
Saat pintu itu terbuka memperlihatkan sebuah ruangan yang di dalamnya ada sebuah batu kristal hitam. Ruangan itu dilindungi oleh mantra sihir yang tidak bisa dimasuki sembarangan orang.
"Hmm, jadi ini salah satu penyebabnya aku muncul di sini. Batu itu adalah bagian dari diriku." Kashel tidak menjelaskan apa-apa setelahnya.
Kashel merasa guncangan pada dirinya.
Batu itu adalah kelemahan wadah jiwaku, hanya wujud sadar yang dapat menghancurkan batu itu. Batin Kashel.
Tidak ada yang boleh tahu akan hal ini, wadah jiwaku akan kehilangan kesadarannnya jika ia melihat batu itu, karena kesadarannya akan di tarik.
Untuk saat ini ia tidak akan sanggup menahan tekanan dari batu itu, tubuhnya belum siap. Pikir Kashel. Bahkan The Borders tahu dia yang hanya jiwanya sekarang tidak bisa menghancurkan itu.
"Batu itu berbahaya jika jatuh di tangan yang salah, batu ini bisa memanggil Portal Perbatasan. Salah satu dari bagian tubuhku yang menghilang dan memiliki energi yang tidak bisa dianggap remeh." Ujar Kashel menjelaskan.
"Kalau begitu kau harus menghancurkannya." Leon tiba-tiba muncul dan Kashel menggeleng.
"Aku tidak bisa." Ujar Kashel, "Hanya Guardian yang bisa." Lanjutnya.
"Kaukan The Borders itu sendiri." Ujar Leon lagi.
"Tubuh ini terlalu lemah untuk menghancurkan batu itu." Jelas Kashel menatap tajam Leon sehingga pemuda itu menciut.
Kekuatan mengerikan itu dibilang lemah. Pikir Chain ia hanya bisa menggeleng tidak percaya.
"Jadi Tuanku, apa yang akan kita lakukan dengan batu ini."
"Aku akan memanggil Guardian kemari."
.
.
.
Tidak lama sebuah portal muncul di dekat mereka. Guardian langsung menunduk hormat pada Kashel, ia tahu itu adalah jiwanya orang yang berbeda sama sekali dengan Kashel.
Mereka hanya berbicara batin, Guardian sudah tahu apa yang harus ia lakukan saat sampai ke sana. Saat dua keberadaan itu berkumpul raga dan jiwa, semuanya langsung menundukkan kepala mereka.
Walaupun, pak Arsan dan Leon belum tahu pasti hubungan Kashel dan Guardian itu seperti apa karena itu dirahasiakan.
Guardian mengambil bola kristal hitam itu dan mencoba menghancurkannya.
DUAR!
Saat akan menghancurkan batu kristal itu ledakan besar terjadi di antara mereka.
Sehingga batu kristal itu terlepas dari tangan Guardian dan diambil oleh orang berjubah.
"Manusia yang bersekutu dengan kegelapan." Kashel berucap. Kemudian mengeluarkan kekuatan portalnya dan muncul dengan cepat di samping orang yang mencuri batu itu.
Lyam juga mulai menyerang tapi tanpa mereka sadari orang-orang itu tidak sendiri mereka berjumlah banyak.
Kashel turun perlahan ke tanah dan berjongkok di sana.
"Tubuh ini terlalu lemah, ia sudah mencapai batasnya hanya dengan beberapa kali menghunus pedang cahaya dan menggunakan portal dengan cepat." Bahkan jiwa The Borders sekalipun bisa merasakan lelahnya perasaan manusia, saat menggunakan tubuh Kashel.
Maafkan aku bocah. Batin The Borders melepaskan beberapa kekuatan elemennya. Lyam terus menyerang mereka semua berusaha merebut kristal yang dicuri. Kashel sudah tidak bisa menggunakan kekuatan portalnya lagi karena sudah mencapai batas dari tenaganya malam itu. Lebih tepatnya dia butuh istirahat.
Untuk menghalau serangan elemen yang berbeda-beda dari orang-orang berjubah itu, Kashel juga menggunakan berbagai macam kemampuan elemennya. Air, tanah, api bahkan udara.
Leon, Pak Arsan, Chain dan Erphan hanya takjub melihat macam-macam elemen yang sedang bercampur itu menghalau setiap serangan yang menghampirinya.
Leon, pak Arsan, Chain dan Erphan berusaha menghadapi roh-roh lemah yang cukup merepotkan. Kelompok itu berhasil melarikan diri dan membawa kristal itu.
"Sialan!" umpat Leon. Ia kemudian mengejar orang yang membawa kabur kristal itu.
"Leon jangan gegabah!" pak Arsan berteriak memanggil Leon.
"Jangan khawatirkan aku guru, kita tidak bisa berharap pada Naga Perbatasan sekarang karena sepertinya dia telah menjadi lemah." Ujar Leon malah meremehkan Kashel yang terdiam.
The Borders mulai kehilangan setengah kesadarannya kembali.
"Aku baru pertama kali benar-benar jelas melihat dunia ini, kegelapan ini benar-benar meresahkan." Gumam Kashel.
Jiwa Kashel yang beristirahat di alam bawah sadarnya terbangun. Kashel memperhatikan energi gelap yang berkeliaran di dalam dirinya.
"Heh, kuyakin mereka berdua sekarang sedang kerepotan. Aku senang karena tidak harus ikut campur tapi aku merasa kasihan juga pada dua makhluk tanpa perasaan itu. Harus menerima perasaan gelap tidak jelas." Gumam Kashel berbicara sendiri. Kashel mulai mengerti kenapa Guardian terpengaruh oleh kegelapan. Karena perasaan dari dunia manusia tidak mempengaruhi Guardian.
"Tapi mereka menelan perasaanku sebagai manusia juga, dan itu menyebalkan." Kashel mengomel sendiri di alam bawah sadarnya ketika ia menggunakan sihir Kashel merasakan perasaannya sedikit berkurang. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi di luar karena tidak ingin tahu juga, Kashel masih mempercayai makhluk yang mengakui dirinya adalah Naga Agung.
"Aku hanya khawatir jika mereka lepas kendali, makhluk itu membunuh orang dengan tanganku." Kashel tampak khawatir. Namun, melihat energi gelap mulai ternetralkan kembali dan perlahan menghilang, Kashel sedikit bernafas lega.
"Hahaha, pemilik tubuh ini terlalu percaya padaku rupanya. Dia bahkan tidak bergeming sama sekali meskipun kegelapan sedang mempengaruhinya." The Borders bergumam sendiri, tapi kemudian perlahan tapi pasti kekuatannya mulai pulih kembali.
"Tubuh ini perlu tidur." Ucap Kashel saat itu. Roh Kegelapan yang berkumpul di sana mulai menghilang, mereka tidak mengejarnya.
"Bagaimana kegelapan bisa masuk ke desa ini?" Kashel berucap, desa ini punya pelindung sihirnya sendiri, tidak semudah itu kekuatan gelap bisa masuk sesuka mereka.
Guardian yang merasa dirinya sudah baik-baik saja sekarang datang menghampiri Kashel yang sedang meminta penjelasan pada pemimpin desa itu pak Arsan. Di sini Guardian hanya diam saja, Guardian saat ini adalah dirinya sendiri tapi ia sangat menghormati pemilik asli tubuhnya.
Di saat seperti ini Chain dan Erphan merasa Lyam lebih baik daripada Kashel dengan jiwa yang lain. Kashel bagi mereka lebih menakutkan.
"Saya tidak tahu Tuanku." Ujar pak Arsan menunduk.
"Portal Perbatasan." Guardian berbicara, Kashel menatapinya.
"Rupanya seperti itu. Batu kristal itu, batu itu bisa memanggil Portal Perbatasan jika dipadukan dengan energi sihir yang cocok dengannya dan akan membahayakan nyawa penggunanya jika berani-berani bersatu dengan manusia biasa." Ujar Kashel itu adalah bagian dari dirinya.
"Tapi Kashel dia baik-baik saja meskipun bersatu dengan kalian." Chain membuka mulutnya.
"Kau tahu banyak rupanya." Kashel menatap tajam Chain, membuat pria itu menciut.
"Lebih tepatnya anak ini, memiliki kekuatannya sendiri untuk bisa menerima diriku dengan baik di dalam dirinya. Jika dia orang biasa dari awal ia akan mati." Kashel menjelaskannya dengan tatapan mata merah menyala miliknya.
"Tapi Kashel sekarang baik-baik sajakan?" Erphan tampak khawatir.
"Jangan khawatirkan Kashel dia itu berbeda, entah apa yang dilakukannya di alam bawah sadarnya, ia sendiri memang yang tidak menginginkan kembali untuk saat ini." Ujar Guardian menjelaskan, ia tahu Kashel bukan orang selemah itu yang dirinya mudah diambil alih oleh jiwa The Borders karena dari awal Kashel memang tidak begitu melawan sama sekali.
.
.
.
"Ah di sini ternyata enak juga, tidak makan tidak minum aku merasa baik-baik saja, sudah berapa lama aku di sini." Kashel masih bersantai di sana tidak peduli dengan kekacauan di luar.
.
.
.