The Borders

The Borders
Bagian 6 – Menjalankan Misi



Urusan Kashel di Kantor Pusat telah selesai, sekarang ia sudah berada di kantornya lagi. Kashel memiliki kemampuan yang berbeda dari orang lain. Setiap malam jika ada portal perbatasan muncul ia akan merasakan kehadirannya.


Dan biasanya Kashel langsung mengirimkan apa yang dia ketahui ke Kantor Pusat dan Kantor Pusat akan mengirimkan orang-orangnya untuk mengatasi kekacauan itu. Begitu juga Kashel ia juga akan mengirimkan orang-orangnya untuk membantu.


Tidak banyak yang tahu tentang seorang informan yang memberitahu titik-titik lokasi Portal Perbatasan secara akurat dan cepat bahkan hanya setelah beberapa saat portal itu muncul. Hanya para petinggi dari Kantor Pusat yang mengetahui bahwa orang itu adalah Kashel. Identitas sejati Kashel disembunyikan rapat-rapat.


Sebagai bentuk permintaan Kashel sendiri sekaligus menjadi kebijakan yang dilakukan orang-orang pusat yang menginginkan Guardian dicap tidak baik dan dianggap penghalang. Padahal kenyataannya mereka tetap bisa berjaya karena dengan bantuan kemampuan Guardian juga, tapi Kashel tidak perduli ia lebih senang jika identitasnya tidak diketahui orang lain.


Ia ingin membantu di belakang layar saja, meskipun karena itu keberadaannya dan Guardian menjadi dianggap sebuah ancaman besar oleh orang-orang yang tidak tahu apa yang Guardian kerjakan sebenarnya.


Biasanya portal perbatasan muncul di saat bulan malam bersinar terang. Portal itu akan bangkit secara bersamaan tidak lebih dan kurang dari waktu itu, meskipun munculnya di wilayah yang berbeda-beda, sehingga ketika portal itu muncul semua Divisi Penjaga Batas bisa mengerahkan orang-orangnya secara langsung.


Kashel akan melihat dengan pikirannya wilayah-wilayah tempat munculnya portal itu, hal itu juga di luar kendalinya. Ia tidak bisa mengendalikan penglihatan yang masuk di dalam kepalanya, untuk Lyam tentu saja ia juga merasakan hal itu tapi dia adalah orang yang tidak perduli karena sudah terbiasa merasakannya dan baginya juga itu hal yang biasa saja.


Kemudian dengan alat kecerdasan yang dibuat Luan. Sebuah peta elektronik yang ia kembangkan bisa di unakan hanya dengan memasukan kata kunci berupa tulisan gambaran tempat yang dilihat Kashel. Maka alat itu akan memperlihatkan lokasi nyata terkait daerah-daerah yang sebelumnya tidak diketahui oleh Kashel sesuai dengan kata kunci yang ditulis oleh Kashel pada peta itu.


Semua daerah-daerah di negara ini sudah terekam dalam satelit buatan keluarga Kendrick sehingga bisa dicari dengan peta buatan Luan. Dengan sistem penanda, informasi itu akan langsung di kirimkan ke Kantor Pusat.


.


.


.


"Ketua, apa kau mau minum teh?" tanya Kyler membawakan sebuah teko berisi teh dan menuangkannya ke gelas. Sikapnya berubah setelah mengetahui siapa Kashel sebenarnya.


Bukannya takut Kyler malah jadi ingin dekat dengan Kashel, Kyler ingin mempelajari banyak hal darinya, meskipun sebenarnya Kashel tidak tahu apa yang mau ia ajarkan pada pemuda itu karena bagi Kashel, Kyler adalah orang hebat lebih daripada dirinya.


Kyler tetap bersikeras satu ruangan dengan Kashel, meskipun ketika di dalam ruangan itu kakinya gemetaran karena takut. Tapi ia tidak ingin diejek oleh temannya yang lain karena keangkuhannya sebelumnya ia tetap keras kepala melakukannya. Kashel ia tentu saja senang jika ada orang yang satu ruangan dengannya.


"Tuan Lyam apa tidak ingin minum juga?" Lyam hanya diam saja, sambil tetap memainkan laptopnya di ruang santai.


"Dia tidak minum minuman begini. Jangan perdulikan dia, dia itu orang yang menyebalkan." Gerutu Kashel menjelaskan bagaimana Lyam itu.


"Oh tidak apa-apa, kalau begitu ketua saja yang minum." Mata Kyler berbinar berharap Kashel menyukai teh buatannya.


Anak itu cari muka. Semua orang yang ada di sana berpikir demikian tentang Kyler.


"Oke baiklah." Kashel pun meminum teh itu perlahan.


"Uhuk-uhuk!" Kashel tersedak oleh teh buatan Kyler tapi ia tidak menyemburkannya, meskipun rasanya sangat tidak enak.


"Kau, apa yang kau taruh di teh ini. Ini asin." Protes Kashel tapi tidak marah.


Semua orang ingin tertawa karena kesalahan Kyler itu namun ditahannya, dan Lyam menatapinya tajam. Kyler hanya bisa tertunduk malu.


"Kau tidak sedang mengerjai akukan?" Kyler menggeleng, ia bersyukur Lyam tidak meminum teh buatannya. Jika Lyam meminumnya mungkin sikapnya akan berbanding terbalik dengan sikap Kashel yang sabar saja.


"Aku tidak bermaksud mengerjai ketua, aku tidak tahu jika gula yang digunakan untuk membuat teh ini adalah garam." Jelas Kyler.


"Apa kau tidak merasainya dulu sebelumnya?" tanya Kashel lagi.


"Tidak, bagiku tidak sopan mencoba duluan sesuatu yang ingin dihidangkan pada orang terhormat." Jelas Kyler malu.


"Maafkan aku ketua!" Kyler membungkuk memohon maaf.


"Sudahlah tidak apa-apa, sebenarnya salah besar sih kalo kau tidak mencoba sesuatu terlebih dahulu sebelum menghidangkannya pada orang lain."


"…."


"Apalagi kau tidak begitu ahli dalam membuatnya, meskipun kau menghormatinya. Jangan memaksakan dirimu jika tidak bisa kerja di dapur." Saran Kashel dan Kyler mengangguk.


Ia jadi teringat Lyam yang memaksakan dirinya untuk memasak di dapur. Lyam hampir membuat kantor kebakaran karena tidak tahu cara menyalakan kompor dan ia menggunakan kekuatannya untuk membuat api.


Dari saat itu, Kashel melarangnya bekerja di dapur terserah dia mau mengambil pekerjaan Kashel yang mana asal jangan dapur.


Tapi seandainya jika teh itu juga menggunakan gula, Kyler tetap akan membuat minuman yang sangat amat manis karena terlalu banyak menggunakan gula pada tehnya. Kashel menatapi teko teh buatan Kyler.


.


.


.


"Permisi!" seorang pria paru baya memasuki pintu kantor dan semuanya pun menyambutnya dengan baik menyuruhnya duduk dan mulai mendengarkan keluhannya.


Menanyakan apa kepentingannya datang ke kantor pelayanan mereka. Kantor pelayanan yang terlihat seperti rumah menyendiri ini sangat jarang di datangi oleh orang yang tidak berkepentingan khusus, kecuali kasus misteri di luar logika.


Dari luar tempat ini terlihat hanyalah rumah biasa di tempat yang cukup jauh dari pemukiman namun terlihat bukan seperti sebuah kantor. Berbeda dengan isi di dalamnya yang terlihat jelas ruang kerjanya.


"Kantor Detektif Polisi, memerintahkan saya pergi ke tempat ini. Untuk menangani kasus yang sudah memakan korban jiwa, di desa terpencil di pinggiran kota ini. Karena katanya ini bukanlah kasus yang bisa mereka tangani sendiri, karena di luar kemampuan mereka." Jelas orang itu, pantas saja ia dapat mengetahui tempat ini. Karena kantor ini juga memiliki hubungan khusus dengan Kantor Polisi.


"Nama saya Darwin dari Desa Jaring." Pak Darwin memperkenalkan dirinya.


.


.


.


Sore itu Grizelle datang berkunjung ke kantor Kashel. Ia membawakan Kashel cemilan, wanita itu baru pulang dari kerjanya makanya ia menyempatkan dirinya singgah sebentar. Kashel sebenarnya yang memanggilnya lewat pesan ponsel.


Beruntungnya gadis itu pengertian dengan Kashel yang bilang rindu padanya tapi ia tidak bisa sembarangan keluar dari wilayah kantor untuk menemui kekasihnya saat ini, sehingga cuma Grizelle lah yang bisa pergi menemuinya, kebetulan pula tempat kerja Grizelle melewati di daerah itu.


Setelah bertemu, mereka berdua berbincang-bincang sebentar. Kashel menceritakan semua tentang kejadian semalam, dan Grizelle khawatir ketika melihat luka Kashel yang tampaknya sudah mengering. Memperingatkan Kashel untuk berhati-hati jika bekerja.


Ia tidak ingin Kashel terluka sebenarnya, tapi tuntutan pekerjaannya Grizelle harus bisa menjadi wanita yang tegar untuk Kashel, meskipun sangat khawatir.


"Oh Lyam, rupanya sudah kembali." Grizelle berucap namun Lyam tidak menjawab hanya menatapnya saja sambil mengangguk. Dan Grizelle hanya tertawa hambar menanggapinya karena memang tahu sifat Lyam seperti itu, Kyler tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya di komputernya sehingga tidak memperdulikan orang lain saat itu, meskipun ia tahu ada Grizelle di sana.


"Tidak usah perdulikan dia," Kashel kesal pada Lyam karena kekasihnya diperlakukan seperti itu oleh Lyam. Sebenarnya dalam hatinya Lyam bertanya, apa yang salah dengan sikapnya lagi pula dia memperhatikan Grizelle seperti yang Kashel minta padanya. Dia tadi menoleh dan mengangguk, tidak seperti sikapnya pada orang lain.


"Hai Grizelle, lama tidak jumpa. Aku kangen masakanmu." Grizelle menanggapi Luan dengan lambaian tangannya saat mereka berdua pergi keluar ruangan. Ternyata di sana sudah ada Luan, sebelumnya tadi ia lewat tidak ada siapa-siapa di sana.


Kashel yang di sampingnya menatap horor Luan sehingga Luan mengeluarkan keringat dingin, mengingat Kashel pernah bilang jika dia ada di tempat dan ada makanan yang dibuat Grizelle makanan itu hanya untuknya jika itu porsi kecil untuk satu orang.


Anggota lainnya kemudian keluar ruangan kerja setelah tau siapa yang datang. Mengajak Grizelle berbincang-bincang setelah beberapa lama tidak bertemu karena kesibukan mereka. Satu orang yang tidak ikut campur dari kedatangan Grizelle hanyalah Freda wanita itu ia terlihat sibuk, ia memang tidak begitu akrab dengan Grizelle. Hanya sesekali saja.


Setelah puas kunjungannya Grizelle pun pamit untuk pulang. Hari itu sudah cukup sore, Kashel memerintahkan Lyam untuk mengantarnya dan tentu saja Lyam tidak menolak perintah Kashel. Satu lagi hal yang bisa membuat Kashel memerintah Lyam yaitu demi keamanan Grizelle.


.


.


.


Tidak terasa hari sudah malam, malam itu cukup tenang, sampai bulan di langit terang pun tidak ada tanda-tanda kemunculan Portal Perbatasan baru. Karena malam itu aman, Kashel dan Rigel yang memutuskan akan menjalankan misi mereka, tentang kasus ganjil kejadian bunuh diri.


Sedangkan teman-temannya yang lain menjalankan misi yang diberikan oleh Kantor Pusat. Kantor malam itu sepenuhnya kosong, karena kesibukkan semua pegawainya.


Sudah cukup lama Kashel merasa tidak menjalankan misi seperti ini, ia cuma berharap misi yang di jalaninnya bisa berjalan dengan lancar. Ia menyiapkan barang-barang yang di perlukan sebelum berangkat.


Tentu saja Lyam selalu mengikutinya kemana pun Kashel pergi. Meskipun kasus ini untuk Kashel dan Rigel. Lyam tidak bisa membiarkan Kashel berkeliaran sendirian. Untuk Lyam, ia sebenarnya tidak bekerja untuk Kantor Pusat. Ia hanya bekerja untuk Kashel, sebelumnya ia pergi selama beberapa waktu karena itu adalah urusannya sendiri.


Urusannya sebagai Guardian, menghentikan kekacauan yang disebabkan roh kegelapan yang jika dibiarkan akan menguat di dunia manusia dan itu akan mengganggu keseimbangan dua dunia.


Tempat yang Lyam datangi juga tidak diketahui di mana. Seperti sebuah lembah yang jauh dari tempat tinggal manusia di dalam lembah itu kekuatan gelap berkembang, dan dia ke sana untuk memusnahkannya Kashel seharusnya ikut, tapi Kashel tidak mau karena kantor akan kehilangan pemimpin. Sehingga akhirnya Lyam pergi sendiri dan Kashel dilarang keluar dari wilayah kantor.


.


.


.


Mereka bertiga berangkat dengan menggunakan mobil yang disediakan kantor. Perjalanan ke sana cukup jauh karena harus menempuh jarak sekitar 2 jam perjalanan.


Di sini Lyam sendiri yang menyetir mobil yang mereka tumpangi. Jalan masuk menuju desa itu dipenuhi oleh hutan kiri dan kanan. Beruntungnya jalanan menuju desa bisa dilalui dengan mengendarai mobil, meskipun jalannya hanyalah tanah yang tidak di aspal.


"Kashel sebaiknya kau jangan sampai tertidur, kabut ini mengandung aura kegelapan dan harus fokus agar tidak terkontaminasi." Lyam menegur Kashel yang sepertinya mulai mengantuk dan Kashel tersentak kaget setelah mendengar penjelasan Lyam. Rigel pun sama juga dengan Kashel, yang tadinya mengantuk langsung buru-buru menghilangkan rasa kantuknya.


"Tapi, rasa kesunyian ini membuatku mengantuk." Gumam Kashel sambil menguap ia tidak bisa menahan kantuknya.


Bahkan Rigel pun juga, biar bagaimana pun mereka berdua sejatinya hanyalah manusia. Rigel ia sibuk di ganggu oleh Brandon yang mengecilkan wujudnya, roh pelindung itu menjaga Rigel agar tetap dalam keadaan sadarnya. Tapi pada akhirnya tetap saja sepertinya meski sebentar Rigel sempat jatuh tertidur.


Lyam yang menyetir di jalan yang penuh kegelapan itu seperti menyadari ada sesuatu yang mengawasi mereka dari atas batu di tengah hutan. Dan ia melirik tajam ke arah batu itu. Terlihat ada sekelebat bayangan hitam yang sepertinya telah singgah beberapa saat yang lalu di atas sana. Namun Lyam belum bisa mengetahui makhluk apa itu sebenarnya.


"Setelah diperhatikan tempat ini ternyata seram juga." Rigel membuka suara, ia memperhatikan arah luar yang dipenuhi kegelapan hutan, dan kabut.


"Kenapa berangkatnya tidak siang tadi saja sih," gerutu Rigel ia cukup khawatir.


"Jangan banyak protes, kau seharusnya sudah biasa dengan hal-hal seperti ini. Karena kau pemburu roh." Lyam akhirnya membuka suara, menjawab perkataan Rigel barusan.


"Kau benar seharusnya aku tidak takut," tapi kemudian Rigel mengingat sesuatu hal, tempat yang gelap dan lembab.


Rigel tiba-tiba mengalami rasa panik ketika memikirkan hal itu dan melihat tempatnya dalam kepalanya. Seperti sebelumnya ia pernah berada di tempat seperti itu. Tapi kapan ia tidak ingat, karena Rigel tidak memiliki ingatan dari masa lalunya.


"Kau tidak apa-apa?" Lyam bertanya dan Rigel menggeleng.


"Sebaiknya kau tidak menyusahkan aku dan Kashel." Dingin Lyam berkata. Di sini Kashel hanya diam saja, tanpa sepengetahuan orang-orang tampaknya pria itu tertidur. Lyam lengah terhadap menjaga kesadaran Kashel.


.


.


.