
Kashel tersadar dari tidurnya dan membuka matanya perlahan, ia berada di kasur rumah orang.
Kashel langsung terduduk kaget.
"Sudah sadar Cu," ucap seorang kakek tua membawakan secangkir teh hangat untuk Kashel. Di belakangnya ada seorang wanita yang tampak malu-malu sepertinya itu cucunya, ia hampir seumuran dengan Kashel.
"Kami menemukanmu di tengah hutan tidak sadarkan diri tadi." Ujar sang Kakek menjelaskan sambil memberikan secangkir teh hangat pada Kashel.
"Terima kasih, Kek." Ucap Kashel sopan menerima teh hangat itu dan ia juga tersenyum hangat pada wanita yang berada di belakang kakeknya, tapi kemudian Kashel hanya menatapi minumannya saja tidak meminumnya.
Kashel takut jika itu ada racunnya, ia masih trauma karena kegelapan yang terus mengejarnya, pikirannya tidak bisa berpikir terlalu positif sekarang.
"Itu teh herbal Cu, kau bisa cepat pulih jika meminumnya." Kashel tersenyum sambil mengangguk sopan dan meminumnya ia percaya saja pada kakek itu. Tapi, kemudian Kashel tampak terkejut memandang sang kakek terkejut.
"Kakek baik-baik saja?" tanya Kashel menatap kakek itu tapi bukan wajahnya, namun apa yang ada di belakangnya.
"Kakek merasa sedikit kurang sehat saja Cu, beberapa hari ini. Uhuk! Uhuk!" kakek itu batuk-batuk ia terlihat lemah. Kemudian ia pergi dari kamar, meninggalkan Kashel dan wanita yang sepertinya adalah cucunya kakek itu.
"Ah, maaf ya menyambutmu dengan apa adanya." Ujar wanita itu malu-malu.
"Tidak apa-apa sudah merawatku di sini, aku sungguh berterima kasih." Ujar Kashel menghabiskan teh yang di buat oleh kakek tadi. Rumah itu hanya sebuah gubuk kecil yang terdiri dari dua kamar.
"Oh iya namaku Meila, dan kamu?" tanyanya mengambil gelas kosong milik Kashel.
"Namaku Kashel," ucap Kashel ramah. Kemudian Meila pergi dari kamar itu membawa gelas kosong Kashel.
Apa yang harus kulakukan. Menyentuh kegelapan itu Lyam sudah pasti akan langsung mengetahui keberadaanku tapi jika aku membiarkannya Kakek ini akan mati, dan melindunginya juga akan membuatnya mati. Batin Kashel ia frustasi sendiri karena hal itu, ia tidak bisa membiarkan orang tidak bersalah mati. Ah iya, teman-teman. Kashel langsung berdiri. Kashel berjalan keluar kamar.
"Mau ke mana Cu?" tanya Kakek saat melihat Kashel yang berjalan ke arahnya.
"Kakek aku mau ke luar sebentar ya. Aku tidak akan pergi untuk saat ini. Aku mau memanggil temanku kemari." Ujar Kashel menjelaskan dan tentu saja sang kakek mengizinkannya saat Kashel sudah dilihatnya telah baik-baik saja.
Kashel pergi ke kota untuk membeli ponsel baru dan setelah itu kembali lagi dan menghubungi Luan. Beruntungnya Kashel masih memiliki kartu yang ia bawa sehingga bisa mencairkan uang.
Setelah seharian teman-teman Kashel datang termasuk istrinya. Grizelle langsung berlari kepelukan Kashel setelah melihat suaminya yang baik-baik saja, Kashel benar-benar senang karena Grizelle yang bersikap seperti itu. Ia tidak ingin melepaskan pelukannya meskipun Grizelle telah melepaskan pelukannya. Kashel ingin membawa Grizelle ke suatu tempat dan ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Grizelle saja.
Meila menatapinya dan sedikit kecewa. Apa ia pacarnya. Pikir Meila ia penasaran.
"Kenapa, kau iri dengan dua pasangan muda itu?" Chain tentu saja langsung ambil inisiatif mendekati gadis itu. Meila terlihat tampak terkejut.
"He-hei jangan bilang kalau kau sempat naksir Kashel?" Chain menebak menatapi Meila.
"Ti-tidak! Aku tidak tahu kalau dia sudah menikah." Ujar Meila wajahnya yang putih memerah malu.
"Tidak usah malu, ada aku yang masih jomblo yang siap mendampingimu di sini." Chain langsung didatangi oleh Luan dan menjitaknya.
"Auu! Hei apa-apaan kau!" kesal Chain pada Luan.
"Ayah akan aku adukan pada Ibu karena menggoda wanita lain." Luan malah berdrama, membuat Meila menjadi kebingungan. Meila tertawa.
"Jangan percaya, padanya." Chain mengomel sambil menunjuk Luan menjelaskan pada Meila.
"Wah sepertinya aku masih akan menjomblo sekarang." Ujar Chain mendorong Luan mendekat ke Meila dan dia menjauh.
"Hei kau kenapa?" tanya Meila melambaikan tangannya di depan wajah Luan yang menahan malu. Tinggi badan mereka hampir sama Meila juga memiliki badan yang lebih sedikit kecil daripada Luan.
"Aku gak percaya kalau kau tahu umurku lebih tua, huaa aku malu." Ucap Luan menutup wajahnya. Meila hanya tertawa.
"Hei siapa namamu, aku Meila." Meila memperkenalkan dirinya.
"Namaku Luan." Ucap Luan memperkenalkan dirinya. Luan merasa masih malu, tapi ia sedikit senang karena ada wanita yang tidak mengatakannya anak kecil lagi. Seperti ketika ia ke luar tengah malam untuk belanja ke minimarket, pasti ada saja yang mengatakan anak di bawah umur jam segitu seharusnya tidur di dalam rumah.
Kashel tampak berbincang dengan Kyler dan yang lainnya waktu itu, berniat untuk membasmi kegelapan yang berada di pundak kakek Meila. Ia terus merangkul Grizelle tidak melepaskannya sedikit pun. Teman-teman Kashel mengangguk paham dan mengerti.
"Meila apa kau percaya tentang kekuatan kegelapan?" tanya Kashel tiba-tiba, Meila terlihat bingung ia tidak mengerti.
"Pengaruh gelap yang mempengaruhi kesehatan orang lain dan merenggut nyawa mereka." Jelas Kashel, seketika Meila mengingat pandemi yang melanda dunia.
"Apa itu seperti yang Kashel bilang? Bahwa itu karena kegelapan jadi banyak orang yang mati? Bukan karena virus?" Meila minta penjelasan.
"Yaaa, kuharap kau menyembunyikan fakta ini. Jika semua orang takut kegelapan akan semakin kuat dan korban akan semakin banyak." Ujar Kashel menjelaskan..
"Kakek Meila, tidak ada di sini." Kyler yang sedari tadi berada di dalam rumah berlari memberitahukan keadaan darurat itu.
Kashel langsung melacak keberadaan kakek Meila dan merasakan keberadaannya di dalam hutan mereka semua bersama-sama mencari ke dalam hutan dan menemukan kakek Meila dalam keadaan dikendalikan oleh Roh Kegelapan. Karena merasakan sihir yang kuat Roh Kegelapan itu ketakutan dan berniat melarikan diri bersama mangsanya, tapi kakek Meila masih bisa menghentikannya karena masih dalam kesadarannya sendiri walaupun sudah setengah sadar.
"Kakek!" teriak Meila ia berniat mendatangi kakeknya yang seperti itu. Dan Luan mencekal tangannya.
"Jangan ke sana biarkan teman-temanku yang mengatasi ini dan menyelamatkan kakekmu." Jelas Luan Meila pun mengangangguk paham. Luan melepas tangan Meila perlahan merasa malu karena telah melakukan hal itu.
Chain dan Erphan berkerja sama untuk menyingkirkan Roh Kegelapan yang menempel pada kakek Meila. Karena sudah biasa menghadapi hal seperti itu mereka berhasil mengalahkannya dengan mudah.
Kashel jadi tidak perlu turun tangan karena hal itu. Teman-teman Kashel sudah tahu jika Kashel terhubung dengan Roh Kegelapan, keberadaan Kashel akan langsung diketahui Lyam dan itu tentu saja akan membahayakan kliennya.
.
.
.
"Aku akan berkelana membasmi kegelapan yang belum menyentuh manusia. Grizelle kau maukan tetap menungguku di rumah. Aku tidak akan kembali saat ini." Kashel tetap minta izin dan Grizelle mengangguk tentu saja, Kashel mencium kening Grizelle.
"Kami juga akan berkelana Kashel membasmi kegelapan bersamamu. Membasmi kegelapan yang telah menempel pada manusia biasa." Ujar Rigel yakin. Kashel mengangguk. Tapi Anna apa kau mau tinggal bersama Grizelle di rumah.
"Kurasa tidak masalah sih, tapi aku juga ingin melindungi dunia ini Kashel." Ujar Anna ia juga ingin kekuatannya berguna untuk orang lain.
Akhirnya semuanya berinisiatif membawa Meila dan kakeknya untuk tinggal bersama dengan Grizelle. Melihat kebaikan keluarga itu, mereka bukanlah orang jahat. Mereka berdua hanya orang susah yang tinggal di gubuk kayu reyot di tengah hutan ini. Luan adalah orang yang paling bersemangat di sini, ia merasa telah bertemu dengan tambatan hatinya dalam pandangan pertama.
Kashel tidak bisa begitu percaya dengan orang baru. Jadi ia memberikan Grizelle kalung sihir yang memiliki energi sihir miliknya yang jika ada apa-apa Kashel bisa langsung pergi untuk pulang.
Namun, Meila dan kakeknya tidak memiliki energi sihir sama sekali. Meila dan kakeknya setuju, setelah mendengar semua penjelasan tentang sihir dan Roh Kegelapan mereka pun diantar ke kediaman Lyam di tengah hutan belantara. Tempat yang terhalang oleh sihir kuat milik The Borders dan teman-teman Kashel yang lain. Untuk saat ini Anna masih tinggal dan menemani Grizelle di rumah besar itu bersama dengan dua orang lainnya Meila dan kakeknya.