
Segala ingatan yang menyakitkan menyeruak di benak Kashel, tapi Kashel tetap berusaha mencabut pedang itu, lagi pula ingatan itu tidak masalah untuknya karena ia sudah tidak peduli dengan hal itu, yang terpenting adalah kehidupannya sekarang.
"Aaaaaa!" Kashel mencabut pedang itu sedikit demi sedikit akhirnya pedang itu berada dalam genggamannya. Kesatria cahaya yang menjaga pedang itu kemudian menyatu dengan pedang itu.
Kashel masih dalam keadaan tidak sadarnya matanya terlihat bewarna putih saat itu di tubuh Kashel juga mengeluarkan cahaya yang membuat tubuhnya terlihat lebih terang karena pengaruh dari energi pedang cahaya yang ia pegang. Para Roh kegelapan di sekitarnya perlahan menyerang serempak tapi dengan satu ayunan pedang itu semuanya lenyap.
"Aaaaaaaa!" Kashel berteriak sekali lagi, ia kali ini berusaha melepaskan pedang itu dari tangannya. Ia bisa kehilangan dirinya jika terus memegang pedang itu. Keinginan yang membuatnya selalu ingin memusnahkan kegelapan.
KLANG!
Suara pedang itu terlepas dari tangan Kashel dan ia jatuh pingsan setelahnya. Rainer langsung menangkapnya agar tidak terjerembab ke tanah yang keras.
Pedang cahaya itu masih mengeluarkan sinarnya. Tiba-tiba sebuah portal terbuka itu adalah Guardian. Ia datang ketika merasa tugas telah diselesaikan.
Kemudian ia memegang pedang cahaya itu dan pedang itu lenyap masuk ke dalam dirinya.
"Kelak pedang ini juga akan menjadi milik anak ini kembali, dan itu tidak beberapa lama lagi." Ucapnya menatap Kashel yang tengah pingsan karena pengaruh energi yang cukup besar yang barusan ia lawan.
Rainer hanya diam saja, demi kedamaian dunia ini. Harus ada yang berkorban untuk menjaga kebahagiaan orang lain dan itu adalah mereka yang harus memperjuangkannya. Mereka yang terpilih.
"Kita harus segera kembali Rainer, biarkan anak itu aku yang membawanya. Aku akan memperbaiki energi yang sedang kacau pada tubuh anak ini." Jelas Guardian mengambil Kashel dari gendongan Rainer.
"Baik, Tuan." Rainer menunduk.
"Anak ini sudah berjuang dengan keras." Ujar Guardian lagi.
Rainer kemudian berjalan di samping Guardian memasuki portal dan kembali ke Pusat Kota terdekat di benua Barat.
.
.
.
"Uhuk! Uhuk!" Kashel bangun dari tidurnya. Badannya sakit semua, dan rasanya sudah lama ia tidak tidur di tempat empuk yang ia rasakan.
"Kau sudah sadar?" tanya Rainer yang mengupas buah apel di sampingnya.
"Apa yang sedang terjadi, Paman. Di mana kita sekarang?" tanya Kashel kebingungan. Ia tidak bisa bangun, badannya masih terasa sakit semua. Guardian hanya memulihkan stamina Kashel agar ia lebih cepat bangunnya.
"Ugh! Ini sakit." Rintih Kashel.
"Makanya jangan terlalu banyak bergerak Kashel." Ucap Rainer memberikan potongan apel pada Kashel.
"Terima kasih banyak, Paman." Ucap Kashel dan memakan apel itu.
Ini bukan rumah sakit, pikir Kashel.
"Paman, bagaimana ceritanya kita sudah sampai di sini?" tanya Kashel bingung.
"Dengan sihir Kashel." Jawab Rainer singkat memakan buah apelnya.
"Kalau begitu mengapa tidak dari awal kita menggunakan sihir untuk sampai ke sana, Paman." Kashel protes.
"Adu-duh!" rintihnya.
"Kubilang jangan banyak bergerak Kashel." Ucap Rainer lagi.
"Hal itu kita lakukan agar kita terlihat melakukan perjuangan Kashel. Makanya akhirnya kita bisa mendapatkan pedang cahaya itu, dan lagi dengan tidak berjalan mana bisa kita langsung sampai sana untuk menggunakan sihir, kita juga harus mengetahui rute perjalanannya." Jelas Rainer pergi meninggalkan tempat duduknya dan membiarkan Kashel berbaring sendiri.
"Jadi ke mana pedang cahaya itu sekarang, Paman?" tanya Kashel.
"Sudah di tangan orang yang tepat Kashel klien kita." Jawab Rainer lagi.
"Kau tidak perlu tahu." Rainer keluar dari kamar itu tanpa mengatakan apa-apa lagi.
SYUUUNG!
Hanya terdengar suara kipas angin yang berhembus di kamar penginapan sederhana itu.
"Pamaaan!" Sampai akhir, Kashel tidak mendapatkan jawabannya. Mungkin itu adalah salah satu penyebab Guardian tidak menyembuhkan Kashel sepenuhnya. Agar memudahkan Rainer tetap tutup mulut dan tidak berbohong pada Kashel sedikit pun. Karena Rainer adalah seorang pria yang tidak suka berbohong dan lebih senang untuk diam saja. Beruntungnya Kashel juga bukan manusia yang selalu ingin tahu.
.
.
.
Akibat kejadian itu kacamata roh Kashel rusak dan perlu diperbaiki di fasilitas sindikat. Di sanalah ia bertemu Rigel pertama kali.
Kashel saat itu dimarahi oleh keluarganya karena merusakan kacamata itu. Tapi karena Rainer ada di sisinya, tidak ada yang berani berbuat kasar pada Kashel hanya sekedar memarahinya saja.
Jadilah ia pergi sendiri ke Fasilitas Sindikat The Borders Organization saat itu dan menyelamatkan Rigel di sana. Tapi karena melakukan hal itu, lagi-lagi Kashel dimarahi tapi kali itu ia dimarahi oleh ayahnya sendiri.
"Kau kurang ajar, berani-beraninya melawan peraturan Kantor Pusat Kashel."
"Maafkan aku ayah." Kashel tertunduk takut.
"Jangan sakiti dia Tuan, aku akan bekerja di Kantor ini. Bekerja di lapangan pun tak apa. Tapi jangan sakiti dia Tuan atau saya akan mengobrak-abrik kantor ini dengan api saya." Rigel mengeluarkan api dari tangannya, tapi Kashel tidak melihat apa-apa.
Ayah Kashel mengeluarkan keringat dingin karena ancaman dari Rigel. Rigel itu termasuk pengendali elemen langka yang ditakuti. Jadi sebenarnya, keinginan dia bekerja di bawah perintah Kantor Pusat itu adalah sebuah keuntungan besar, jadi setelah itu ayah Kashel melepaskan Kashel yang ingin ia hukum.
Rainer hanya mendengarkan dari balik pintu, seandainya Rigel tidak membelanya, Rainer sendiri yang akan menolong Kashel.
"Kau tidak apa-apakan?" tanya Rigel khawatir. Kashel hanya mengangguk.
"Terima kasih," ucap Kashel dengan wajah yang masih pucat. Di situ Rigel bertemu dengan Rainer.
"Kashel kau baik-baik saja?" Rainer menghampiri Kashel, Kashel hanya mengangguk.
"Sudah, Paman aku sudah baik-baik saja." Kali ini Kashel sudah bisa tersenyum kembali.
"Jadi, kau mendapatkan teman baru Kashel?" tanya Rainer menatap Rigel.
"Ah iya, perkenalkan dia Rigel. Rigel ini Pamanku namanya Rainer." Ujar Kashel.
"Dia Pamanmu, tapi tidak sama sekali mirip dengan ayahmu tadi." Rigel memperhatikan Rainer sambil berucap blak-blakan. Bahkan wajah dan sifatnya sangat berbeda jauh, seperti bukan keluarga asli. Kashel hanya diam saja karena mereka memang sebenarnya tidak memiliki ikatan darah.
"Bukankah sebuah keluarga bisa saja dibentuk tanpa hubungan darah dan ikatan, asalkan saling menyayangi mereka bisa saja menjadi keluargamu yang berharga." Ungkap Rainer menjelaskan dan Rigel langsung paham, bahwa Kashel dan Rainer adalah orang yang saling mengikat hubungan keluarga tanpa hubungan darah dan ikatan.
"Ah, Paman benar sekali." Ujar Rigel, langsung membenarkan. Kashel hanya mengangguk mengiyakan.
Seorang pegawai wanita membawakan Rainer berkas untuk ia mendaftar kerja di Kantor Pusat, wanita itu terlihat bergetar saat memberikan berkas-berkas itu karena harus berdiri di hadapan orang-orang yang menurutnya menyeramkan, dan Rigel langsung menerimanya, wanita itu buru-buru pergi setelah menjelaskan semuanya kepada Rigel.
"Aku akan bekerja dengan baik di sini Kashel, jika kau punya kantor cabang sendiri yang kamu pegang, aku akan menjadi kaki tanganmu di sana." Ucap Rigel pergi meninggalkan Kashel setelah itu. Mereka tidak pernah bertemu lagi setelahnya. Karena disibukkan di pekerjaan mereka masing-masing.
.
.
.
.