The Borders

The Borders
Bagian 154 – Kalahnya Pengguna Batu Elemen Petir



Kashel dan Lyam bekerja sama untuk mengalahkan orang yang sudah berani-berani menyerang mereka dari belakang.


"Elemen petir!" Kashel menyambarkan petir kepada orang yang tubuhnya telah bercampur dengan kegelapan pekat.


Lyam langsung muncul di belakangnya melalui portal yang ia buat dan menebasnya dengan pedang kegelapan. Tapi, orang itu memiliki kemampuan teleportasi juga. Sehingga bisa menghindari serangan Lyam.


Musuh mereka tiba-tiba muncul di belakang Kashel dan langsung menyerang Kashel, tapi pemuda itu mampu menghindari serangan fatal itu dan membuat Kashel terlempar jauh karena harus menahan ledakkan tapi Lyam tentu saja langsung menangkap Kashel.


"Te-terima kasih." Kashel merasa sangat canggung pada Lyam saat ini, sudah lama ia tidak bekerja sama dengan Lyam. Karena ada banyak kegelapan pekat di antara Kashel, ia tidak bisa menggunakan kemampuannya dengan maksimal karena harus menjaga emosinya agar tetap stabil.


Lyam hanya diam ia tidak menatap Kashel sama sekali. Tapi, Lyam tidak juga melepaskan Kashel dari pegangannya. Kashel tahu tujuan Lyam saat itu ingin membawa Kashel dan terus mempengaruhinya dengan kegelapan juga.


Kashel langsung membanjiri tubuhnya dengan sihir petir, membuat pegangan Lyam di bahu Kashel langsung terlepas. Kashel menghindari Lyam dan musuhnya juga. Ia lengah, Kashel merasa di alam bawah sadarnya kegelapan benar-benar sedang berusaha menenggelamkan keberadaannya.


Aku tidak bisa mempercayai siapapun di sini, pikir Kashel ia memegang lututnya mulai kelelahan, kelelahan batin lebih tepatnya.


"Cepatlah teman-teman, aku akan mencapai batasku juga di sini." gumam Kashel menyeka keringat dingin yang membasahi pelipisnya.


Lyam mulai bertarung lagi dengan musuh mereka yang sebenarnya, ia sama sekali tidak menyakiti Kashel lagi.


Bahkan di luar kesadarannya, dia tetap punya insting untuk melindungi aku. Batin Kashel, begitu penting dirinya untuk keberadaan Lyam.


Jika berakhir seperti ini, sebaiknya kau tidak mengikat kontrak denganku. Pikir Kashel lagi, ia tidak tega Kashel yang merasa dirinya lemah malah merasa menjadi beban untuk Lyam. Tapi, jika Lyam tidak terikat dengan apapun dia pasti akan menjadi pembunuh berdarah dingin tidak punya perasaan. Apa yang di pikirkan oleh Kashel menjadi serba salah sekarang.


"Tidak ada waktu untuk menyesali semuanya, aku sudah memilih untuk menerima kehidupan suram ini." Kashel langsung menghilang dari tempatnya berpijak dan muncul di depan musuh mereka dan Lyam muncul di belakang musuhnya.


"Pedang cahaya!" teriak Kashel langsung menebas kuat dari arah kanan. Lyam dengan pedang kegelapannya langsung menebas cepat juga dari arah kiri sehingga tidak ada waktu untuk musuh mereka melarikan diri bahkan menjadi asap. Gabungan kekuatan pedang cahaya dan pedang kegelapan membuat pelindung yang melingkari mereka sehingga musuh tidak bisa kabur karena terkurung.


"Tidaaaaak!" teriak musuhnya sebelum lenyap.


Kashel dan Lyam saling berdiri berhadapan saat itu dan dunia mereka berubah menjadi dunia seperti di dunia perbatasan.


"Maafkan aku Kashel, karena harus menyusahkanmu." ucap Lyam kemudian mereka berdua memudar dari tempat itu sebelum Kashel sempat mengucapkan sepatah kata apapun.


KBOOOOM!


Ledakan besar terjadi tidak begitu jauh dari tempat bertarung teman-teman Kashel sehingga membuat mereka terkejut dan menatap ke arah ledakan besar itu. Namun setelah itu, semuanya melanjutkan pertarungan mereka, berniat untuk menyelesaikannya. Teman-teman Kashel menyadari jika sekarang, Kashel telah berhasil mengatasi Lyam dan mengalahkan musuhnya.


Di waktu itu, teman-teman Kashel terus bertarung dengan kuat dan mengerahkan seluruh tenaga mereka.


"Uhuk!" Kashel terbatuk saat tubuhnya membentur tanah dengan keras. Ia sempat pingsang beberapa saat namun ia segera bangun setelahnya.


"Astaga ini sakit sekali," rintih Kashel memegang bokongnya yang telah membuat lubang saat terjatuh tadi.


Ia tidak melihat Lyam di sekitarnya, berarti saat itu Lyam masih belum sadarkan diri. Kashel mencari keberadaan Lyam dan merasakan kegelapan yang pekat tidak jauh darinya.


"Astaga ini rasanya seperti racun." Pikir Kashel kemudian ia membuka portal dan melemparkan Lyam masuk ke dalamnya.


"Sebaiknya kau kembali ke dunia perbatasan dan memulihkan diri di sana." Kashel melemparkan Lyam yang dipenuhi kegelapan. Mungkin setidaknya di sana kegelapan yang mengerumuni Lyam akan sedikit berkurang.


.


.


.


ZDAAR!


BLAAAR!


Petir sedang datang ke arah Rai dan Chain yang sedang terpojok.


Kashel datang dan menghalau serangan petir itu dengan elemen petir miliknya juga. Tetapi, tenaga Kashel yang belum sepenuhnya pulih, membuat sihirnya menjadi sedikit lebih lemah dan ia terkena serangan petir itu, walaupun lukanya pulih dengan cepat.


Lengan jaket yang Kashel sobek akibat efek serangan petir itu.


"Akhirnya tokoh Oper power kita muncul!" Chain bersemangat.


"Oper power matamu, aku sudah hampir mati berkali-kali." Kesal Kashel.


"Tapi kau masih hidupkan? Kita memang membutuhkanmu untuk menyelesaikan tugas sulit ini." Ujar Rai memegang bahu Kashel.


"Tetap saja aku butuh kalian, kekuatannya bisa menandingi sihirku asal kalian tahu. Sedangkan aku tidak dalam keadaan baik saat ini." Ujar Kashel menjelaskan.


"Tenang saja, dengan adanya Kashel di sini kita akan dengan cepat mengakhiri pertarungan ini." Rai dan Chain tampak bersemangat.


"Kita harus bisa menyelesaikan pertarungan ini sebelum Lyam kembali kemari." Ujar Kashel ia tidak punya begitu banyak waktu sekarang.


"Ayo serang aku, dengan seluruh kemampuan kalian. Kalian akan aku buat menjadi abu!" teriaknya menyombongkan diri, pengaruh kegelapan dan pengaruh batu elemen membuat pikiran negatif pengguna batu elemen itu menjadi lebih kuat.


Mata orang itu membelalak kaget saat mendapati Kashel dengan wajah datarnya dan mata merah menyala telah muncul di hadapannya dengan tinju petir di tangannya.


BUAK!


"Ukh!" tinju mendarat di perut orang itu sehingga ia langsung terlempar dan terbatuk darah karenanya. Dari samping kiri dan kanannya kemudian muncul Rai dan Chain yang siap menendang musuh mereka dengan petir di kakinya.


Mereka beberapa kali menendang musuh mereka seperti bermain sepak bola sampai tidak ada perlawanan yang bisa ia lakukan.


Orang itu jatuh terlentang di tanah dengan mata yang berubah keseluruhannya memutih. Tapi tiba-tiba dari tubuh, pria itu kilatan petir muncul dan membuat ledakan petir dahsyat, pria itu mati hingga hancur berkeping-keping.


"Mengerikan." Batin Chain, Kashel hanya menatapinya kosong saat itu, sedangkan Rai terperangah. Seharusnya penggunaan batu elemen tidak akan membuat kematian sekejam itu, tapi pengaruh kegelapanlah yang mempengaruhi batu elemen itu sehingga membunuh penggunanya.


BZZZT!


Kashel langsung melompat menjauh dari teman-temannya karena sihirnya yang tidak terkendali akibat pengaruh batu elemen sihir yang telah lepas dari penggunanya. Kashel melesat dengan cepat untuk menghancurkan batu sihir itu sebelum direbut oleh kegelapan lagi.