The Borders

The Borders
Bagian 63 – Gurun Pasir



Setelah itu Kashel dan Rainer membawa tas yang cukup besar untuk persediaan mereka. Melalui jalur udara dan darat yang cukup memakan waktu beberapa hari dan akhirnya sampailah mereka di titik awal perjalanan mereka.


Mereka harus melalui padang pasir yang luas dengan hanya menaiki kuda, karena tidak ada kendaraan yang aman untuk dilalui untuk daerah itu. Mereka berdua sudah memasuki daerah kekuasaan Kesatria Cahaya.


Namun, meskipun daerah situ adalah kekuasaan Kesatria Cahaya tapi di sana banyak di tempati oleh roh-roh kegelapan kuat yang berkeliaran. Kashel dan Rainer harus sangat berhati-hati di dalam perjalanan mereka ketika waktu memasuki malam hari.


Roh Kegelapan tertarik datang ke sana, karena kekuatan cahaya yang kuat itu ingin mereka hancurkan. Agar melemahkan kekuatan Dunia Cahaya, mempermudah tujuan mereka untuk menguasai dunia ini.


.


.


.


"Panas." Gumam Kashel, seumur hidupnya baru pertama kali ia pergi ke gurun pasir seperti sekarang, ia juga tidak menyangka ia akan sampai pada tempat itu juga.


Kashel yang baru saja belajar berkuda sedikit kehilangan fokusnya. Dia adalah pria yang cukup cepat ahli dalam berkuda walaupun sedikit kaku.


"Kashel fokuslah, atau salah-salah kita akan berakhir berjalan kaki nanti." Jelas Rainer mendekati Kashel yang sudah terlihat tidak fokus.


"Baiklah, Paman. Aku tidak tahan dengan hawa yang terlalu panas seperti ini." Kashel berucap. Kemudian ia singgah sejenak, membuka jaketnya sehingga tinggal mengenakan kaos lengan pendek saja dan tetap mengenakan topi yang ia pakai.


"Jadi sekarang lebih baik," Rainer mengajaknya berbicara setelah melihat Kashel yang terlihat sedikit lega.


"Umm, walaupun masih panas tapi ini lebih baik dari tadi. Aku tidak menyangka jika gurun pasir ternyata sepanas ini." Kashel terlihat sedikit bersemangat sekarang.


"Kita harus mencari oasis Kashel, untuk beristirahat nanti malam. Kuharap kau tidak terkejut akan perubahan suhu di malam hari nanti." Jelas Rainer, Kashel hanya menganggukinya.


Perjalanan mereka terasa begitu lancar karena ini masih siang hari jadi tidak perlu khawatir akan Roh Kegelapan, itu menurut Kashel. Tapi tiba-tiba ada angin panas yang berhembus menerpa mereka berdua.


"Gawat! Kashel cari tempat berlindung." Rainer langsung berbalik dari angin panas yang tiba-tiba datang itu.


"Hah, ada apa?" Kashel yang kebingungan hanya ikut saja.


"Badai pasir Kashel. Bantu aku cari tempat berlindung." Jelas Rainer dan Kashel yang paham langsung memperhatikan sekitarnya ia merasa panik, ini benar-benar pengalaman yang menegangkan untuk Kashel.


Tidak dalam gangguan Roh Kegelapan, mereka harus bertahan dengan alam.


"Jangan panik dan tetap tenang Kashel, kita cari tempat aman." Rainer menenangkan Kashel. Kashel hanya mengangguk berusaha menenangkan dirinya.


Kemudian Kashel melihat kumpulan batu besar.


"Paman, apakah tempat itu bisa untuk kita berlindung." Kashel menunjuk tempat yang ia lihat cukup jauh hanya samar-samar terlihat. Rainer memperhatikannya setelah itu, memastikan itu bukan hanya sekedar ilusi mata karena mereka kepanasan.


"Ayo kita segera ke sana." Ajak Rainer berkuda di depan Kashel dan Kashel mengikutinya dengan baik.


Mereka akhirnya sampai di bukit berbatu itu tepat saat badai pasir mulai datang ke arah mereka. Agar kuda yang mereka bawa tidak panik mereka mengikatnya dengan kencang.


"Gunakan masker Kashel dan kacamata." Rainer memerintah Kashel dengan tenang, Kashel juga mengikutinya dengan tenang. Mengambil barang-barang persediaannya dari dalam tas.


Badai pasir kuat tidak lama kemudian lewat melalui mereka, dua kuda yang mereka bawa sempat terkejut karena adanya badai itu. Tapi tidak membuat mereka berlari kabur karena sudah diikat.


"Kau cukup baik juga untuk pengalaman pertamamu menghadapi badai pasir Kashel." Puji Rainer pada Kashel.


"Itu semua berkat Paman yang membimbingku dengan baik." Ujar Kashel, ia merasa bukanlah orang yang sehebat Rainer bilang.


"Tenanglah, umumnya badai pasir terjadi dari pagi sampai sore hari. Tapi badai pasir ini, paling sebentar lagi akan melewati kita. Karena badai pasir ini sedang berjalan Kashel. Jadi kita hanya bisa menunggunya." Jelas Rainer.


Setelah sekitar satu jam bertahan akhirnya badai pasir itu seluruhnya melewati mereka, tapi mereka berdua setelahnya terpaksa berjalan kaki karena kuda yang mereka bawa tampak seperti kelelahan. Persediaan air yang mereka bawa juga menipis, mereka harus menemukan oasis secepatnya.


Kashel yang tidak biasa dengan cuaca ekstrim seperti sekarang terlihat sangat kelelahan karena harus berjalan kaki.


"Awas!" Rainer menangkap tangan Kashel yang tiba-tiba terpeleset.


"Ma-maafkan aku, Paman." Kashel merasa tidak enak ia tidak tahan lagi dan meminum persediaan airnya yang tinggal sedikit.


"Berhati-hatilah Kashel, kau hampir saja masuk ke dalam pasir isap." Perkataan Rainer tampak membuat Kashel terkejut dan menatapi lubang yang ia hampir masuki. Ia baru tahu lubang itu adalah pasir isap.


"Kita harus melanjutkan perjalanan Kashel," ajak Rainer dan melanjutkan perjalanannya.


Kashel langsung berdiri meskipun ia merasa sangat kelelahan. Akhirnya oasis yang mereka cari berhasil mereka temukan di sore hari.


Rainer langsung membasuh wajahnya, Kashel yang kelelahan lebih mementingkan berbaring beristirahat. Karena selama beberapa jam tadi. Rainer membuatnya benar-benar tidak berhenti berjalan.


Rainer membawakan air pada Kashel dengan botol yang ia bawa.


"Terima kasih, Paman." Kashel menerimanya, meminumnya dengan cepat dan menumpahkan sisanya pada wajahnya. Kashel melanjutkan istirahatnya lagi, ia tidak ingin berbuat apa-apa sekarang.


"Kita tidak bisa bersantai Kashel malam ini kita tetap harus waspada, kau tahu. Roh Kegelapan akan beraksi malam ini. Astaga anak ini." Kashel sudah tidak mendengarkan ucapan Rainer ia sudah tertidur karena kelelahan.


Padahal di perjalanan ini juga merupakan pelatihan untuk Kashel menjadi lebih kuat daripada sebelumnya, tapi karena Kashel tetaplah orang biasa itu tidak berarti apa-apa untuk saat ini. Tenaganya masih ada batasannya.


Rainer tahu, jika itu hanya Roh Kegelapan biasa itu tidak begitu berarti untuk Kashel karena ia tidak akan terpengaruh oleh kehadiran Roh Kegelapan jika kacamata rohnya tidak digunakan. Ia hanya membiarkan saja Kashel tertidur karena ia juga tidak tega memaksa Kashel bertarung. Ia tidak ingin Kashel terluka, seperti mengkhawatirkan keluarganya sendiri.


Namun, tidak beberapa lama Kashel bangun dari tidurnya, sekitar satu jam ia tidur saat tenaganya terasa kembali pulih sepenuhnya.


"Sudah merasa baikan?" tanya Rainer yang tengah duduk memasak air hangat di depan api unggun. Kashel mengucek matanya.


"Aku ketiduran," Kashel berjalan mendekati Rainer. Waktu itu masih belum terlalu malam. Matahari baru saja tenggelam.


SYUNG!


Kashel tiba-tiba merasa menggigil. Dia yang hanya mengenakan kaos tipis buru-buru mencari jaketnya. Tadi Kashel tertidur diselimuti oleh Rainer.


"Aku benar-benar merasa lelah, Paman. Ternyata alam luar seluas ini," ucap Kashel menghangatkan dirinya di depan api unggun dan duduk di samping Rainer.


"Memang seluas apa dunia yang kau lihat Kashel?" Rainer penasaran ia tidak pernah mendengar masa lalu Kashel dengan baik sebelumnya ia hanya tahu Kashel adalah anak dari keluarga Kendrick yang tidak dianggap dan sebagai calon wadah jiwa The Borders.


"Sebelumnya, aku hanya tinggal di kediaman keluargaku, Paman. Bahkan dulu aku hanya tinggal di kamarku." Jelas Kashel.


"Setelahnya aku hanya tahu Akademi Spiritual, sampai akhirnya bertemu Paman dan tahu bahwa dunia seluas ini. Walaupun, jujur saja aku lelah jika harus menjelajahinya seperti ini terus menerus. Tapi ini juga menyenangkan daripada hanya tinggal di sana." Kashel terlihat tersenyum setelah menyelesaikan ceritanya, Kashel bahkan tahu rasanya dipedulikan oleh orang lain.


.


.


.


.