel terperangah kaget dengan kekuatan itu. Golem api itu langsung hancur dan bahkan tidak menyisakan apapun lagi, ia benar-benar hancur.


Namun, kekuatan itu juga cukup berbahaya untuk teman-teman Kashel yang lain karena bertarung di ruang sempit. Beruntungnya ada Kyler yang mendinginkan ruangan yang sedang memanas itu dengan Quirin roh pelindungnya roh pelindung berbentuk Yeti itu meniupkan nafas dinginnya ke seluruh ruangan. Tapi Kyler juga punya batasan dalam kekuatannya, tidak seperti Kashel yang punya lebih banyak tenaga.


"Kashel jangan gunakan bola api itu lagi, kita akan mati terpanggang disini jika kau terus nekat menggunakannya." Kyler berucap energi sihirnya terkuras banyak setelah digunakan untuk mendinginkan ruangan itu.


Akhirnya meskipun panas mereka berempat lebih memilih menggunakan kekuatan mereka dalam pertarungan jarak dekat. Merubah kemampuan mereka menjadi pedang.


Sementara roh-roh pelindung milik mereka menghalau gerakan-gerakan Golem yang menyerang mereka semua. Roh pelindung Argai yang menyerupai banteng terus menyeruduk para golem-golem itu agar tidak segera mendekat Argai dan teman-temannya.


"Pedang bumi,"


"Pedang Es,"


"Pedang bayangan,"


Mereka bertiga memegang senjata sihir andalan mereka masih masing.


Kemudian mereka melesat dengan cepat dan menyerang satu persatu golem api itu.


SRAT!


DASH!


BLURG!


Sekali serangan mengenai inti api dari golem-golem itu, membuat mereka hancur dan tidak bisa bangkit lagi.


"Coba tahu dari tadi kita lakukan ini." Kyler berucap sambil menyerang golem terakhir.


"Ukh!" Freda terduduk sepertinya ia terkena cipratan magma dari golem api itu.


Ketiga lelaki itu mendatangi Freda, Kashel tidak bisa melakukan apa-apa ia hanya bisa mengambilkan tas yang berisi obat, tapi tidak mengobatinya. Ia juga harus menjaga tangan kanannya yang terbakar dari bajunya agar tidak merusaknya. Ia hanya bisa melihat Argai yang membalut luka bakar di lengan Freda.


Obat yang diberikan Luan pada mereka sangatlah ampuh, luka bakar itu akan sembuh hanya dalam beberapa jam tanpa bekas apapun. Bahkan Freda tidak merasakan sakit lagi setelah dioleskan oleh ramuan seperti salep itu.


Mereka pun akhirnya memilih untuk beristirahat di sana sampai luka Freda sembuh.


.


.


.


Kemudian mereka berempat mencari jalan keluar dari gua itu memeriksa setiap sela-sela yang ada di dinding. Tapi kemudian Freda menemukan sebuah ukiran unik seperti bentuk api.


"Hei, aku menemukan petunjuk!" seru Freda pada teman-temannya. Semuanya langsung berkumpul ke sana. Argai memperhatikan simbol itu. Dan meraba-rabanya sambil mengingat-ingat sesuatu.


"Ah, begitu. Kashel taruh tanganmu yang terbakar itu di simbol ini." Pinta Argai dan Kashel pun menurutinya.


Kemudian setelah Kashel menyentuhnya suara batu-batuan mulai roboh di depan mereka.


"Jadi, Kashel yang punya elemen api adalah kunci untuk berkeliling tempat ini." Argai langsung menjelaskan ke intinya.


"Berarti jika kita tidak membawa orang yang memiliki elemen api, kita akan terjebak di sini selamanya?" tanya Kyler takut-takut membayangkannya.


"Ya, seperti itulah intinya." Mereka bertiga mengeluarkan keringat dingin. Jika itu Kashel, mau batu sihir apapun dengan membawanya pasti akan bebas karena ia adalah pengguna banyak elemen.


.


.


.


Mereka pun menghancurkan batu-batu yang menghalangi pandangan mereka.


Kemudian cahaya menyeruak dari arah batu yang mereka hancurkan.


Mereka melihat sebuah pusat kota sihir yang sudah tenggelam di dalam tanah. Tempat itu memiliki cahaya sendiri entah darimana cahaya itu berasal yang jelas sekarang mereka berempat berada jauh di dalam tanah sekarang.


"Woah!" Kashel terperangah melihat bekas peradaban maju di sana, meskipun sudah tertutup oleh lumut-lumut, tapi kemegahan tempat itu masih terlihat sangat jelas. Mereka berempat pun turun perlahan menuju halaman reruntuhan kota itu.


.


.


.


WUSH!


Ada angin berhembus di belakang mereka, membuat mereka berempat terkejut, Kashel dan yang lainnya langsung menoleh waspada. Sebuah portal muncul, itu adalah Lyam.


"Astaga, kau membuatku terkejut." Kashel langsung menyambut kedatangan Lyam.


"Orang itu bisa membuat portal dan langsung sampai ke sini, siapa dia?" Argai kebingungan.


"Sebaiknya kau tidak perlu tahu, lagi pula jika mereka berdua ada di sini kita yakin bisa pulang dengan selamat." Kyler menjelaskan.


Simbol aneh muncul di kepala Lyam dan dari sana mengeluarkan api.


"Heh, aku sekarang tidak sendiri." Kashel langsung mengatai Lyam yang dahinya berapi.


"Lihat tanganmu sendiri Kashel, jangan sampai kau malah membakar bajumu, karena sibuk mengejekku." Lyam berucap dingin Kashel panik karena bajunya ternyata benar-benar hampir terbakar.


.


.


.


"Akhirnya kau menyusul juga," Kashel berjalan di samping Lyam, sedangkan yang lainnya sibuk mencari petunjuk.


"Urusanku baru selesai." Lyam berucap singkat. Lyam terlihat memperhatikan reruntuhan itu.


"Ada apa Lyam, kau pernah kemari sebelumnya?" tanya Kashel melihat Lyam yang seperti teringat sesuatu dan seperti mengenali tempat ini.


"Iya, beberapa ratus tahun lalu."


"Hei, sebenarnya berapa umur pastimu?" tanya Kashel kaget.


"Mungkin sekitar 800 tahun."


"Gila, kau abadi?!" Kashel benar-benar syok, ia takut jika ia akan berakhir seperti Lyam juga menjadi makhluk abadi. Kashel pikir Lyam berumur lebih muda dari itu, ternyata keluarga Kendrick sudah banyak melewati masa ke masa.


"Sekarang sudah tidak, kehidupanku terikat padamu. Jika kau mati aku juga akan mati, biar bagaimanapun manusia tetaplah manusia. Kecuali kalau ia menyerahkan jiwanya ke iblis, mungkin ia akan dapat umur sedikit lebih panjang tapi itu tidak bagus untuk dilakukan, kau akan menderita karenanya." Lyam memperhatikan tanah di tempat itu. Mungkin kota itu sudah runtuh sekitar 200 tahun yang lalu.


"Ah, syukurlah." Kashel merasa lega karena ia masihlah tetap manusia.


"Tempat ini runtuh setelah aku membunuh pemimpin mereka." Lyam berucap datar.


"Hah?! Kau membunuh orang?" Kashel tidak percaya dengan apa yang Lyam katakan.


"Aku ini bukan manusia Kashel, aku tidak tahu perasaan manusia. Jadi apapun yang menghalangiku dahulu, aku akan menyingkirkan mereka."


"Kau benar-benar mengerikan. Aku tidak percaya, akan terikat dengan orang mengerikan seperti dirimu." Kashel mengeluh, tapi tetap tidak akan ada yang berubah.


"Semenjak terikat denganmu aku bisa memahami sedikit perasaan manusia. Jadi sekarang aku sedikit bisa menahan diri." Ujar Lyam, kali ini Kashel hanya menatapinya saja.