
"Jangan bergerak dari sana." Ucap Guardian dan mulai dengan cepat melesat menyerang Argai, Kashel tidak perduli lagi dengan Portal Perbatasan yang ada di atasnya entah itu menyerap energi sihirnya atau tidak, kali ini ia berusaha agar portal itu tidak menyerap energi sihirnya dan membuatnya tidak sadarkan diri, sekarang tidak ada cara lain untuknya selain menjadi kuat untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi. Dan dengan bersusah payah akhirnya Kashel bisa mengendalikannya, insting untuk bertahan dari pengaruh Portal Perbatasan.
Freda, Chain, Erphan, Anna, Kyler, Rigel, dan Luan sibuk menghalau puluhan Roh Kegelapan yang sedang menyerbu mereka. Rigel yang sudah berjanji menjaga Grizelle dengan nyawanya, melakukan tugasnya dengan baik. Bahkan pria itu tidak membiarkan ada serangan terhadap penghalang Grizelle.
Lyam dan Kashel bertarung di udara melawan Argai. Tapi saat Argai lengah, Lyam dengan cepat berpindah menghancurkan inti Portal Perbatasan yang muncul di kantor mereka, meskipun waktu itu pagi hari. Bukan waktu seharusnya Portal Perbatasan muncul.
PRAK!
Lyam menebas inti hitam itu dengan cepat saat Kashel sibuk menghajar Argai. Kashel yang serius saat menggunakan sihirnya benar-benar tidak bisa diremehkan terlebih dia tadi memaksa dirinya untuk melawan dan bertahan dengan pengaruh Portal Perbatasan. Kashel bertarung tanpa memikirkan perasaannya saat ini. Tidak seperti biasanya.
Walaupun, kekuatan pengaruh kegelapan Argai juga cukup kuat, tetapi Kashel bisa menghalaunya agar tidak mempengaruhi Lyam.
Dimensi yang mengurung mereka hancur saat Portal Perbatasan itu dihancurkan oleh Lyam, karena siang hari Roh Kegelapan yang menyerang langsung hancur menjadi debu ketika terkena sinar matahari pagi itu. Kantor yang semulanya hancur kembali menjadi seperti biasa, seolah-olah tidak pernah ada kejadian apapun barusan. Namun, di luar Lyam dan Kashel terus bertarung dengan Argai.
Pria itu mulai melemah karena hancurnya Portal Perbatasan, Kashel dan Lyam cukup kewalahan menghadapi Argai karena kemampuan mereka tidak sepenuhnya bangkit dan yang kekuatan yang mereka gunakan saat ini hanyalah sebagian kecilnya saja.
Grizelle bukannya tidak ingin melihat pertempuran itu, ia hanya tidak ingin Kashel khawatir padanya dan menjadi marah karena dirinya yang terluka. Meskipun penasaran ia tidak bisa melihat pertarungan Kashel dan Argai lagi sejak tempat itu kembali seperti semula.
Semua teman-teman Kashel berlari keluar saat Roh Kegelapan yang menyerang itu hancur menjadi debu karena sinar matahari. Kecuali, Rigel dia benar-benar menjaga Grizelle sesuai perkataannya pada Kashel.
"Maafkan aku jadi beban untukmu." Ungkap Grizelle sambil duduk di lantai ruangan itu tanpa bergerak dari sana sedikit pun sesuai apa yang Lyam katakan.
"Jangan dipikirkan, sudah tugasku sebagai kaki tangan Kashel untuk menjaga keselamatan dirimu, karena menjagamu sama saja aku seperti menjaga Kashel juga." Rigel merasa bangga akan dirinya karena bisa berguna untuk Kashel.
Di luar Kashel terus bertarung, teman-teman Kashel tidak bisa membantu apapun karena pertarungan mereka terlihat sangar cepat, dan jika mereka ikut campur itu akan mengganggu saja. Argai bisa mengimbangi Lyam dan Kashel memberikan mereka asap kegelapan yang kuat hingga terdiam untuk beberapa saat.
Di saat lengah Argai ingin menyerang tempat Grizelle berada semua teman-teman Kashel langsung melindungi tempat itu.
Namun sebelum serangan itu datang di depan Argai langsung muncul sebuah portal yang membuat serangan itu terserap dan portal itu muncul di belakangnya. Sehingga serangan sihir hitamnya kembali menyerang dirinya sendiri.
"Argh!" rintihan Argai terdengar nyaring. Kashel membuat portal itu barusan.
Ini untuk pertama kalinya ia membuat portal dengan cukup jauh dari tempatnya berpijak, awalnya ia pikir itu tidak akan bisa dilakukan tapi ternyata bisa tapi efeknya energi sihir Kashel benar-benar terkuras dengan banyak. Belum lagi yang melalui portal itu adalah energi sihir murni, membuat tubuh Kashel bergetar karenanya. Setelah terkena serangannya sendiri Lyam langsung muncul dari portal lain yang dibuatnya, langsung menebas Argai dengan kejam.
Argai tidak bisa berbuat apa-apa, Lyam tidak menggunakan perasaannya sama sekali saat melakukan hal itu. Kashel turun dari udara dan langsung mendatangi Grizelle ia tidak perduli, apa yang akan dilakukan Lyam pada Argai bahkan membunuhnya sekalipun. Manusia itu sudah tidak bisa ditolong lagi karena telah bersatu dengan kegelapan sebanyak itu. Bahkan kegelapan itu mempengaruhi Lyam. Tapi karena musuhnya sudah terluka berat, Kashel merasa tidak perlu khawatir pada Lyam yang terpengaruh kegelapan lagi.
"Grizelle!" teriak Kashel langsung memasuki ruang kantornya. Di situ ia melihat Grizelle yang duduk di lantai dan Rigel yang berdiri di dekatnya.
"Hei Kashel, kau tidak perlu seperti ini. Aku baik-baik saja bahkan bajuku tidak kotor sama sekali." Grizelle berusaha menjelaskan.
"Perasaanmu baik-baik sajakan?" tanya Kashel memegang dahi Grizelle, membuat Grizelle tersipu malu.
"Aku benar-benar baik-baik saja Kashel." Grizelle mulai kesal karena tingkah Kashel, Rigel terkekeh karena Kashel yang seperti itu.
"Tapi Luan harus tetap mengecek keadaanmu, kau sempat terkena serangan energi gelap biar bagaimanapun."
"Kashel dengarkan aku, liat itu Rigel. Bajunya compang-camping dan ada luka, dia lebih penting diprioritaskan dibandingkan aku, pahamkan suamiku tercinta." Grizelle menekan kata-katanya di akhir kalimatnya.
"Tapi kau harus tetap diperiksa ya?" pinta Kashel dengan wajah memelas.
"Oke-oke, aku akan diperiksa setelah yang lainnya diperiksa terlebih dulu oke." Grizelle akhirnya mengalah Kashel tersenyum senang.
.
.
Di luar Lyam sudah melumpuhkan total Argai. Ia terjatuh dari udara dan sekarang berada di hadapan teman-teman Kashel yang lain dan paling tepat jatuh di depan kaki Freda. Ia menatap Freda sebelum hancur menjadi debu, Lyam berjalan ke arah mereka semua. Memastikan ia benar-benar memusnahkan orang itu kali ini.
"Nona..." Rintihnya kemudian hancur menjadi asap hitam yang lenyap karena terkena sinar matahari. Freda memegang kepalanya merasa kesakitan lagi setelah mendengar kata-kata itu.
"Hei Freda apa yang terjadi?" Anna menangkapnya merasa khawatir, tapi dengan obat yang Luan berikan Freda kemudian mulai tampak baik-baik saja kembali. Luan dengan sigap memberikan Freda obat buatannya.
"Kenapa... Orang itu memanggilku Nona, apakah sebenarnya aku memiliki hubungan dengan kegelapan?" Kashel hanya bisa memperhatikannya sedari tadi ia sudah mendengarkan percakapan itu.
Freda tampak frustasi, ia takut dengan masa lalu yang tidak ia ingat itu akan menjadi salah satu hal yang akan merubahnya di masa depan, siapa dia sebenarnya Freda takut untuk mengetahuinya, tapi cepat atau lambat mantra penghapus ingatan itu akan menghilang ketika waktunya sudah tiba. Karena mantra itu tidak akan pernah bertahan selamanya dan bayarannya bisa merusak pikiran seseorang jika mantra itu digunakan terlalu lama.
.
.
.