The Borders

The Borders
Bagian 118 – Misi Baru, Batu Elemen Air



"Baiklah. Sebagai ucapan terima kasihku, aku akan mencari batu sihir itu, tapi aku tidak menjamin jika misi itu akan berhasil dengan baik. Aku sangat ingin menghancurkan batu-batu sihir itu karena bisa membahayakan jika jatuh di tangan yang salah." Ujar Kashel bersandar di sofa, Grizelle hanya mendengarkan percakapan mereka.


"Setidaknya dengan turunnya dirimu ke sana, koran-korban yang dimanfaatkan untuk mencari batu sihir itu berkurang Kashel." Jelas Rai.


"Aku merasa seperti dipaksa melalukan pekerjaan ini." Kashel memasang wajah antara kesal dan pasrah.


"Hahaha. Oh iya, aku dengar adikmu akan berkunjung akhir-akhir minggu ini." Ujar Rai dari seberang telpon, Rai tidak membahas pekerjaannya saat ini.


"Gara-gara misi darimu aku jadi tidak bisa bertemu dengannya." Ujar Kashel lagi, ia tidak bisa kecewa karena sudah janji pada Rai untuk menjalankan misi ini setelah cutinya satu minggu itu.


"Dia bisa pulang karena saat ini ia sedang liburan ujian naik tingkat, mungkin adikmu akan menghabiskan waktunya di sana." Ujar Rai lagi, Kashel tahu libur ketika naik tingkat dari akademi itu, biasanya sekitar satu bulan lamanya. Tapi Kashel dulu tidak pernah mengambil waktu liburnya karena tidak tahu harus pulang ke mana, di rumahnya pun tidak ada yang mengharapkannya kembali.


"Kuharap Ayah dan Ibu tidak mencarinya." Ujar Kashel khawatir.


"Bocah itu sudah tidak tertolong Kashel, semenjak masuk akademi dia bahkan sangat jarang pulang ke rumahnya meskipun sedang liburan. Katanya ia bosan di latih bertarung terus menerus." Ujar Rai menjelaskan.


"Baiklah aku mengerti, jika dia kemari, bilang padanya untuk menjaga kakak iparnya dulu sebelum bertemu denganku." Kashel ingin adiknya akrab dengan istrinya.


"Hahaha, Kashel-Kashel. Kau tahu betapa irinya dia pada istrimu. Ia iri pada istrimu karena istrimu lebih dekat denganmu daripada dirinya." Rai tertawa menceritakan Karel.


"Hatsyi!"


"Sepertinya ada orang yang sedang membicarakanku." Gumam Karel saat ini ia sedang belajar di dalam kelas, sesuai permintaan Kashel, Karel menjadi murid yang baik sekarang.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengirimkan informasinya ke mana kau harus pergi nanti." Ucap Rai ingin mengakhiri telponnya.


"Hmm, baiklah." Ujar Kashel menjawab singkat dan sambungan telpon terputus.


"Jadi apa kau akan pergi lagi Kashel?" tanya Grizelle, dan Kashel mengangguk.


"Ah, maafkan aku Grizelle. Harus meninggalkanmu lagi." Ucapnya.


"Tidak apa-apa kok. Aku akan menjaga mereka dengan baik di sini." Grizelle tersenyum senang, meskipun khawatir tapi itu adalah bayaran yang harus Grizelle terima ketika ia memilih untuk berada di sisi Kashel selamanya.


"Jadi, kali ini kita akan pergi menyelam." Kashel terdengar cukup malas ketika mengetahui tempat mereka mencari batu sihir kali ini adalah dasar samudra.


Kutebak pasti kali ini adalah batu sihir air. Aku akan membawa Anna dan Luan kali ini. Kemampuan mereka seharusnya bisa membuat kita tidak kehabisan oksigen saat berada di dasar laut.


Kashel berpikir meskipun sihir mengumpulkan oksigen secara alami untuk penggunanya, tapi Kashel yakin jika itu di dasar laut mereka harus sedia payung sebelum hujan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Luan dan Anna tidak menolak permintaan Kashel. Freda dan Kyler kali ini meminta izin agar tidak ditunjuk sama sekali menemani Kashel ke reruntuhan, kejadian waktu itu masih membuat mereka trauma.


"Kashel kau memang hebat, kau bahkan tidak ada rasa trauma sama sekali." Ujar Freda melambai-lambaikan tangannya tidak ingin ikut sama sekali.


Mungkin aku sudah kehilangan rasa takutku, karena Guardian. Pikir Kashel, menatap Lyam. Ia memang bisa panik, tapi tidak dengan trauma.


"Aku berangkat dulu, jaga dirimu baik-baik Grizelle." Kashel masuk ke dalam mobil.


"Oke!" Grizelle berkata semangat sambil melambaikan tangannya. Kemudian masuk kembali ke dalam kantor yang sekarang menjadi tempat tinggalnya itu, di dalam sana jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi Kashel akan merasakannya dan akan segera bergegas pulang. Mantra yang menopang penghalang di kantor kali ini adalah perpaduan antara milik Lyam dan Kashel, tidak seperti sebelumnya mantra penghalang yang menjaga kantor itu hanya milik Lyam seorang.


Lyam fokus menyetir mobil menuju arah pantai. Ketika  sampai di sana mereka berempat di sambut oleh beberapa orang berjas yang sudah menyediakan kapal yang cukup besar untuk kepergian mereka.


"Wah, berapa dana yang disiapkan oleh Kantor Pusat hanya untuk mencari batu sihir ini?" tanya Luan takjub.


Kashel hanya diam saja, sepertinya dia akan merasa bersalah jika gagal dalam mendapatkan batu sihir itu.


"Halo namaku Dirga. Aku adalah orang yang akan memandu kalian ke Samudra Khayalan." Ujarnya dengan wajah datar. Kashel langsung mengambil telponnya dan menelpon Rai minta penjelasan.


Tidak beberapa lama Kashel datang lagi dan mengatakan, bahwa Dirga memang kiriman dari pusat tidak seperti sebelumnya. Lyam langsung memberikan surat resmi yang dikirim dari pusat untuknya. Tadi Lyam hanya memandanginya tidak mengatakan apapun.


"Jadi sekarang kita berangkat, aku Kashel pemimpin di sini, dia Lyam, Anna, dan Luan." Kashel memperkenalkan timnya.


"Kau lemah, merepotkan kau akan menjadi orang yang mati pertama." Ujarnya membuat Kashel sedikit tertohok.


"Iya terserah kau saja, kita harus segera berangkat." Ujar Kashel berbalik tidak ingin peduli. Anna dan Luan terlihat terbengong karena Kashel dikatai seperti itu. Mungkin akibat energi sihir Kashel yang tidak terasa tapi bukan berarti Kashel lemah.


Diketahui Dirga adalah satu-satunya pemuda yang selamat dari ekspedisi sebelumnya dan dia adalah orang yang akan menunjukkan arah ke lokasi batu sihir karena sudah mengetahui tempatnya.


"Sudah pastikan batu elemen sihir yang kita akan cari ini adalah batu elemen air, entah apa lagi yang akan terjadi padaku." Kashel frustasi sendiri saat mereka di dalam kapal laut itu. Mereka hanya berlima di dalam kapal laut yang akan berlayar ketengah samudra itu, entah ujian apa yang akan mereka dapatkan di tengah perjalanannya nanti.


Dirga berada di luar tidak ingin berbaur dengan Kashel dan teman-temannya. Dari semuanya Dirga hanya terlihat menghargai Lyam dan berbicara baik dengannya.


"Ini pertama kalinya aku pergi ke tengah laut dan aku tidak tahu caranya berenang. Seperti uji coba bunuh diri, aku bahkan tidak tahu caranya menyelam." Kashel menggerutu, karena tugasnya, ia tidak bisa menolaknya karena sudah berjanji. Kashel sebenarnya ingin membenarkan kata-kata Dirga yang mengatakan dia akan menjadi orang pertama yang akan mati nanti.


Lyam yang mengendalikan kapal menyimak pembicaraan mereka bertiga.


"Kashel menjadi orang yang bodoh ketika ia panik, ia bahkan pernah melompat ke air dalam karena dikejar oleh kelelawar di dalam gua. Tanpa memikirnya dirinya bisa berenang atau tidak." Lyam langsung ikut campur dalam pembahasan mereka.


"Hah?" Kashel langsung berdiri dan mendatangi Lyam.


"Jadi waktu itu aku tidak bermimpi?" Kashel langsung bertanya.


"Kau masih menganggap itu mimpi?"


"Cih! Aku tertipu." Kashel langsung duduk lagi di kursinya.


"Ada apa Kashel?" Anna bingung dengan pembahasan Kashel dan Lyam.


"Hanya pembahasan di masa lalu, sebelum aku terikat dengannya." Kashel berbicara memalingkan wajahnya kesal. Saat itu sedari awal Kashel merasakan kehadiran Lyam, tapi dengan bodohnya ia malah tidak ingin mengambil pusing hal itu. Padahal ia sudah benar-benar ditandai oleh Lyam sejak lama.


"Aku pikir kalian sudah terikat sejak awal." Anna berucap.


"Kashel itu dulu hanyalah anak biasa." Luan menimpali karena ia pernah bertemu Kashel ketika ia masih kecil dulu.