
...****************...
"Apakah di masa depan aku akan menjadi orang yang berbeda?" tanya Freda memegang gelas berisi air hangat tangannya bergetar, saat ini ia sedang duduk di kursi kantor mereka.
Semua orang nampak berpikir cara menangani hal itu.
"Tetaplah berusaha menjadi dirimu yang kau inginkan Freda, di masa depan ketika kita menjadi musuh atau tidaknya hanya takdir yang tahu hubungan kita akan berakhir seperti apa." Erphan berucap menenangkan Freda, Kashel hanya terdiam, ia tidak ingin Freda menjadi bagian dari kegelapan tapi Kashel tidak tahu hal yang harus ia lakukan untuk menghentikan hal itu.
Kashel terlihat frustasi, apakah kebahagiaan yang ia cari selama ini akan berakhir dalam waktu singkat. Kashel tidak mau begitu memikirkannya, lebih tepatnya Kashel takut memikirkannya. Grizelle menenangkan Kashel yang nampak bersedih di pundaknya ia memeluk suaminya erat.
"Aku tidak ingin menjadi musuh kalian." Freda saat itu berkata dengan tulus, itu adalah perasaan dari lubuk hatinya.
Kebersamaannya dengan teman-temannya tidak bisa membuat Freda ingin mengkhianati mereka. Tapi, apa yang ada di balik masa lalu Freda ia tidak tahu juga, mungkin saja ada hal yang membuatnya terikat dengan kegelapan. Freda tidak ingin memikirkannya, ia ingin menikmati kebersamaan mereka sebagai sebuah keluarga lebih lama lagi. Terlebih Freda berharap mantra penghapus ingatan itu tidak berpengaruh pada ingatannya yang sekarang.
.
.
.
"Jadi sebenarnya Grizelle, kau tidak mempan terhadap sihir." Luan memberi pendapat setelah memeriksa Grizelle yang baik-baik saja tidak ada tanda-tanda bekas sihir hitam menempel pada tubuhnya sedikit pun.
"Suami istri ini punya hal yang sama, sebenarnya apa yang kalian pikirkan sih, sampai-sampai kegelapan lenyap dengan mudahnya." Ujar Luan, Luan berpikir jika ia bisa tahu alasan-alasan seseorang menjadi anti sihir gelap ia mungkin setidaknya bisa mengurangi kegelapan menguasai dunia manusia atau menghentikannya.
"Jadi Kashel, Grizelle. Apa yang membuat kegelapan tidak bisa mempengaruhi kalian?" tanya Luan penasaran.
"Berpikir positif,"
"Tidak terpaku dengan kesedihan,"
"Jangan larut dalam ketakutan,"
"Terus jaga hati dalam kebaikan."
Mereka berdua berbicara bergantian. Kemudian saling menatap.
"Huh! Ini sulit, jadi semuanya tergantung dari isi hati seseorang rupanya." Luan duduk di sofa sambil memegang dagunya berpikir. Berpikir apakah dia perlu membuat hipnotis atau membuat penemuan mencuci otak manusia agar hanya berpikir tentang kebaikan, ide yang konyol menurut Luan.
"Tapi aku mulai ingat saat aku masih kecil dulu, aku pernah bisa melihat Roh Kegelapan." Penjelasan Grizelle membuat semuanya membelalak kaget.
"Ada apa?" tanya Grizelle bingung.
"Kau serius?" Kashel kaget.
"Tentu saja, hingga saat ini aku terkadang bisa merasakannya."
"Waktu itu, waktu pertama kali kita bertemu dulu. Aku tahu kantor ini dihuni oleh sesuatu yang kuat, tapi itu hanya semacam perasaan saja, lalu orang-orang bilang tempat ini angker sampai suatu ketika aku mendapati dirimu jatuh di hadapanku, aku benar-benar terkejut saat itu sampai tidak bisa bergerak. Aku pikir aku bisa melihat lagi. Tapi ternyata kau manusia."
"Aku tidak tahu, saat itu aku masih sangat kecil, ketika aku melihat Roh Kegelapan. Aku tidak takut pada mereka, aku pikir itu hanyalah makhluk yang memang hidup berdampingan dengan kita. Mereka sering menabrak diriku tapi aku tidak merasakan hal apapun. Sama seperti udara berhembus melaluiku. Mereka hancur." Ujar Grizelle.
"Kau keren Kak," Kyler malah tertarik dengan cerita Grizelle.
"Setelah itu aku baru sadar ayah dan ibuku tidak bisa melihatnya. Dan aku memutuskan untuk tidak melihatnya juga, dengan keinginan kuat. Aku kehilangan kemampuan itu. Aku bisa merasakannya, tapi aku tidak melihatnya."
"Kau adalah manusia spesial tanpa kemampuan sihir. Aku pernah bertemu sekali dengan orang seperti dirimu dulu. Kegelapan tidak mempan kepadamu karena perasaanmu yang bersih. Roh Kegelapan tidak bisa mengganggu keberadaanmu, tapi kau bisa membuang kemampuan itu padahal hal itu seharusnya mustahil." Ujar Lyam, ia bertemu sekali lagi dengan orang sama yang ia temui di masa lalu.
Semua orang tampak penasaran, tapi Lyam tetap tidak menjelaskanya secara detail.
"Woah akhirnya aku mengerti, tapi tetap saja, jika sihirnya seperti milikku dan Lyam. Sihir yang terlihat di mata orang biasa. Grizelle bisa dalam bahaya." Kashel berucap sambil menatap Grizelle.
"Kau benar." Lyam hanya menjawab singkat kemudian pergi menjauh. Teman-teman Kashel tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
"Baiklah aku akan melakukan tugasku yang lainnya, Freda bisa kamu membantuku." Ajak Anna.
"Ah, tentu saja." Freda langsung beranjak dari sana mengikuti Anna.
"Ayo kita pergi istirahat saja." Chain mengajak, Erphan, Rigel, Kyler, dan Luan beristirahat.
"Aku ingin meneliti sesuatu dulu." Luan beranjak pergi meninggalkan dua pasangan muda itu. Begitu pula teman-temannya yang lain. Mereka dibiarkan untuk berbicara empat mata.
"Grizelle, aku ingin kau tinggal di tempat yang aman jauh dari gangguan Roh Kegelapan dan orang-orang dari Sekte Sihir Hitam itu." Ucap Kashel.
"Tidak Kashel bukankah kita sudah berjanji, ketika kita bersama apapun yang terjadi aku akan selalu berdiri di sampingmu. Aku tidak akan meninggalkanmu Kashel, di kantor ini ada banyak tempat tersembunyi. Jika kau dalam keadaan bertugas aku bisa saja berdiam di sana. Kalau menurutku, mereka tidak akan berani mengganggu tempat ini terus-terusan." Grizelle menolak permintaan Kashel.
"Jadi Kashel biarkan aku terus berada di sampingmu." Itulah permintaan Grizelle, pada akhirnya Kashel tidak bisa menolaknya. Saat mereka mulai larut dalam gairah, ponsel Kashel berbunyi nyaring membuat Kashel terkejut karenanya.
"Halo ada apa lagi?" tanya Kashel sedikit kesal.
"Kenapa kau mematikan ponselnya?" tanya Rai mengomel di seberang sana.
"Hei apa alat sihirmu itu tidak berfungsi dengan baik, tadi di sini Portal Kegelapan besar muncul dan pusat hanya diam saja, benar-benar gila." Kashel juga tidak kalah kesal.
"Portal Kegelapan apa, aku tidak tahu jika ada Portal Kegelapan yang muncul, mana di pagi hari."
"Hahaha, mungkin alat sihir kalian kurang canggih. Dengarkan aku Rai, kami semua yang berada di divisi ini dikurung oleh dimensi berbeda dari Portal Perbatasan." Jelas Kashel.
"Ah yang penting kalian tidak apa-apakan? Aku ada hal yang harus kubicarakan sekarang." Mendengar nada suara Rai yang terdengar serius Kashel menyimaknya dengan baik.
"Kashel, orang yang aku curigai bekerja sama dengan kegelapan adalah ayah Aqila. Tapi itu belum pasti, aku akan terus menyelidikinya. Kuharap kau belum memberitahunya pada Lyam atau dia akan sangat marah nanti." Ujar Rai khawatir, karena tidak ada bukti yang kuat Rai masih tidak bisa menyalahkan pemimpin sebelumnya.
"Uum, baiklah. Aku akan merahasiakan hal ini. Kau jaga dirimu baik-baik Rai, jika ada apa-apa yang terjadi pada dirimu. Aku tidak akan tinggal diam lagi." Ujar Kashel ia sedang menahan amarahnya. Ia ingin menceritakan semuanya pada Lyam, tapi ia tidak bisa melakukan hal itu karena belum ada bukti yang kuat.
"Kashel, apa kau siap mencari batu sihir lagi, aku sudah memberikan cuti padamu selama seminggu penuh." Ujar Rai, melanjutkan pembicaraannya sebelumnya.