The Borders

The Borders
Bagian 145 – Jebakan di Dalam Tanah



"Kabut tebal. Apa ini tidak akan sama efeknya seperti kabut yang pernah kita hadapi dulu, kabut ilusi?" tanya Rigel pada Kashel.


"Jika pun efeknya sama kuharap kau sudah lebih berpengalaman Rigel." Ujar Kashel. Ia hanya harus jika khawatir pada Rai jika seperti itu.


"Aku mengerti ketua," ujar Rigel lesu. Lagi pula ia sudah mengingat masa lalunya dengan baik sekarang dan tidak mempermasalahkannya lagi.


"Tapi sepertinya kabut ini tidak membuat ilusi, namun meyerap stamina kita. Aku rasa kita berjalan tidak begitu jauh tetapi rasanya aku merasa lelah." Rai berucap lesu. Kashel juga merasakan hal yang sama, Kashel bingung tidak tahu apa yang harus ia lakukan, karena kemampuannya Kashel bisa memulihkan dirinya lebih cepat, daripada yang lain.


"Seandainya aku bisa membagikan energi sihirku pada teman-teman." Gumam Kashel.


KRAK!


Tanah tempat kaki Rigel yang berjalan dipaling depan retak. Rigel yang kelelahan kehilangan keseimbangan.


"Elemen tanah!" Kashel langsung berteriak membuat tanah pijakan, Rigel selamat dan jatuh terbaring di tempat yang Kashel buat.


Tiba-tiba ada suara getaran dari atas yang membuat ketiga orang itu mendongak ke atas itu adalah longsoran batu.


Sudah dimulai rupanya, jebakan. Batin Kashel, Rigel bangkit Kashel langsung membuat tanah pijakan untuk mereka berlari ke puncak gunung itu, dengan sisa kekuatannya mereka bertiga terus berlari menghindari batu-batu yang jatuh ke arah mereka bertiga. Jika ada yang tepat mengenai kepala mereka Kashel langsung melindungi teman-temannya dengan elemen tanahnya juga.


Mereka akhrinya sampai di puncak Gunung Khayalan, tapi tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada hembusan angin. Kashel sadar tidak akan semudah itu mereka mendapatkan batu sihir.


Mereka bertiga hanya berbaring sembari memulihkan tenaga yang sudah terkuras habis.


Kashel terlihat benar-benar terengah-engah selain harus mengeluarkan sihir yang besar untuk bertahan di sekitarnya dan juga alam di sekitarnya yang menyerap sihir mereka.


KRATAK!


Bahkan belum sempat berdiri tanah tempat mereka berpijak telah retak kembali. Kashel saat ini masih butuh waktu untuk memulihkan tenaganya, ia sudah cukup memaksakan dirinya.


BLURG!


Tanah pun runtuh membuat lubang dalam dan menjatuhkan mereka ke dalamnya.


"Brandon!" Rigel berteriak, tapi meskipun mereka sekarang berada di punggung Brandon. Ada sesuatu yang menarik mereka kuat ke bawah tanah. Jalan keluar di atas mereka tertutup.


"Jika tahu mending kita langsung ke dasar dari tadi." Ujar Kashel merasa jika mereka hanya buang-buang tenaga saja.


Setelah beberapa menit jatuh dengan kecang, Rigel melihat dasarnya.


"Tidak, aku akan mati jika menahan jatuh dengan kecepatan seperti itu."


"Aaangiin!" Kashel langsung berteriak mendengar kata mati dari temannya, membuat Kashel kehilangan pikirannya. Ia tidak perduli, ia akan terluka karena menggunakan elemen lain secara paksa ketika ada batu elemen di dekatnya.


Mereka bertiga tertahan di udara meskipun jatuh itu tidak terasa menyakitkan sama sekali.


"Uhuk!" Kashel langsung terbatuk darah, dan terbaring memegang dadanya kesakitan, ia terlalu memaksakan diri.


"Aku tidak apa-apa, jangan terlalu khawatir padaku yang penting kalian baik-baik saja." Ujar Kashel.


"Kau juga khawatirkan dirimu!" emosi Rai mengangkat Kashel dengan emosi memengang kerah bajunya. Kashel terbengong memperhatikan Rai tiba-tiba marah itu. Merasa bersalah.


"Rai benar Kashel, kau juga perlu mengkhawatirkan dirimu sendiri." Ujar Rigel duduk di dekat mereka berdua. "Tempat ini memiliki gravitasi kuat." Ujarnya lagi.


Kashel mendudukkan dirinya setelah perasaannya mulai baik. 


"Kau mau minum suplemen sihir?" tawar Rai. Kashel menatapinya.


"Obat itu tidak akan mempan padaku." Jawab Kashel.


"Kau tidak bisa minum obat sihir?" tanya Rai tidak percaya.


"Aku ini awalnya hanya orang biasanya yang mendapatkan kekuatan besar The Borders. Jelas saja tidak ada obat sihir yang mempan padaku jadinya. Meskipun sihir sudah bisa melukaiku, tapi tidak dengan obatnya yang bisa menyembuhkanku." Jelas Kashel.


"Lagi pula kau tenang saja, aku diberkahi kekuatan The Borders yang memiliki kemampuan pemulihan diri yang cukup cepat jika aku menggunakannya. Jadi, tidak butuh obat sihir sebenaranya." Ujar Kashel lagi. Ia kemudian memperlihatkan tangannya yang terluka karena terkena seperpihan batu beberapa waktu tadi pada Rai. Luka itu perlahan-lahan sembuh dan menghilang tanpa bekas.


"Aku merasa bersalah karena mengkhawatirkanmu. Luka luar saja sembuh secepat itu, kuyakin luka dalam sudah sembuh dari tadi." Ujar Rai. "Tapi jangan sampai membiarkan dirimu terluka parah dan terkena organ vital Kashel, mau sehebat apapun dirimu. Kau pasti akan mati." Rai menjentik dahi Kashel kesal.


"Aku tahu. Jadi kau tidak usah khawatir. Aku pasti bisa menjaga diri, kau jadi seperti seorang Kakak yang memarahi adiknya." Ujar Kashel menyilangkan tangannya di perut sambil memejamkan mata mengangguk-angguk.


"Lagi pula aku ini memang kakakmu." Ujar Rai berdiri, dan melihat sekitar. Rigel berpikir mereka berdua itu memang mirip sebagai sepupu jika salah-salah mereka akan dikira bersaudara.


Kashel berdiri, ia tampak biasa-biasa saja, karena pengaruh batu elemen tanah yang memperkuat sihirnya.


Rai dan Rigel merasa mereka berdua malah menjadi beban untuk Kashel karena hal itu.


"Kashel, jika kami hanya menjadi bebanmu di sini. Tinggalkan saja kami berdua." Ujar Rai, ia sudah sepakat dengan Rigel untuk melakukan hal itu.


"Jangan pikir yang tidak-tidak teman-teman. Aku tidak akan meninggalkan kalian, aku tidak bisa menyelesaikan semua ini sendirian, aku akan berakhir juga di sini jika melakukannya seorang diri." Ujar Kashel menatap kedua temannya. "Aku tidak akan bisa bertahan jika hanya mengandalkan elemen tanah milikku, dan jebakan gravitasi ini paling hanya berlaku sebentar selama di sepanjang jalan ini, seharusnya setelah ini ada jebakan yang lainnya lagi." Ujar Kashel lagi menatap ke kiri kanan dan atasnya.


Setelah itu beberapa saat tekanan yang dirasakan oleh Rai dan Rigel menghilang mereka berdua merasa jika saat ini tubuhnya terasa ringan kembali, tiba-tiba ada sebuah getaran dan dari depan ada bola tanah raksasa yang sedang menggelundung ke arah mereka bertiga Kashel langsung menghalaunya dengan elemen tanah milik Kashel, lalu dari atas ada bola tanah raksasa yang juga datang. Kashel bingung harus melakukan apa-apa tapi Rai yang langsung menghancurkan bola tanah yang ingin menimpa mereka dengan serangan petirnya yang cukup kuat. Sehingga bola tanah itu langsung hancur berkeping-keping. Begitu pula Rigel ia menghalau bola tanah yang berasal dari belakang mereka.


DUAR!


DUAR!


BLAR!


Suara ledakan tanah yang terus dihancuran serangan itu tidak sekali tapi terus datang. Mau tidak mau Rai dan Rigel menghancurkan batu yang ada di depan mereka. Saat ini petir dan api milik Rai dan Rigel efektif untuk membuat jalan di dalam tanah tersebut. Kekuatan Kashel tidak efektif di sini karena tanah hanya akan menutup jalan pada akhirnya. Walaupun sedikit demi sedikit akhirnya mereka bertiga bisa mengakhir serangan dari jebakan itu. Tapi kali ini mereka harus di hadapkan dengan kolam lumpur.


"Aku tidak menduga kita sedang di uji coba untuk bertahan hidup di sini." Gumam Rai tidak percaya.