
Tidak terasa Kashel yang telah berada di tahun terakhir mulai memasuki bab tentang mantra pelindung.
Di awal pelajaran mereka diingatkan lagi tentang dasar-dasar tentang matra pelindung yang sudah pernah mereka pelajari di kelas sebelumnya.
Sekarang mereka diharuskan untuk bisa melukis mantra pelindung dengan baik.
Tentu saja Kashel yang merupakan ahlinya dalam mantra pelindung dengan mudah menggambar lambang sihir pada mantra pelindung.
Bentuk mantra itu berbeda dengan mantra pentagram dan hexagram yang bentuknya umum digunakan. Mantra ini memiliki garis-garis yang berbeda dari mantra lain. Setiap garisnya harus dibuat secara berurutan, untuk membuat kemampuannya menjadi efektif dan mantra itu memiliki dua bentuk. Bentuk yang menangkis dan bentuk yang memantulkan.
Kashel terlihat sangat telaten menggambar bentuk-bentuk dari mantra pelindung yang ia buat. Bentuk yang mereka pelajari di akademi ini adalah bentuk yang bisa menangkis karena bentuk ini lebih mudah di gambar untuk anak ukuran sekolahan dan belum ada pengalaman.
Mereka ditugaskan untuk menggambar sepuluh simbol mantra pelindung yang sama.
Banyak murid yang terlihat kebingungan dalam menggambar simbol mantra pelindung. Karena di antara mereka memang ada beberapa yang tidak tahu cara menggambarnya sama sekali.
.
.
.
"Bagaimana Kashel apakah sudah selesai, sudah seharusnya kamu lebih cepat daripada yang lain mengerjakan tugas seperti ini." Guru pembimbing datang menghampiri Kashel yang kebetulan sudah selesai menggambar kertas mantranya.
"Sudah selesai." Kashel terlihat tersenyum menatap kertas mantra pelindung yang ia gambar.
"Kertas mantra ini akan diuji coba sebagai tanda apakah kertas mantra ini berguna atau tidak buat dirimu. Ikuti saya." Guru itu berucap kemudian ia menyuruh Kashel mengikuti dirinya keluar.
Kashel mengikuti guru pembimbing ke lapangan praktek di sana, guru pembimbing kemudian mengeluarkan roh pelindungnya.
Kashel mengaktifkan mantra pelindung yang ia buat, ia merasa berdebar-debar, gugup pada ujian prakteknya ini.
.
.
.
"Kau sudah siap?" tanya guru pembimbing pada Kashel.
"Ya, saya siap Guru." Kashel meyakinkan dirinya telah siap kepada gurunya.
"Saya akan mulai menyerang, Roh Pelindung serang anak itu." Guru pembimbing Kashel memberi perintah pada roh pelindungnya.
"Mantra pelindung!" ucap Kashel tanda mengaktifkan mantra pelindungnya.
Sebuah serangan terlihat terpantul dan menghilang setelah menghampiri Kashel. Mantra pelindung milik Kashel berhasil lulus dalam uji coba. Guru pembimbing itu tidak begitu kaget dengan pencapaian Kashel.
"Selamat Kashel, kamu sudah menyelesaikan ujian ini dan berhasil dengan baik untuk mantra pelindung.
"Untuk yang lainnya saya tidak akan mengujinya karena saya yakin itu pasti akan berguna juga." Guru pembimbing memberitahukan tentang kelulusan Kashel.
Guru pembimbing itu tidak ragu dengan kemampuan Kashel karena sudah sering melihat kemampuan mantra penghalang miliknya yang terkenal.
"Kau sudah bisa beristirahat duluan, sambil menunggu teman-temanmu yang lain menyelesaikan ujiannya." Jelas guru itu kemudian meninggalkan Kashel sendirian di lapangan, Kashel senang karena ia dinyatakan telah lulus.
Kashel kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan. Lalu kemudian melihat ke arah hutan entah mengapa Kashel merasa seperti ada yang sedang mengawasinya dari atas pohon di arah hutan. Kashel langsung meninggalkan tempatnya berdiri.
.
.
.
Ternyata dari arah sana memang benar ada yang sedang mengawasi Kashel. Dia adalah Guardian yang sekarang mengawasi Kashel dari jarak jauh.
"Apa cuma perasaanku saja ya?" Kashel bertanya pada dirinya sendiri sekali lagi. Kemudian Kashel mengangkat bahunya menyatakan tidak masalah dengan hal itu. Lagi pula tidak ada hal berbahaya yang teras mengancamnya.
.
.
.
Guardian kemudian menghilang dari sana. Setelah ia melihat tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan Kashel.
.
.
.
"Kenapa tadi aku merasakan energi yang sama seperti milik Lyam ya?
"Mungkin cuma perasaanku saja. Dia kan Guardian. Aku tidak akan mau berurusan dengannya lagi, tidak akan." Kashel berbasa-basi pada dirinya sendiri.
Saat itu Kashel melihat sekilas ke arah kanannya dan ia terkejut ketika melihat orang dengan jubah hitam sedang memandanginya dari jauh.
Kashel yang kaget langsung melihat dengan benar-benar tapi ternyata tidak ada orang di sana apakah yang ia lihat benar-benar Lyam.
"Kenapa pula aku memikirkan orang itu, jangan pikirkan dia lagi. Jangan." Kashel berbicara sambil menepuk kedua pipinya meyakinkan dirinya.
.
.
.
Terlihat satu persatu siswa yang telah menyelesaikan melukis mantra mulai diuji satu persatu, di antara mereka ada yang tidak lulus mantranya gagal dan terluka karena mendapatkan serangan.
Murid itu terlihat kecewa karena telah gagal dalam ujian mantra, meskipun terluka ia masih bisa berdiri dengan baik.
Kashel hanya melihat mereka semua yang sedang melakukan praktek dari jauh tidak berniat untuk mendekati sama sekali yang ada ia salah-salah akan malah ditantang oleh murid-murid di sana. Jadi Kashel lebih memilih untuk menyendiri.
"Kenapa rasanya mengantuk ya, akhir-akhir ini aku rasa kehidupanku sedikit lebih tenang."
"Apakah ini akan kurasakan jika aku telah bebas dari tempat ini?" Kashel kemudian memejamkan matanya tidak sabar menantikan hari itu.
.
.
.
Tidak berapa lama Kashel yang tertidur terperanjat kaget akan sesuatu, ia terkejut karena bisa-bisanya ia terus tidur di tempat terbuka seperti itu tanpa perlindungan apapun tidak seperti dirinya yang biasa.
"Sepertinya aku terlalu merasa damai sampai tidak memikirkan jika banyak orang yang tidak menyukaiku," Kashel bergumam sendiri, kemudian ia tersenyum meratapi nasibnya.
.
.
.
Bel akademi telah berbunyi tanda jam pelajaran mereka telah berakhir, Kashel juga meninggalkan tempat dia duduk. Karena sekarang sudah memasuki jam makan siang.
Dia pergi ke kantin akademi dan memilih makan siangnya di sana. Seperti biasa tidak ada yang mau mendekati Kashel sama sekali bahkan Kashel dianggap tidak ada di sana.
Kashel menikmati makan siangnya sendiri ia tidak peduli lagi dengan teman-teman palsu yang hanya mendekatinya ketika ada maunya saja.
Dengan sendiri seperti ini ia merasa damai. Tidak ada beban pikiran yang perlu dipikulnya.
"Sepertinya setelah ini aku akan pergi ke perpustakaan akademi saja." Gumam Kashel kemudian pergi beranjak dari tempat duduknya.
Kashel merasa dirinya seperti diawasi tapi ia tidak tahu yang mengawasinya itu siapa. Karena merasa itu hanya perasaannya saja, akhirnya Kashel tidak terlalu mengurusinya. Hal itu bermula dari semenjak kepergian Lyam, Kashel mulai merasakan perasaan itu.
Hari-hari itu berjalan tidak seperti biasanya benar-benar tenang tidak pernah merasakan senyaman ini dalam masa sekolahnya, ia berharap hari-hari tenang itu akan bertahan selamanya.
.
.
.
Materi mantra penghalang tidak terasa sudah berakhir kali ini. Kashel akan memasuki teori mantra penyegel.
Mungkin di materi ini nilai Kashel akan jatuh karena ia tidak bisa sihir, meskipun ia bisa membuat simbol mantranya. Mungkin hanya setengah dari nilai itu yang ia bisa dapatkan di dalam materi ini.
.
.
.
Beberapa bulan terakhir ini teman-teman sekelasnya tidak ada yang merundung dirinya lagi atau membicarakannya lagi, meskipun Kashel tidak tahu apa penyebabnya.
"Akhir-akhir ini aku merasa tidak ada yang membicarakan ku lagi sebenarnya apa yang terjadi sih?" pada akhirnya Kashel penasaran karena ia merasa ada yang mengganjal tidak biasanya semua orang berlaku seperti itu padanya.
Namun sampai akhir, tidak ada penjelasan yang memberikan Kashel titik terang. Kashel tidak tahu apakah ia harus bersyukur atau merasa aneh karena hal itu.