The Borders

The Borders
Bagian 22 – Kegelapan Lyam



.


.


.


Lyam tidak melawan saat dirinya tenggelam dalam kegelapan, rasa yang tidak pernah ia rasakan dengan begitu kuat sebelumnya, mulai merasuki dirinya.


Kebencian, kesunyian dan kegelapan. Rasa yang menakutkan untuk Lyam, ia tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaan itu. Ia lebih memilih pasrah saja dan tenggelam perlahan karenanya.


Lyam mengingat Kashel yang lebih memilih meninggalkannya sendirian, dan itu membuatnya merasa sepi karenanya. Ia tidak ingin ditinggalkan sendirian, itulah pikirannya saat itu.


Kebencian, Lyam mengingat semua hal tentang orang-orang yang telah hilang dihadapannya saat di masa lalu. Dan akhirnya menyisakan kegelapan dan kesendiriannya.


Di tempat yang berbeda Kashel menderita dengan kesakitannya sendiri perasaan Lyam melewati dirinya, karena ulah Lyam yang memilih tidak melakukan apa-apa. Perasaan kalut yang begitu kuat.


Semua orang yang melihat Kashel seperti itu berpikir bahwa Kashel terkena efek asap kegelapan, tetapi yang sebenarnya terjadi tidak seperti itu.


Semua Kesatria Penjaga Batas kemudian bekerja sama menghancurkan inti dari Roh Kegelapan itu, energi sihir milik Lyam tidak bisa mereka ambil dan dikembalikan ke inti asli Roh Kegelapan seperti para Kesatria Penjaga Batas yang kehilangan kesadaran. Hanya saja membuat mereka tertarik untuk berkumpul dan mengambil alih tubuh Lyam.


Setelah Kesatria Penjaga Batas berhasil menghancurkan inti dari Roh Kegelapan itu, Roh Kegelapan pun mulai lenyap dan asap kegelapan itu juga ikut lenyap. Orang-orang yang jatuh ke dalam koma perlahan ada yang sadar.


Lyam terlihat berdiri mematung hanya diam, ia kemudian berjalan ke dalam kegelapan hutan setelahnya. Kashel yang sudah tidak merasakan sesak pada dirinya langsung bangkit setelah mengetahui perasaan yang dirasakan Lyam, meskipun masih lemas ia memaksa berdiri.


"Cepat, kita harus menolongnya." Kashel berkata lemah menunjuk ke arah Lyam pergi.


Untungnya teman-temannya mau mengerti dengan maksud Kashel dan membawanya kepada Lyam. Mereka akhirnya menyadari Kashel kesakitan karena Lyam yang kesakitan pula.


Mereka kemudian membawa Kashel memasuki hutan gelap yang dimasuki Lyam. Setelah mencari di sekitar, terlihat Lyam duduk bersandar di bawah sebuah pohon besar sambil menatap kosong.


Kashel bersama Erphan dan Luan menghampiri Lyam. Sedangkan Anna ia beristirahat di dalam tenda medis, karena masih tidak sadarkan diri.


"Maafkan aku yang tidak mengerti perasaanmu, seharusnya kau bilang jika kau juga bisa merasakan perasaan manusia." Kashel berucap mengulurkan tangannya.


"Apakah itu perasaan manusia?" Lyam masih tidak mengerti.


"Ya, seharusnya perasaanmu akan berkembang suatu saat nanti. Jadi bukan perasaan yang menakutkan seperti tadi saja yang akan kau rasakan, itu adalah perasaan gelap manusia." Jelas Kashel, ia mengingat perasaan gelap yang melewati dirinya tadi. Luan dan Erphan hanya mendengarkan saja, karena belum nyambung dengan obrolan Lyam dan Kashel.


"Seharusnya kau bilang jika kau tidak ingin ditinggalkan sendiri, itu akan terasa lebih baik Lyam." Kashel tersenyum cerah.


"...." Lyam hanya diam tidak tahu harus berkata apa.


"Bagaimana tanggapan kalian teman-teman, teman kita yang satu ini ternyata juga bisa merasakan kesepian?" Akhirnya Luan dan Erphan mengerti setelah Kashel memberikan sedikit penjelasan.


"Ya, seharusnya kau mengatakannya." Luan langsung ikut campur.


"Betul sekali," Erphan menanggapi. Lyam meraih uluran tangan Kashel.


"Cih, apakah penting melakukan itu semua." Gumam Lyam tersenyum simpul.


"Kau masih saja, menyombongkan kesendirianmu itu. Ditinggalkan sendirian kau galau. Aneh." Kashel protes dengan ucapan Lyam dan Lyam hanya diam saja setelahnya.


"Kau itu teman kami juga Lyam," kata Kashel lagi. Perlahan kegelapan yang ada di hati Lyam terasa memudar ia merasakan kehangatan di sana.


Mereka pun akhirnya memilih pulang setelah itu. Memperhatikan ketiga orang itu bercerita ria saja, Lyam merasakan sebuah ketenangan.


Setelah itu tiba-tiba Lyam jatuh tidak sadarkan diri. Semua orang panik, karena Lyam yang terkenal menakutkan bisa jatuh pingsan juga.


Kashel tidak terpengaruh, karena tidak semua rasa sakit milik Lyam bisa dirasakan oleh Kashel. Tidak seperti jika Kashel yang tidak sadarkan diri, meskipun tidak ikut seperti Kashel tapi Lyam tidak bisa melakukan apa-apa, karena energi sihirnya akan jadi kacau.


.


.


.


"Kan sudah ku katakan, jika dia kuat. Dia tidak akan mengikat kontrak denganku." Kashel berucap pada teman-temannya yang sedang berkumpul.


"Namun, meskipun tidak sadarkan diri ia tetap menyeramkan juga." Ucap Anna menimpali kata-kata Kashel.


"Bagiku Lyam yang seperti ini, terlihat lebih hidup." Grizelle ada di sana juga.


"Tuan Lyam!" Kyler heboh.


"Woah! Woah! Apa ini," Rigel yang baru datang tidak percaya.


"Bisakah kau tidak berisik!" Freda memukul kepala Rigel.


Perlahan mendengarkan keributan itu Lyam membuka matanya perlahan.


"Kenapa kau heboh begitu, seharusnya kita bersyukur karena Lyam telah sadar." Erphan yang berada di belakang Luan protes karena Luan menabrak dirinya.


Chain yang duduk santai hanya menatapi mereka semua.


"Hahahaha!" Kashel tertawa menanggapi kelakukan teman-temannya.


.


.


.


Lyam mendudukkan dirinya yang lemah, ia tidak percaya akan dilihat orang lain selemah ini.


"Hmm, apa kau malu Lyam?" Kashel celingak-celinguk memperhatikan wajah Lyam yang tidak seperti biasanya itu.


"Apa yang kau katakan?" tatapan Lyam terlihat tajam lagi kembali seperti biasanya membuat semua orang bergidik ngeri karenanya.


"Kau tidak perlu menyembunyikannya, tidak masalah kelemahanmu diketahui oleh kami. Kita semua adalah teman di sini." Kashel memegang bahu Lyam. Teman Kashel mengangguk mengiyakan dan ada yang tersenyum juga.


"Lyam aku tidak menyangka perasaanmu benar-benar berkembang," Kashel takjub sendiri.


"Itu semua karena pengaruhmu Kashel, sebagai manusia. Kau adalah orang yang memiliki perasaan yang sangat kuat." Lyam berdiri dan pergi meninggalkan ruangan itu.


"Hah dia tetap Lyam yang biasanya. Tidak berubah," ucap Rigel.


"Itulah Lyam yang kita kenal," kata Kashel pada teman-temannya.


"Sudahlah sebaiknya kita melanjutkan aktifitas kita lagi." Anna membuka suara, karena ia punya banyak pekerjaan yang ia harus kerjakan.


Mereka semua pun akhirnya membubarkan diri menyibukkan dirinya pada kesibukan masing-masing.


.


.


.


Lyam dan Kashel terlihat berbicara empat mata setelah itu.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Kashel.


"Apa kau mau mendengar ceritaku. Mengapa aku harus mengikat kontrak dengan seseorang." Lyam ingin menjelaskannya.


"Entahlah, aku sebenarnya tidak ingin begitu tahu. Mengetahui aku terikat denganmu saja, aku masih setengah menerimanya.


"Menurutku, sebaiknya kita diperkenalkan dengan cara tanpa harus mengikat sebuah kontrak. Dan menjadi teman baik secara alami," jelas Kashel.


"Tapi itulah cara takdir yang telah ditentukan Kashel, agar kita bisa menjadi dekat seperti sekarang karena secara alami itu jelas tidak mungkin." Terang Lyam.


"Takdir ya?" Kashel menatap ke arah lain.


"Meskipun kau tidak ingin mendengar kisah panjangnya saat ini, aku akan tetap mengatakannya." Lyam berucap lagi


"Kashel ikatanku denganmu bisa menghambat kegelapan melahap diriku." Jelas Lyam ia pergi setelah itu. Kashel hanya diam. Ia sudah menebak Lyam melakukan kontrak dengan manusia pasti ada sesuatu hal yang memaksanya untuk melakukan hal itu.


Sepenting itukah ikatan ini. Batin Kashel, ia ingat betapa kegelapan menginginkan keberadaan Lyam tapi sekarang Lyam tidak sendiri seharusnya selama tidak ditelan secara langsung oleh kegelapan, keberadaan Lyam pasti tidak akan terancam.


Kashel menyadari tanggung jawabnya adalah menjaga keseimbangan Lyam yaitu wujud perbatasan agar tidak mengamuk dan membahayakan dua dunia seperti yang Lyam katakan sebelum-sebelumnya.


"Di dunia ini pasti ada satu atau dua orang yang berbeda dari orang lain entah itu kekurangan atau kelebihan yang terlalu menyenangkan atau terlalu menyakitkan. Tapi di antara banyak orang kenapa harus aku yang menjadi berbeda, seseorang yang bahkan tidak bisa mensyukurinya sama sekali. Karena aku tahu ada ribuan atau bahkan jutaan orang di luar sana yang menginginkan apa yang tidak aku inginkan." Kashel bergumam sendiri.


"Pada akhirnya itulah takdir. Takdir, takdir dan takdir. Hah, kenapa juga aku dapat beban tugas yang begitu berat." Kashel menarik nafasnya lesu, ia sadar sendiri sambil duduk menyangga dagunya dengan satu tangan.


Sekarang tujuan utamanya adalah mencari kebahagiaannya sendiri serta menjaga kebahagiaan orang lain, itulah yang terpenting untuk Kashel.


"Sudahlah tidak ada berguna juga aku mengeluh, tidak akan mengubah kenyataan." Kashel terus mengoceh sendiri.


"Ketua kenapa kau berbicara sendirian seperti itu," Kyler duduk di hadapan Kashel.


"Apakah kau mendengar ucapanku barusan?" tanya Kashel.


"Tidak, hanya saja sepertinya Ketua terlihat terus mengeluh." Jelas Kyler.


"Kyler bagaimana kau menjadi kuat?" tanya Kashel sedikit penasaran, ia tidak ingin membahas tentang keluhannya lagi.


"Apa ketua penasaran tentangku, tapi itu tidak begitu menarik sebenarnya. Mungkin tidak seindah kehidupan ketua yang dipenuhi kemewahan." Ucap Kyler. Kashel hanya tersenyum menanggapi Kyler yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupannya dulu.