The Borders

The Borders
Bagian 112 – Kakak Beradik



Kantor Pusat dan Divisi Batas Senja itu cukup jauh sehingga ketika mereka sampai di sana acara sudah mau di mulai. Jadi Rai hanya bisa menyapa Kashel saja.


"Kau, kenapa kau membawa adikku kemari?" Kashel berbisik pada Rai.


"Kenapa, kau tidak suka?" tanya Rai.


"Tidak, bukan begitu." Muka Kashel terlihat menahan malu, ia senang.


"Ah itu, perkenalkan aku Karel." Karel mengangkat tangannya ingin berjabatan.


Kashel tentu saja langsung menyambutnya, mereka berjabatan untuk pertama kali.


"Namaku Kashel," Kashel memperkenalkan dirinya agak canggung. Rai yang melihatnya merasa gemas kelakuan dua bersaudara itu.


"Kurasa sebelumnya kita pernah bertemu, di Kantor Pusat ya?" Karel menggaruk pipinya yang tidak gatal, entah mengapa saat melihat Kashel ia merasa agak mirip dengan orang itu Rai merasa harus bersikap sopan padanya.


"Iya –." Perkataannya terputus.


"Kashel kemari acaranya sudah mau dimulai!" Anna memanggil Kashel untuk segera datang memulai acara pernikahannya. Kashel langsung bergegas pergi setelah dipanggil oleh Anna.


Acara pernikahan berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan. Kashel dan Grizelle akhirnya resmi menjadi suami istri. Mereka berdua saat ini menyambut tamu-tamunya.


Mereka berdua bergandengan mesra seolah-olah tidak ingin saling melepaskannya pegangan tangan mereka satu sama lain. Membuat teman-temannya yang lain malah menggodanya melihat kedua pasangan baru tersebut.


.


.


.


Tidak terasa acara itu pun telah selesai...


Kashel, Grizelle dan kawan-kawannya sedang berkumpul bersama, di sana masih ada Rai dan Karel. Mereka berdua belum pulang meskipun ponsel mereka terus-terusan berbunyi dalam mode hening. Mereka lebih memilih ikut berkumpul dengan kedua mempelai yang baru saja resmi menikah itu.


"Kau Karelkan tukang kabur dari akademi." Kyler menegur Karel yang duduk tidak jauh dari hadapannya saat ia datang.


"Kak Kyler." Meskipun tukang bolos Karel tetaplah orang yang sopan pada orang yang lebih tua. Mereka berdua saling menjabat tangan akrab.


"Dulu aku pernah bertarung dengannya, karena mendapatinya tidak sengaja masuk di asrama bagian kakak tingkat. Entah bagaimana bocah ini bisa sampai nyasar ke sana." Kyler menjelaskan pada teman-temannya. Rai yang mendengar itu mendelik ke arah Karel marah. Jika ketahuan guru pembimbing ia akan terkena hukuman berat karena telah melanggar aturan.


Kashel yang mendengarnya tidak menyangka jika adiknya adalah seorang berandalan tukang bolos. Grizelle yang sudah tahu jika itu adalah adik Kashel hanya terkekeh melihat Kashel tidak terima dengan kenakalan adiknya.


Saat ini Karel masih baru berusia 15 tahun. Ia masih bocah berandalan sebenarnya.


"Sebaiknya kau bersekolah dengan baik sampai lulus mulai sekarang." Kashel langsung mengutarakan pendapatnya pada Karel.


"Aku bosan Kak, belajar di tempat seperti itu menyebalkan. Terlalu terkurung seperti penjara tidak seperti dunia luar." Ujar Karel menjelaskan.


"Paling tidak belajarlah dengan baik, sampai kau lulus nanti." Ucap Kashel lagi.


"Fufufu, Kashel kau benar-benar sangat peduli ya dengan adikmu." Gumam Rai dengan santainya sambil meminum, minumannya. Semua orang nampak terkejut, tapi belum begitu mengerti.


Kashel membelalak kaget dengan ucapan Rai barusan, Karel terlihat menunduk mendengarkan hal itu. Kemudian ia berdiri dan mendatangi Kashel berdiri di hadapannya, Kashel berdiri juga.


"Hei, Karel. Kau jangan mendengarkan ucapan Rai ba–."


BUAGH!


Ucapan Kashel terputus ketika Karel meninju perut Kashel dengan keras.


"Ugh!" Kashel terbatuk sambil menyentuh bahu Karel yang badannya tingginya masih hanya sebahu Kashel.


Lyam dan yang lainnya langsung berdiri, tapi tidak ada yang ikut campur karena Kashel mengangkat tangannya menandakan tidak perlu khawatir.


"Apa kau membenciku?" tanya Kashel akhirnya, ia tersenyum sedih menatapi adiknya, takut jika adiknya membencinya.


Karel menggeleng, kemudian memeluk Kashel seperti anak kecil. Ia sangat ingin punya kakak karena merasa kesepian selama ini, ia tidak menyangka jika ia memang punya seorang kakak yang ia bahkan tidak tahu sama sekali.


"Kenapa ayah dan ibu merahasiakan tentang Kakak padaku?" tanya Karel, Kashel hanya tersenyum menanggapi adiknya.


"Terima kasih, karena tidak membenciku." Ujar Kashel tidak ingin membahas masalah ayah dan ibunya.


"Apa Ayah dan Ibu tahu jika kau menikah Kak?" tanya Karel.


"Tahu, tapi mereka tidak datang. Tapi tidak apa-apa kau sudah datang kemari." Ujar Kashel berusaha akrab pada Karel.


"Aku akan membuat perhitungan dengan mereka." Karel terlihat kesal. Saat ini kedua kakak beradik itu sedang ditinggalkan hanya berbicara empat mata saja oleh teman-temannya yang lain.


"Jika kau memberitahukan tentang interaksi aku dan kamu, mereka pasti akan marah Karel." Ujar Kashel takut, wajahnya terlihat ketakutan.


"Kakak sebenarnya apa yang sudah Ayah dan Ibu lakukan padamu." Gumam Karel jadi takut juga karena melihat wajah Kashel yang penuh dengan rasa trauma.


Ia pernah diperingatkan orang tuanya untuk tidak pernah mengganggu adiknya atau ia akan mendapatkan hukuman dari orang tuanya, sampai hari ini ia menanamkan itu dalam hati dan pikirannya, tapi saat bertemu dengan adiknya ia tidak bisa menahan perasaannya untuk tidak menjadi seorang kakak untuknya.


Orang tua Kashel telah tahu jika Kashel akan menikah, meskipun tidak dihiraukan Kashel masih berusaha untuk menghubungi orang tuanya. Bahkan sampai mendatangi kediamannya untuk memberitahukan hal itu, tapi ia malah tidak disambut baik dan diusir bahkan sebelum Kashel bertemu dengan kedua orang tuanya.


Akhirnya Kashel mengirimkan sebuah surat melalui pos, setidaknya ia sudah benar-benar menyampaikan berita bahagianya pada orang tuanya. Dibaca atau tidak dibaca suratnya itu, sebab Kashel tidak ingin orang lain tahu jika ia akan menikah selain orang yang dipercaya olehnya.


"Aku sudah dibuang dari keluarga itu Karel, aku sudah bukan bagian dari keluarga besar semenjak diangkatnya pemimpin baru organisasi. Ayah dan Ibu tidak ingin ada kehadiranku di antara mereka sejak dulu. Tapi aku sudah tidak apa-apa." Kashel tersenyum pada adiknya.


"Tapi aku tetap adikmukan?" Karel tertunduk sedih. Ia tidak tahu harus bertanya seperti apa, ia tidak tahu pokok permasalahan yang terjadi sebenarnya.


"Tentu saja kau adalah adikku." Kashel langsung menjawabnya dengan tegas.


"Kenapa Kakak dibuang?" tanya Karel akhirnya.


"Aku bukanlah orang yang berguna untuk keluarga kita." Kashel langsung memberitahukan alasannya.


"Kakak tidak punya energi sihir?" Karel cukup tahu, satu-satunya hal yang membuat orang dari keluarga utama dibuang pasti hanya karena tidak memiliki kemampuan spesial.


"Iya itu dulu."


Kashel tahu berbeda dari sekarang, sekarang ada takdir berat di pundaknya yang membuat Kashel tidak bisa seenaknya bertindak.


"Kalau begitu aku akan ikut Kakak saja." Karel langsung menempel pada Kashel. Tapi ketika melihat tatapan Lyam Karel takut dan langsung bersembunyi di belakang badan Kashel ketakutan.


Orang itu mengerikan. Karel membatin.


"Lyam jangan takuti adikku." Ucap Kashel kemudian mendatangi istrinya lagi, Karel terus menempel pada Kashel, meskipun takut Karel masih sempat-sempatnya menatap Lyam dengan mengejek. Lyam teringat dengan Kashel ketika masih muda dulu, Karel tampak mirip dengannya tapi pemuda itu lebih tengil daripada Kashel yang lebih pendiam.


"Karel, kau tidak kembali?" Rai mengajak Karel pulang.


"Aku mau bersama Kakakku dulu, Kak Rai pulang saja sana." Ujar Karel mengusir Rai.


"Kau itu, jika kita tidak kembali sama-sama kau akan membuat masalah untukku. Dan lagi kehadiranmu itu di dekat Kashel mengganggu momen pengantin baru saja!" Rai mengomel memarahi Karel tapi pemuda itu malah menutup kupingnya.


"Dasar bocah!" Rai yang merasa tidak dihiraukan mulai kehilangan kesabarannya.