The Borders

The Borders
Bagian 47 – Tawaran Lyam



"Kenapa tidak mau, bukankah dengan kekuatan besar kau bisa membalaskan dendam pada orang-orang yang sudah meremehkan dirimu." Lyam berucap sambil terus mengikuti Kashel yang menuntunnya di tengah hutan malam itu.


"Membalas dendam pada orang lain itu tidak akan menyelesaikan masalah apapun," Kashel mengeluarkan pendapatnya, apa yang ia pikirkan tentang perasaannya tentang masalah dendam.


"Lagipula tidak semua orang di dunia ini jahat, meskipun ada beberapa orang yang tidak baik padaku aku tidak membenci mereka. Pasti suatu saat aku akan benar-benar bertemu dengan orang baik." Kashel meyakinkan dirinya sendiri, ia belum pernah bertemu banyak orang dari luar sana.


Kashel teringat ada beberapa orang yang sepertinya perduli padanya, makanya Kashel berharap banyak tentang pertemuannya dengan orang-orang baik kelak.


Mereka berdua berjalan sambil berbincang-bincang di tengah hutan malam itu. Karena Lyam yang di sampingnya setidaknya Kashel merasa aman dan tidak merasa terancam dengan kehadiran Roh Kegelapan.


Mungkin Kashel merasa Lyam itu kuat jadi ia tidak merasa takut di tengah hutan itu. Entah kemana rasa takut Kashel pada Lyam sebelumnya, ia sepertinya mulai terbiasa dengan Lyam di sisinya.


"Bukankah biasanya manusia merasa senang ketika dirinya sedikit berbeda dari orang lain."


"Nah kau benar Lyam, kau tahukan keluargaku sangat dikenal sebagai keluarga yang sangat hebat dalam membasmi Roh Kegelapan." Kashel memberikan pendapatnya.


"Dari situ aku berpikir, aku yang terlahir berbeda ini pantas untuk membanggakan diri sendiri. Karena tidak sama dengan keluargaku yang spesial. Aku bisa jadi berbeda dari keluargaku, aku menikmatinya." Kashel senang mengatakannya.


"Walaupun aku dicaci maki orang sana sini dan itu menyakitkan." Kashel berterus terang pada Lyam. Entah mengapa ia biasa saja berkeluh kesah pada orang itu.


"Ah maafkan aku, jadi menceritakan hal tidak penting pada orang kuat seperti dirimu. Mungkin kau menganggapnya orang lemah seperti diriku ini hanya ingin menghibur diri saja.


"Meskipun begitu, itu benar-benar adalah jalan yang aku pilih." Kashel berbicara canggung saat menjelaskannya.


"Tidak kau bukan orang yang lemah, jika kau mau kau bisa menjadi kuat." Lyam berucap saat Kashel mau menjawabnya Roh Kegelapan tiba-tiba datang ke arah mereka dan kali ini menyasar ke arah Kashel pria itu refleks mengangkat tangannya melindungi diri tapi tidak sempat untuk berlari menjauh.


SYUT!


SYUT!


Suara angin yang membelah-belah Roh Jegelapan itu dan sedikit darinya Lyam masukan ke dalam botol penyegel.


"Sepertinya kita bisa membuat penuh botol ini jika mau," Lyam memperhatikan botolnya yang sudah terisi setengah dengan energi gelap, mereka berdua sudah cukup banyak mengalahkan energi gelap jika sudah mencapai setengah dari botol itu.


"Bukankah itu sudah cukup? Aku rasa sebentar lagi, aku akan mencapai batasanku juga,"  Kashel menjelaskan, ia tidak bisa menggunakan mata batinnya terlalu lama karena tidak punya energi sihir.


"Ah aku terlalu bersemangat, tapi jika kau mau aku bisa mentransferkan sedikit energi sihirku padamu. Agar mata batinmu terbuka tanpa menggunakan kacamata itu." Lyam mengulurkan tangannya.


"Maaf, aku menolak." Kashel dengan tegas menolaknya dan menyembunyikan tangannya ke belakang badannya.


"Apa kau benci pada sihir?" Lyam bertanya mereka melanjutkan perjalanan.


"Tidak juga, karena orang berkemampuan sihir bisa menolong orang banyak. Jadi aku tidak membencinya tapi tidak juga menyukainya."


"Kau bisa menjadi bagian dari mereka jika mau." Lyam mengatakannya lagi. Kashel hanya menatapi Lyam setelah itu, ia bingung kenapa orang itu terus-terusan mengatakan hal yang sama untuk Kashel.


"Ada apa?" Lyam yang ditatap Kashel merasa terganggu.


"Tidak aku hanya berpikir jika mau semua orang bisa menjadi kuat seperti dalam buku cerita yang kau baca itu. Setiap orang punya kelebihannya masing-masing. Bukankah seharusnya itu bagus." Lyam berbicara dengan santai.


"Ya kurasa seperti itu, tapi aku ingin menjadi diriku sendiri saja. Bagaimana pun akhirnya nanti. Karena kehidupan nyata itu tidak semudah yang bisa dibayangkan dalam cerita dongeng." Jelas Kashel lagipula ia tidak tertarik dengan kekuatan sihir atau apapun itu. Menjadi orang normal dan mendapatkan kehidupan yang tenang adalah keinginannya sejak kecil.


.


.


.


Tiba-tiba Kashel terlihat bergetar, ia merasakan ada energi yang cukup kuat mendekat ke arah mereka berdua.


"Ini," Lyam terdiam setelahnya ia terlihat sangat serius sekarang.


"Beruntung kita yang menemukan energi hitam ini. Jika ini murid lainnya mereka bisa terbunuh." Lyam berucap sambil mengangkat Kashel menjauh sedikit dari aura hitam itu.


"Hah? Apa maksudmu, tapikan aku tidak bisa berbuat apa-apa, berarti aku juga dalam bahaya. Jika energi ini bisa membahayakan anak-anak lain, apalagi aku." Kashel panik sambil berucap, Lyam mengangkatnya ke udara seperti mengangkat sebuah karung menggunakan satu tangannya saja dan menempelkannya di pinggangnya. Tapi Kashel tidak masalah dengan hal itu.


"Apakah jika aku melepaskan kacamataku, pertarunganmu tidak akan terganggu?" Kashel bertanya penasaran. Dan Lyam menggeleng.


"Tidak bisa, jika kau melepaskan kacamatamu kau akan dinyatakan tidak lulus. Begitu juga aku. Aku akan menghadapinya." Kashel pun mempercayakan semuanya pada Lyam.


Kashel terkejut melihat apa yang akan Lyam hadapi. Itu adalah Roh Kegelapan berbentuk orc, seumur hidupnya Kashel belum pernah melihat Roh Kegelapan dengan bentuk jelas seperti itu. Karena biasanya ia hanya melihat Roh Kegelapan dalam bentuk gumpalan asap selama ini.


"Mengerikan, apakah makhluk seperti ini yang akan dihadapi para Kesatria Penjaga Batas yang telah lulus." Gumam Kashel, ia juga beberapa tahun ke depan pasti akan menghadapi makhluk yang seperti itu juga mau tidak mau. Jadi mulai sekarang Kashel tidak boleh merasakan takut karenanya.


Lyam terlihat bertarung dengan makhluk itu, Lyam tidak segan-segan menggunakan kekuatannya untuk melumpuhkan makhluk raksasa tersebut.


"Benar-benar cepat," Kashel yang melihat pertarungan itu takjub dibuatnya. Lyam terlihat memiliki kemampuan berteleportasi yang hebat.


Kekuatan anginnya yang dahsyat membelah-belah makhluk itu, gerakannya yang lambat menguntungkan Lyam yang memiliki kecepatan dalam bertarung. Serangannya yang lambat tidak berarti apa-apa untuk Lyam dan orc itu hancur berkeping-keping menjadi asap hitam.


"Roh Kegelapan yang berbahaya untuk orang lain. Terlihat jadi sangat mudah untuk orang itu kekuatannya menyeramkan lebih dari monster kegelapan itu sendiri."


Tiba-tiba sisa asap hitam bagian dari monster itu mengerumuni Lyam. Kashel yang melihatnya tentu saja terkejut. Ia refleks lari dan mendatangi Lyam yang terdiam. Setidaknya dengan kemampuan mantra pelindung miliknya ia bisa menghalau energi gelap itu dari tubuh Lyam.


"Hei, kenapa kau tidak melawan." Kashel memegang bahu Lyam dan dari situ mantra penghalangnya bekerja. Kegelapan itu memudar. Botol segel yang mereka berdua bawa terlihat sudah penuh. Tapi kemudian Lyam jatuh pingsan.


"Hei! Hei! Sadarlah," sebenarnya itu adalah pertama kali Kashel melihat Lyam pingsan.


.


.


.