The Borders

The Borders
Bagian 32 – Freda yang Kesepian I



Dua tahun yang lalu ...


"Di mana aku?" seorang wanita tersadar di tengah hutan, tidak ingat apapun tentang masa lalunya. Ia hanya ingat namanya Freda, itulah yang sepertinya orang memanggilnya.


Ia terkejut karena ada sebuah bayangan yang berada di dekatnya, bayangan itu tidak berwujud tapi sepertinya bisa merubah-rubah bentuknya, saat itu bayangan tersebut tidak bergerak bentuknya hanyalah seperti gumpalan asap hitam.


Freda yang ketakutan melihat bayangan di sebelahnya langsung berlari pergi meninggalkan bayangan itu, ia tidak ingat siapa bayangan itu dan apa hubungannya dengannya.


Ketika melihat Freda yang menjauh pergi, bayangan itu sepertinya tersadar juga dan langsung mengejar Freda. Kemudian bersembunyi di dalam bayangan Freda, tanpa sepengetahuannya.


Freda yang tidak tahu harus ke mana, berkeliling di tengah kota dengan perut yang tengah kelaparan. Ia terus berjalan sampai pada akhirnya berada di sebuah taman kota. Ia merasa sangat lelah dan kebingungan saat itu.


Cuaca hari itu terlihat begitu gelap dan mendung ingin hujan sehingga tidak banyak orang di sana meskipun hari itu adalah hari libur. Tapi tidak lama kemudian hujan turun dengan deras.


Freda yang masih kebingungan karena tidak ingat apa-apa merasa tidak tahu harus berbuat apa. Semua kenangan bersama orang-orang di masa lalunya benar-benar terhapus dengan bersih.


Di tengah hujan ia duduk di sebuah kursi taman, Freda termenung sambil melamun memandang jauh ke depan. Ia merasa begitu hampa dan kesepian. Berpikir apakah tidak ada orang yang akan mencarinya.


Freda yang bajunya sudah compang-camping dan basah kuyup kehujanan. Tetap duduk di kursi taman itu dengan perut yang kelaparan ia tidak berniat pergi dari sana sedikit pun.


Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan Kashel dan Grizelle yang tengah berjalan bersama yang tidak sengaja melewati tempat itu, Grizelle yang melihat Freda langsung memayunginya dengan salah satu payung yang mereka gunakan agar Freda tidak kehujanan lagi.


Sedangkan Grizelle dan Kashel berdiri di bawah satu payung yang sama.


"Kenapa nona berdiam di bawah hujan deras seperti ini?"  Grizelle berucap sambil ingin memberikan payung itu. Tapi wanita itu hanya diam saja.


KRUUUK!


Suara perutnya begitu nyaring bahkan mengalahkan suara hujan.


Grizelle tersenyum kaget mendengarnya. Sedangkan Freda pipinya memerah malu. Kulitnya yang putih bersih, membuat wajahnya yang memerah terlihat begitu sangat jelas.


"Ah aku punya roti, sebaiknya kau makan dulu." Grizelle merogoh tas yang ia bawa dan memberikan sebungkus roti pada Freda.


"Setelah itu mari cari tempat berteduh." Lanjut Grizelle mengajak Freda yang belum ia kenal, Kashel yang memayungi Grizelle hanya diam saja melihat interaksi kedua gadis itu, ia tidak tahu harus berbuat apa juga.


Freda yang kelaparan langsung menerima roti pemberian Grizelle dan memakan roti itu dengan lahap.


"Ayo ikuti kami," ajak Grizelle dan Freda pun mengikuti mereka, karena yakin mereka berdua itu adalah orang baik.


Karena merasa iba Kashel dan Grizelle kemudian membelikan ia makanan. Dan akhirnya mereka berkenalan di sana.


"Perkenalkan namaku Grizelle dan dia Kashel." Grizelle memperkenalkan diri, Grizelle tersenyum sembari berbicara pada Freda.


"Kalau boleh tahu siapa nama nona?" tanya Grizelle sopan.


"Namaku Freda," ia memperkenalkan dirinya, Freda berucap sedikit canggung sekarang.


"Terima kasih untuk semuanya," Freda berucap masih dengan nada yang gugup, karena merasa tidak enak.


"Kenapa kau sampai hujan-hujanan seperti itu, di mana rumahmu Freda?" Grizelle yang penasaran bertanya, ia juga sekalian mengakrabkan diri dengannya.


"Ia rumah," Grizelle menyakinkan ucapannya, ia pikir gadis itu berasal dari luar negeri karena memiliki rambut pirang putih. Dan Grizelle sempat berpikir bahwa wanita itu tidak paham dengan bahasa yang ia gunakan sekarang.


"Aku ... Tidak ingat." Freda menjelaskan situasinya saat itu sebelum Grizelle bertanya lebih jauh yang mengiranya gadis itu tidak paham dengan bahasanya.


Kemudian Freda menjelaskan bagaimana ia tersadar dan berakhir seperti sekarang. Mereka berdua adalah orang pertama yang perduli dengan keadaannya, setelah ia menjadi gelandangan beberapa saat yang lalu.


.


.


.


Setelah hujan reda dan selesai membelanjakan Freda makanan agar gadis itu tidak kelaparan lagi, mereka ingin berpisah karena Kashel dan Grizelle juga tidak tahu mau berbuat apa untuk wanita itu. Kashel dan Grizelle menyarankan untuk melapor ke Kantor Polisi tentang kasusnya.


Waktu itu tidak terasa sudah malam. Namun karena tempat mereka berpijak tidak begitu ramai, hawa tiba-tiba berubah menjadi dingin.


Anehnya yang merasakan hawa dingin itu hanyalah Kashel dan Freda.


"Grizelle apa kau kedinginan?" Kashel yang khawatir bertanya pada Grizelle.


"Tidak, aku tidak kedinginan." Grizelle langsung berkata dengan jelas. Kashel mulai merasa agak janggal karena Grizelle terlihat biasa-biasa saja


"Apakah kau bisa melihat makhluk dari dunia lain?" Kashel akhirnya buka suara bertanya, setelah melihat Freda yang tampak mengalami hal yang sama dengannya.


Kepala Freda tiba-tiba terasa pusing saat mendengar pertanyaan itu, ia tidak ingat apa-apa.


"A-aku tidak ingat," ucapnya tergagap sambil memegang kepalanya. Seperti ada bayangan samar tapi ia tidak begitu mengingatnya.


Kashel mau tidak mau membuka kacamata yang ia kenakan untuk bisa melihat sekitarnya.


Saat ini prioritas utamanya tetap terfokus untuk melindungi Grizelle meskipun wanita itu tidak akan apa-apa karena hanya manusia biasa. Tapi ia takut jika hati kekasihnya itu dalam keadaan yang lemah, itu tetap bisa membahayakan keadaannya juga. Roh Kegelapan itu pasti akan mempengaruhinya dan membuat Grizelle dalam bahaya karenanya.


Kashel menempelkan tubuhnya pada Grizelle melindunginya, membuat wanita itu bingung karena tidak mengerti apa yang terjadi. Namun Grizelle tidak bertanya karena ia paham situasinya, Kashel melihat sesuatu.


Tiba-tiba ada serangan hitam datang ke arah mereka bertiga Kashel yang tidak siap akan apa-apa, menjadikan tubuhnya tameng untuk melindungi Grizelle tanpa melakukan perlawanan sedikit pun karena serangan mengarah kepada mereka berdua.


Lyam dengan sigap muncul melindungi mereka berdua.


"Apakah kau bodoh bahkan untuk menangkis serangan seperti itu tidak bisa," Kashel hanya diam saja, tidak terkejut dengan kehadiran Lyam yang tiba-tiba muncul. Benar-benar terlihat biasa saja meskipun Lyam marah padanya Kashel tidak perduli dan tidak takut juga.


Ia tahu ke mana pun dia pergi pasti Lyam akan mengawasinya. Tapi tidak dengan Freda ia tampak terkejut dengan kemunculan Lyam yang tiba-tiba, tapi ia berusaha bersikap biasa-biasa saja.


Kashel membuang wajahnya dari tatapan Lyam. Waktu itu Kashel masih belum begitu akrab dengan Lyam karena masih merasa terlalu dipaksa oleh Lyam, meskipun ia sudah merasa baik-baik saja tapi perasaan kesal Kashel pada Lyam belum menghilang karena sudah memilihnya menjadi seorang wadah jiwa.


.


.


.