The Borders

The Borders
Bab 155 – Terluka



Kashel langsung melesat ke batu sihir dan menghancurkan batu sihir petir itu.


Batu sihir yang telah menyusahkan mereka hancur.


Kashel langsung dengan buru-buru berpindah ke lain tempat lagi, mendatangi teman-temannya yang masih bertarung. Namun, saat Kashel sampai di sana semuanya langsung mundur. Para anggota Sekte Sihir Hitam melarikan diri seluruhnya.


Energi sihir teman-teman Kashel telah kelelahan sepenuhnya tidak ada tenaga untuk bertarung lagi. Jadi, mereka semua memilih tidak mengejar musuh-musuh mereka.


"Cepatlah berkumpul... Selagi tenagaku masih ada untuk membawa kalian pergi dari sini..." Kashel berucap kelelahan.


Dengan cepat semuanya mendatangi Kashel dengan sisa tenaga mereka, portal terbuka dan semuanya langsung muncul di depan kediaman mereka yang baru.


Grizelle dan Meila terkejut saat mendapati teman-temannya yang sedang terluka itu, di antara mereka ada Kashel yang sudah tidak dalam keadaan sadarkan diri.


Kekuatan gelap sudah benar-benar mempengaruhinya, tapi sepertinya Kashel masih bisa mempertahankan kesadarannya sehingga ia berakhir tidak sadarkan diri.


.


.


.


"Ukh! Asli ini sakit sekali." Gumam Kashel. Ia tahu ia sudah tidak berada di dunianya tapi sedang berada di alam bawah sadarnya.


"Rasanya aku ingin sekali tidur dan menghilang." Kashel tergeletak di ruangan gelap yang di penuhi kegelapan yang perlahan-lahan memudar karena kehadiran dirinya di sana.


"Kuharap kau masih bertahan dan tidak mengganggu kesadaranku." Ucap Kashel lemah kepada makhluk yang berada di hadapannya.


Kashel tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan apa bila makhluk itu mengamuk.


"Aaargh!" tiba-tiba saja Kashel berteriak kesakitan, ia merasa kegelapan yang menyebar dan menghilangkan pikiran sehatnya, Kashel terus mencoba bertahan dalam kesadarannya sendiri.


Kashel merasakan kesakitan itu karena pengaruh dari jiwa The Borders yang telah diliputi oleh awan hitam di sekitarannya.


"Dia yang menerima kegelapan kenapa aku yang harus menderita." Keluh Kashel.


.


.


.


Kashel mengeluarkan banyak keringat dingin, Luan yang juga terluka tidak diam saja, ia memprioritaskan Kashel yang seperti itu. Dengan sisa tenaganya Luan membersihkan energi hitam yang berada di dalam aliran sihir di tubuh Kashel. Kashel mengalami demam tinggi saat itu, membuatnya terus mengigau dan terus bergumam tidak jelas.


Luan hanya mengobati Kashel semampunya, karena sihirnya yang tidak mempan pada Kashel. Kemampuan Luan yang berguna pada Kashel hanyalah membersihkan energi kegelapan yang merasukinya, tubuh Kashel dengan alami bisa membersihkan energi gelap itu sendiri.


.


.


.


"Ugh!" Kashel tiba-tiba mencekek Grizelle yang berada di sampingnya saat tidak sadar.


"Ka-Kashel!" rintihan Grizelle langsung membuat Kashel terkejut, Kashel terlihat menatap telapak tangannya nanar.


"Uhuk! Uhuk!" Grizelle tersungkur sambil membenarkan nafasnya yang tersengal-sengal.


"A-aku melukai Grizelle." Gumam Kashel telapak tangannya bergetar tidak percaya.


"Tidak, itu bukan salahmu. Aku tidak menyalahkanmu Kashel." Grizelle memeluk Kashel erat menenangkannya.


Semua teman-teman Kashel, sedang beristirahat dan tengah tertidur. Luka-luka mereka cukup parah semua, mereka mengalami banyak luka dalam yang beruntungnya tidak membuat nyawa mereka terancam.


Luan yang juga kelelahan tetap merawat mereka dengan sungguh-sungguh.


"Luan kau tidak apa-apa?" tanya Meila khawatir, mendadak Meila menjadi asisten Luan begitu pula dengan kakeknya. Tinggal di hutan membuat mereka memiliki keahlian alami untuk meracik obat. Sehingga Luan, tidak merasa begitu kelelahan, Luan hanya perlu mentransfer energinya agar obat sihir itu dapat bekerja dengan efektif seperti sebelumnya.


.


.


.


Kashel yang tidak bisa berbuat apa-apa datang membawa makanan masuk ke dalam ruang perawatan.


"Kashel, kau sudah baik-baik saja?" tanya Luan ia masih fokus dengan obat racikannya dan Meila.


"Jika aku tidak baik-baik saja aku tidak akan berada di sini. Bagaimana keadaan teman-teman?" tanya Kashel.


"Mereka hanya perlu waktu untuk pulih, karena memaksakan diri mereka semua mengalami luka dalam dan perlu waktu untuk penyembuhan. Saat ini aku juga tidak bisa mentransfer energiku pada mereka, karena sedang menyembuhkan lukaku sendiri. Aku hanya bisa memberikan mereka pil obat ini." Jelas Luan, yang sudah menyelesaikan obat sihirnya dan meminta Meila untuk menyuntikkannya di infus teman-temannya karena saat ini mereka tidak akan mampu menelan pil sihir sama sekali.


Kashel berdiam diri di ruang utama mansion sambil melamun.


"Apa yang kau pikirkan Kashel?" tanya Grizelle ia penasaran, Kashel di matanya tampak seperti orang yang banyak pikiran.


"Aku... Aku akan menyegel diriku bersama Lyam dan The Borders. Untuk menghentikan badai kegelapan ini." Ujar Kashel, ia sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Satu-satunya cara untuk menghentikan Portal Perbatasan yang muncul adalah menghentikan pemicunya yaitu Kashel dan Lyam sendiri.


"Kau yakin? Bagaimana jika rencanamu itu gagal dan kau malah berakhir mati." Grizelle terlihat bersedih.


"Tidak ada cara lain selain mencobanya, bahkan The Borders di alam bawah sadarku telah memperlihatkan hal itu juga padaku. Aku tidak punya rencana apapun lagi yang bisa kulakukan." Kashel berucap, ia juga frustasi. Tapi kekacauan yang terjadi ini harus juga segera dihentikan korban yang berjatuhan juga semakin banyak dan dunia di dalam ketakutan akan kegelapan.


Grizelle meraih tangan Kashel dan menggenggamnya erat. "Aku... Aku akan selalu mendukung setiap keputusanmu." Grizelle berucap berusaha tersenyum tapi matanya juga tidak bisa berbohong bahwa ia sedang dalam keadaan begitu bersedih.


"Terima kasih dan maafkan aku." Kashel juga menatap Grizelle tidak kalah bersedihnya. Wanita itu yang seharusnya ia bahagiakan malah harus ia tinggalkan untuk menjalankan takdirnya yang cukup berat untuknya.


"Kau tidak perlu minta maaf, semenjak aku bersamamu, hal inilah yang akan kuterima jika benar-benar terjadi. Tapi, aku sangat berharap Kashel tidak mati." Ucap Grizelle.


"Tidak ada yang tahu, apa yang harus dibayarkan dalam penyegelan besar. Aku akan mencobanya. Meskipun, akan berakhir harus mengorbankan nyawa karena hanya hal itu yang bisa dilakukan." Jelas Kashel, Grizelle setelahnya memakluminya. Grizelle ingin memanfaatkan kebahagiaannya yang tinggal sesaat untuk berbahagia bersama dengan suaminya.


.


.


.


Teman-teman Kashel mulai kembali pulih, saat ini mereka semua sedang makan bubur yang disediakan oleh Grizelle.


"Aaah, aku tidak suka bubur." Ucap Chain menggerutu.


"Makan saja, kau tidak ingin lambungmu bocor karena makan yang keras-keras setelah beberapa hari tidak sadarkan diri." Erphan terus menyuap bubur yang ia makan.


"Hah benarkah?" Chain bergetar ketakutan dan terpaksa memakan bubur yang tidak ia suka.


"Kau percaya." Erphan terkekeh padahal ia hanya asal berbicara.


"Kau menipuku!" kesal Chain ia ingin menyumpalkan bubur itu ke mulut Erphan semuanya. Semuanya tertawa melihat kelakuan Chain. Sampai pada akhirnya mereka melihat Kashel masuk ke ruangan dengan pandangan serius, membuat mereka yang semula bercanda ria langsung terdiam juga.


"Heh, maaf sepertinya aku mengganggu." Kashel malah jadi merasa bersalah karenanya.