The Borders

The Borders
Bagian 34 – Salah Paham



.


.


.


Kashel yang sibuk akan pekerjaannya, tidak begitu memiliki banyak waktu untuk menemui atau memberi kabar pada Grizelle.


Bahkan terkadang ada pesan dari Grizelle yang lupa Kashel balas. Tapi Grizelle terus berusaha mengerti di sana, berusaha memahami Kashel. Karena Grizelle memang mendengar ancaman Kantor Pusat untuk divisinya yang ingin dibubarkan jika tidak mendapat anggota lain dalam waktu dekat.


Grizelle yang kebetulan lewat di depan Kantor Divisi Batas Senja tidak sengaja melihat Kashel dan teman-temannya. Kashel terlihat sangat fokus membaca laporan.


"Kashel!" Grizelle memanggilnya ketika ia bertemu di jalan masuk kantor itu.


"Grizelle?" Kashel yang saat itu tengah sibuk membaca kertas laporan yang kebetulan di dekatnya ada Lyam dan Freda juga, langsung menoleh ke arah Grizelle yang memanggilnya.


Sambil terus membaca laporannya Kashel berjalan ke arah Grizelle.


"Grizelle, maafkan aku. Sampai saat ini aku tidak sempat memegang hpku untuk menghubungimu." Kali ini Kashel berbicara menatapi kekasihnya, ia sangat merindukan Grizelle.


"Jika kau ingin mampir masuklah dulu ke dalam," kata Kashel menawarkan Grizelle untuk singgah.


"Tidak perlu Kashel kau sedang tampak begitu sibuk sekarang, jadi aku tidak akan mengganggumu. Maafkan aku ya kalau datang mengganggu. Seandainya aku bisa membantu," Grizelle merasa tidak enak hati belum lagi Lyam yang menatapinya dengan sorot mata tidak senang.


Kashel memeluk Grizelle tiba-tiba bahkan wanita itu sampai terkejut dibuatnya tapi tidak memungkiri bahwa Grizelle juga merasa senang diperlakukan seperti itu, "Aku benar-benar merindukanmu Grizelle, terima kasih telah kemari." Ucap Kashel pada Grizelle. Rasanya rindunya sedikit terbayarkan.


"Tapi sebenarnya aku hanya kebetulan lewat dan kau tepat berada di sini. Ya tadi aku memang berencana ingin masuk ke dalam jika kau tidak ada di luar." Grizelle berbicara jujur, tanpa kebohongan sedikit pun.


"Aku tetap senang." Kashel tersenyum tulus ke arahnya, rasanya bagi Kashel sudah lama tidak melihat wajah kekasihnya.


"Ah aku harus melanjutkan pekerjaanku," kata Kashel tidak enak sebenarnya.


"Lanjutkanlah jika begitu." Grizelle menyuruh Kashel untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Mendekat sebentar, ada yang mau kuberitahu." Kashel langsung memasang kupingnya di depan wajah Grizelle.


Kemudian dengan kedua telapak tangannya Grizelle menghalangi pandangan orang-orang agar terlihat seperti sedang berbisik namun sebenarnya ia mencium pipi Kashel saat itu, pria itu nampak terkejut dibuatnya.


"Hadiah," Grizelle berucap malu.


"Bolehkah aku menculikmu?" Kashel yang terkejut dengan hal itu berbicara spontan, mengatakan yang ia inginkan. Ia sekarang benar-benar ingin membawa Grizelle ke suatu tempat.


"Mana ada orang mau menculik minta izin." Ucap Grizelle tersenyum menahan tawanya.


"Dah! Aku pergi pulang dulu semua." Grizelle benar-benar pergi setelah itu sambil berpamitan pada semuanya yang ada di situ, Freda tidak menatapinya.


Ia merasa cemburu pada Grizelle yang bisa membuat Kashel menjadi senang, padahal Kashel akhir-akhir ini ia tidak begitu menunjukkan emosinya sama sekali, meskipun Freda ingin menghiburnya.


"Hati-hati Grizelle jangan pergi ke tempat macam-macam. Maaf tidak bisa mengantarmu," Kashel berucap sebelum Grizelle benar-benar jauh. Wanita itu hanya melambaikan tangannya untuk menjawab. Tentu saja dia tidak akan macam-macam, karena Grizelle bukanlah gadis yang seperti itu.


.


.


.


Setelah itu, Kashel menghabiskan banyak waktunya bersama Freda, tujuan Kashel saat itu hanyalah memberinya petunjuk tentang bagaimana pekerjaan mereka di sana. Karena Freda belum begitu mengerti cara bekerja divisinya.


Namun Freda dan Lyam memiliki arti lain. Lyam menginginkan Kashel lebih baik bersama dengan Freda karena bisa menguntungkan untuk Kashel, karena ia memiliki kekuatan yang cukup kuat, tidak seperti Grizelle yang tidak bisa berguna karena orang biasa.


.


.


.


Hari itu Kashel dan Freda di luar berduaan saja, mereka terlihat ingin memasuki gerbang kantor.


Grizelle yang tidak sengaja lewat ingin menyapa mereka. Tapi saat itu Grizelle melihat Freda yang tersenyum senang saat berdiri di samping Kashel, ia tidak melihat ekspresi Kashel yang datar saja saat itu karena membelakanginya. Tapi Grizelle malah menganggap Kashel memberikan ekspresi yang sama pada Freda, karena membuat gadis itu tersenyum begitu tulus padanya.


Grizelle tidak jadi menyapanya, ia langsung pergi meninggalkan tempat itu buru-buru. Grizelle merasa cemburu sekarang.


Kashel melihat Grizelle yang lewat dengan terburu-buru itu. Kashel berpikir saat itu Grizelle ada urusan mendadak jadi ia memutuskan tidak mengganggunya juga.


.


.


.


Sejak saat itu Grizelle tidak lagi mengirimkan pesan pada Kashel dan Kashel akhirnya mulai memikirkan tentang Grizelle yang beberapa hari ini tidak mengirimkan pesan padanya.


"Ada apa Kashel?" Lyam bertanya pada Kashel yang melamun menatap ponselnya.


"Kau memikirkan wanita itu?" Lyam menebak.


"Sejak kapan kau mengurusi kehidupan pribadiku," Kashel berkata ketus, ia sedang dalam keadaan perasaan yang tidak baik.


"Dia bukanlah orang yang berguna Kashel, lebih baik kau bersama dengan Freda yang lebih berguna untukmu." Ucap Lyam sambil menatap keluar, tanpa perasaan tentu saja.


BRAAK!


Suara meja digebrak oleh Kashel.


"Jangan pernah mengatakan kalau dia tidak berguna, berguna atau tidak aku tidak perduli Lyam. Ini masalah hati manusia, yang bahkan kau tidak bisa ikut campur tentangnya. Karena kau tidak akan pernah mengerti." Kashel berkata dengan nada yang dingin. Ia merasa marah karena ucapan Lyam barusan.


Selama seminggu ini hubungan Kashel dan Grizelle merenggang. Dan Grizelle tidak mengatakan apa-apa pada Kashel.


.


.


.


Malam itu mereka menjalankan misi, membasmi Roh Kegelapan yang menempati sebuah rumah kosong. Kashel, Lyam dan Freda pergi ke tempat itu.


Dengan sihir bayangan milik Freda Roh Kegelapan itu dengan mudahnya dikalahkan. Sebelumnya Roh Kegelapan tidak begitu kuat daripada yang akan muncul di masa depan. Jadi satu setengah tahun yang lalu, hanya roh-roh lemahlah yang mereka banyak hadapi.


Karena ceroboh kaki Freda terperosok ke dalam lantai kayu yang sudah rapuh dari rumah kosong itu dan membuat kakinya terkilir, ia tidak bisa berdiri karena kesakitan.


"Kau ceroboh sekali, mari aku gendong." Kashel langsung membungkukkan badannya dan menyuruh Freda naik digendongannya.


Di perjalanan pulang malam itu Kashel dan Grizelle bertemu lagi, wanita itu sepertinya habis berbelanja sesuatu malam itu, karena belum terlalu larut. Mereka bertemu di jalan, kali ini tepat saat Kashel menggendong Freda yang entah mengapa malah mengeratkan pelukannya pada Kashel saat melihat Grizelle yang berdiri di hadapannya.


Grizelle langsung mundur pergi tanpa mengatakan apa-apa ia berlari menjauh, "Grizelle!" Kashel memanggilnya tapi Grizelle tidak memperdulikannya seolah tidak mendengar. Ada perasaan yang menusuk di hati Grizelle.


"Ini menyakitkan," gumam Grizelle berlari menjauh sambil menahan air matanya yang akan jatuh.