The Borders

The Borders
Bagian 94 – Kekesalan Kashel



"Guardian, aku mau pulang saja. Aku tidak peduli bahkan jika tempat ini dihancurkan oleh badai kegelapan." Kashel berjalan ke arah Guardian.


Ada beberapa prajurit yang ingin menyerang Kashel karena tidak mau mendengar, tentu saja Guardian langsung melindungi Kashel dan menghempaskan seluruh prajurit peri yang ingin melukai Kashel.


"Makhluk dengan hati kotor dari pada manusia. Merasa berada di tempat tertinggi. Sepertinya akan menarik jika mereka terpengaruh oleh kegelapan. Kemudian dibasmi sampai ke akar-akarnya saja." Untuk pertama kalinya Kashel berbicara kejam pada sesuatu hal.


"Guardian, kenapa kau diam saja saat manusia ini seperti memerintah dirimu." Fellos yang merasa Kashel terlalu meremehkan Guardian.


"Lagipula apa yang dikatakan Kashel benar. Selama ini cuma bangsa manusia yang berjuang untuk melindungi dunia ini. Bangsa kalian hanya terima beres saja, dengan tidak mengotori tangan kalian. Seharusnya kalian tidak boleh meremehkan bangsa manusia dan menghormati mereka karena telah memberikan kedamaian pada kehidupan kalian." Guardian berdiri di sisi Kashel.


"Aku adalah sekutu anak ini, kalian hanya umur yang tua. Tapi tidak pernah mau belajar dari pengalaman yang sudah kalian lalui." Guardian mengeluarkan ceramah panjangnya.


Tidak ada yang berani berbicara, dalam kepala mereka semua. Bertanya-tanya siapa kah manusia yang dibawa oleh Guardian itu.


"Kami sangat membutuhkan bantuan Anda, Guardian." Ucap Raja Peri.


"Fellos sekali lagi, jika kau benar-benar membutuhkan bantuanku jangan ganggu anak ini." Guardian menatap Kashel yang hanya diam saja.


Kashel merasa keberadaannya di sana hanya menguras emosinya, dunia manusia jauh lebih baik menurut Kashel.


Fellos dan anaknya Stella hanya bisa terdiam setelahnya. Tidak ada kata maaf juga keluar dari mulut mereka yang sudah memfitnah orang lain seenak mereka.


Kashel tidak bisa melanjutkan lagi kemarahannya, bisa-bisa jika badai kegelapan tiba-tiba datang dan mengacau ia juga akan terpengaruh dari badai itu. Ia merasa tidak boleh bersikap seperti itu terus.


.


.


.


Malam itu Kashel berada di kamarnya bersama dengan Guardian.


"Aku mau pulang." Gerutu Kashel seperti anak kecil yang bosan saat itu.


"Sebentar lagi Kashel, kuharap kau mau bersabar."


"Aku tidak mau kemari lagi lain kali, tempat menguji kesabaran itu menjengkelkan." Kashel trus protes.


"Aku belum pernah melihat dirimu semarah ini sebelumnya, meskipun kau disakiti orang-orang." Karena sebelum-sebelumnya Kashel memang tidak pernah peduli biar dikatai apapun.


"Aku kesal Lyam, mereka meremehkan dan merendahkan manusia yang jelas-jelas berkorban untuk keberadaan mereka. Lebih tepatnya aku marah karena mereka menghina bangsaku." Kashel tidak suka jika ada yang menghina rasnya.


"Bisakah mereka sedikit berpikir seperti manusia bahwa tidak semua orang jahat." Ujar Kashel melanjutkan.


"Sepertinya memang benar, akhir-akhir ini karena kau sering terpengaruh oleh energi gelap, itu juga mempengaruhi emosiku Lyam." Kashel membaringkan dirinya di kasur. Lyam hanya memandang keluar jendela istana itu, memperhatikan bintang-bintang yang bersinar tanpa tertutup oleh awan.


Terlihat halaman di depan istana itu banyak tumbuhan berwarna-warni, tanaman yang tidak akan tumbuh di dunia manusia. Membuat dunia bangsa peri itu terlihat seperti dunia fantasi yang ada di dalam cerita dongeng. Tapi, karena kelakuan bangsa peri yang seperti itu Kashel tidak bisa menikmati alam indah itu dengan baik.


Sudah berapa lama aku di sini. Kashel hanya diam saja di kamarnya saat itu, mungkin sudah ada dua hari ia tinggal di tempat itu tanpa melakukan apa-apa.


Hanya Guardian yang sibuk dengan urusannya bersama Raja Peri Fellos.


Kashel kemudian berjalan ke arah jendela dan menatap ke halaman istana, istana peri ini berbeda dengan istana kerajaan pada umumnya di dunia manusia. Biasanya jika di dunia manusia tempat para bangsawan tinggal dan rakyat terpisah sangat jauh.


Di kerajaan ini istana dan tempat tinggal rakyat saling berdampingan hanya saja perbedaannya istana milik raja sangat besar dan sangat tinggi hal itu dilakukan agar raja bisa memantau rakyatnya dari atas.


Padahal mereka memang makhluk yang rukun tapi kenapa suka sekali meremehkan dan menganggap rendah makhluk lain. Batin Kashel melamun sambil menatap ke perkampungan para peri. Meskipun sudah malam hari, tetapi mereka masih sibuk dengan semua pekerjaan mereka.


Kashel juga takjub dengan alam sekitar yang ia lihat. Namun, ketika melihat bintang di langit Kashel langsung mengernyitkan keningnya.


Ia langsung bergegas, keluar dari kamarnya dan mencari Guardian.


"Guardian, di luar. Badai kegelapan itu semakin dekat." Kashel tiba-tiba muncul di depan pintu masuk sebuah ruangan, Fellos terperanjat kaget dan bertanya-tanya siapa Kashel sebenarnya.


Bagaimana ia langsung bisa tahu jika Guardian dan dia ada di ruangan itu. Padahal Fellos tahu Kashel belum pernah sama sekali berkeliling di istana ini dengan benar.


Guardian langsung bergegas keluar istana bersama Kashel. Setelah memperhatikan apa yang Kashel katakan benar, Fellos memerintah rakyatnya untuk segera bersembunyi.


Semua rakyat peri pun bersembunyi ke tempat yang aman. Stella muncul bersama roh pelindungnya yang berwujud kupu-kupu raksasa, saat itu.


"Putriku apa yang ingin kau lakukan, kau harus bersembunyi." Ujar Fellow terkejut khawatir pada putrinya yang juga ingin ikut bertarung.


"Kali ini aku akan melindungi kerajaan ini ayah, aku tidak mau berpangku tangan selalu dengan bantuan orang lain. Aku juga harus bisa bertarung." Putrinya begitu yakin. Dulu di masa lalu, ia hanya bisa menonton Guardian yang menyelamatkan desanya dari badai kegelapan, tapi kali ini ia ingin berjuang juga.


Kashel hanya menatap gadis peri itu. Ia tidak menyangka ada peri yang ingin ikut berjuang juga.


"Maafkan aku Kashel karena kemarin sudah memfitnah dirimu, karena seumur hidupku aku belum pernah ditolak oleh lelaki. Aku benar-benar tertarik denganmu dan ingin kau jadi pasanganku, aku mau berjuang bersama dengan dirimu. Karena bangsa peri tidak ada yang mau berjuang untuk melindungi tanah tempat tinggal mereka sendiri." Stella menjelaskan semuanya, Kashel nampak sangat kaget dengan penjelasan itu, gadis peri yang langsung tertarik pada manusia, gadis peri yang ingin bangsanya menjadi bangsa pejuang juga, tanpa harus terus berpangku tangan.


"Padahal kami juga bisa sihir, dan cukup kuat. Dari umur kami yang sudah tua lebih dari 50 tahun untukku dan 150 tahun lebih untuk ayahku. Kami seharusnya lebih memiliki banyak pengalaman ketimbang manusia. Tapi, malah sebaliknya peradaban kami malah menjadi di bawah karena selalu bersembunyi. Jadi Kashel maukah kamu membantuku untuk membuat bangsaku menjadi pejuang?" Stella malah melamarnya di tengah badai kegelapan yang akan segera datang itu, ayah Stella hanya menatap putrinya sangat terkejut.


"Maafkan aku, aku sudah memiliki orang lain yang mengisi hatiku." Kashel tersenyum canggung, ia merasa tidak enak tapi ia harus menolak.


"Aku tidak masalah menjadi yang kedua." Stella langsung mengatakan hal yang tidak masuk akal untuk Kashel turuti. Membuat pria itu melotot kaget