The Borders

The Borders
Bagian 91 – Kehancuran Dan Kedamaian



Setelah itu Kashel jatuh pingsan tidak sadarkan diri.


Cahaya kuning yang menyelimuti seluruh desa itu menghilang, bulan yang terlihat merah karena cahaya kuning yang menyelimuti desa pun juga telah menghilang. Tanah itu sudah bukan tanah Naga Perbatasan lagi, energi keberadaannya telah berakhir malam itu, habis tak bersisa. Desa terlihat porak-poranda karena kekacauan itu.


"Hah!"


"Hah!" Suara deru nafas Chain dan Erphan yang saling bersahutan.


"Apakah ini sudah berakhir?" tanya Chain tidak percaya.


"Jika tidak berakhir, kita berdua tidak akan berbaring santai di sini asal kau tahu." Jawab Erphan.


"Kau benar aku, ingin tidur sebentar." Ujar Chain memejamkan matanya ia benar-benar kelelahan begitu juga dengan Erphan.


"Sebenarnya akan lebih baik jika Kashel sendiri yang menangani kekacauan ini, kekuatan anak itu benar-benar gila." Erphan berucap susah payah, dan kemudian tertidur juga.


Guardian muncul kembali setelah itu, ia keluar dari tubuh Kashel setelah di serap. Kemudian ia mengangkat Kashel yang pingsan itu, ke tempat yang lebih baik untuk beristirahat.


.


.


.


Di tengah lapang rumput, Kashel tersadar.


"Adu-duh! Badanku sakit semua ...." Kashel tidak tahu harus bagaimana agar rasa sakitnya menghilang.


Banyak orang yang terluka di sana. Ada Leon yang merenungkan kesalahannya, ia dijelaskan oleh Guardian sebenarnya tapi Guardian mengatakan bahwa tidak ada orang di desa yang tahu jika itu adalah kekacauan yang dibuatnya. Ia telah merusak tanah ini.


"Hei kau, tidak ada yang perlu disesalkan. Apa yang sudah terjadi maka terjadilah, kuharap kau bisa bangkit." Kashel berharap.


"Kau pikir aku orang yang mudah menyerah." Leon menatap Kashel, ia seperti biasanya.


Leon tidak terlalu ambil hati karena ia juga tidak begitu tahu apa yang sudah ia lakukan. Orang-orang desa hanya ingat ada badai kegelapan yang menyerang desa mereka tadi malam. Dan setelah ini mereka hanya perlu membangun desa mereka kembali seperti semula. Badai kegelapan bagi mereka yang tinggal di desa sihir itu sudahlah hal yang biasa.


Mereka bersyukur karena hanya sedikit orang yang mengalami luka-luka dan tidak ada korban jiwa walaupun banyak rumah dan tempat-tempat indah yang rusak.


"Lagi pula dari awal, orang-orang di desa ini tidak tahu bahwa tanah ini memiliki energi Naga Perbatasan. Hanya aku dan Guru." Jelas Leon, itu juga ia hanya tahu karena dijelaskan saja, ia juga belum tahu di mana kekuatan perbatasan itu di segel, Leon hanya tahu tempat itu saat dikendalikan saja.


"Kau telah merusaknya bodoh!" pak Arsan datang dan memukul kepala Leon. Pak Arsan tidak ingat juga apa yang terjadi, tapi ia tahu energi sihir The Borders yang ada di tanahnya telah lenyap.


"Auuu! Maafkan aku Guru." Leon mengelus kepalanya yang sakit.


"Tak apa, setidaknya desa ini telah mendapatkan kedamaiannya. Meskipun tidak ada energi sihir itu, desa ini tetaplah tanah bersejarah Naga Perbatasan muncul di sini." Ujar pak Arsan menatap desanya yang sedang hancur itu.


"Terima kasih telah melindungi orang-orang di desa ini dan menghentikanku." Ucap Leon, menarik tangan Kashel.


"Auu! Hentikan itu sakit, seluruh badanku sakit!" Kashel merasa ia hampir menangis karena sentuhan itu.


"Orang-orang berjubah itu sudah sering datang ke desa ini dan mencari batu kristal itu. Tapi aku dan Guru menyembunyikannya baik-baik."


"Hanya aku yang tahu tentang altar batu sihir yang menyegel kekuatan Naga Perbatasan di desa ini. Tapi semenjak itu hancur, roh pelindung yang dipanggil nanti juga akan lebih bervariasi tidak hanya naga seperti sekarang." Ujar pak Arsan menjelaskan.


Akibat bercampur dengan energi The Borders, orang-orang yang tinggal di tanah ini memiliki roh pelindung berwujud naga dan Leon adalah Tuan Muda tanah ini selanjutnya. Namun, tanah ini telah rusak.


"Baiklah, kali ini aku akan melindungi tempat kelahiranku ini dengan caraku sendiri." Semangat Leon. Kashel hanya tersenyum menanggapinya.


Rasa sakit di tubuh Kashel tidak bisa langsung hilang meskipun memiliki sihir regenerasi, karena saat ini sihir milik Kashel sedang kacau di dalam tubuhnya dan sedang memperbaiki alirannya. Guardian juga tidak bisa berbuat apa-apa karena sihirnya juga sedang tidak stabil karena Kashel.


"Hei Lyam, kenapa kamu bisa tiba-tiba ada di sini. Bukankah kau menjalankan tugasmu sendiri?" tanya Kashel, ia berbicara tapi tidak bergerak.


"Tentu saja karena aku dipanggil kemari Kashel, kau tahu saat itu aku sedang dalam pengaruh energi gelap. Diriku juga diambil alih pemiliknya." Guardian menjelaskannya pada Kashel.


"Kau tidak boleh menyebutnya seperti itu, karena itu bagian dari dirimu juga." Guardian menceramahi Kashel.


"Aku tidak perduli, lagipula dia punya kepribadiannya sendiri." Ujar Kashel.


"Sayangnya dia sudah tidak dalam keadaan sadarnya lagi Kashel, wujudnya yang ada di dalam dirimu sekarang adalah pribadi yang berbeda lagi karena telah terpengaruh kegelapan." Jelas Guardian.


"Aku tahu, jika itu dia yang kemarin, aku tidak akan takut padanya." Ucap Kashel berusaha bersantai, agar tubuhnya menjadi lebih baik lagi, agar aliran sihir di tubuhnya tidak kacau seperti sekarang.


Leon dan pak Arsan sibuk mengurus warga-warga desanya.


Chain dan Erphan terlihat tertidur di rerumputan yang tidak jauh dari Kashel dan Guardian yang sedang berbincang. Mereka berdua tidak peduli dengan perbincangan Kashel dan Guardian karena merasa benar-benar kelelahan.


Setelahnya kehancuran desa itu, kejadiannya ditetapkan pusat karena bencana kegelapan yang datang tiba-tiba, hal biasa untuk desa-desa sihir terkena badai kegelapan. Dan pusat mendapatkan informasi tentang orang-orang berjubah yang sering muncul di setiap pertarungan mereka dengan Roh Kegelapan, itu masih menjadi pertanyaan besar untuk semuanya.


Mereka semua merahasiakan tentang Kashel yang dirinya diambil alih oleh The Borders dan kekacauan yang terjadi menyebabkan hilangnya energi sihir spesial pada tanah itu. Karena memang hanya beberapa orang saja yang tahu.


Kashel akhirnya menyebut orang-orang misterius berjubah itu sebagai Sekte Sihir Hitam.


.


.


.


.


"Yey! Akhirnya kita pulang." Kashel terlihat bersemangat yang tadinya bertiga, kali ini ada Lyam yang juga ikut pulang bersama mereka.


"Luan kau punya obat pereda stres tidak?" tanya Chain dengan wajah lesu dan mata berkantung.


"Aku ingin cuti." Gumam-gumam Erphan langsung berbaring di sofa.


"Apa yang sudah terjadi?" tanya Luan tidak mengerti, mereka tidak terluka, bahkan Kashel terlihat segar bugar, hanya dua orang itu yang tampak mengalami tekanan batin yang dahsyat.


"Aku tidak akan lagi mau satu misi dengan Kashel, selain musuhnya kuat-kuat mental kita diuji." Chain mengomel sambil menunjuk Kashel yang hanya menatapnya santai.


Sedangkan Erphan ia tidak peduli lagi ia hanya butuh tidur dengan tenang.


"Memangnya kenapa, apa yang Kashel lakukan pada kalian?" Luan memeriksa keadaan Chain yang mengalami stres cukup berat.


"Kashel memberikan tubuhnya pada The Borders, kurang gila apa lagi yang dia lakukan." Luan yang mendengar itu merasa bersyukur tidak terlibat dengan misi mereka.


"Kasihan sekali," hanya itu yang Luan ucapkan. Kashel hanya tersenyum prihatin memperhatikan Chain yang mengomel-ngomel tidak jelas.


"Kenapa harus takut, lagipula kalian tidak dilukai olehnya juga." Ujar Kashel santai.


"Nah Kashel benar, kau pulang tidak dalam keadaan terluka parah, namun hanya stres yang kau terima."


"Kau tidak akan pernah mengerti jika tidak merasakannya sendiri." Chain mulai agak tenang sekarang. Setelah meminum ramuan yang Luan berikan.


"Maafkan aku Chain, sepertinya kalian harus terbiasa mau tidak mau. Lagi pula The Borders sekarang mungkin tidak akan pernah bisa mengambil alih diriku lagi. Hanya Lyam yang menyeramkan sekarang." Ucap Kashel menunjuk Lyam yang tidak tahu apa-apa itu, Lyam hanya diam saja tidak peduli.


Sebenarnya teman-teman Kashel sudah terbiasa dengan kehadiran Lyam. Setelah mengalami berbagai macam tekanan setelah dua tahun lamanya.


.


.


.