The Borders

The Borders
Bagian 108 – Guardian Melawan Kashel



Kashel merasakan energi gelap yang tidak biasa, pupil mata Argai yang semulanya biru berubah menjadi merah dan bagian putih matanya menghitam.


Mengerikan, itu adalah energi gelap yang kuat. Bagaimana dia bisa bergabung dengan kegelapan seperti itu. Kashel membatin sambil menatapi Argai yang sekarang melayang di udara dengan asap hitamnya. Entah apa yang ia bayarkan dari dirinya pada kegelapan.


"Guardian, bagaimana rasanya merasakan tekanan dari energi gelap. Bukankah rasanya nikmat?" Lyam terdiam, tekanan sihir hitam itu berbeda dari biasanya. Itu mempengaruhi pedang kegelapan yang ada di dalam tubuh Lyam.


Tidak peduli dengan Lyam, karena Kashel tidak terpengaruh oleh adanya pedang kegelapan. Pedang kegelapan tidak ada di dalam diri Kashel, jadi Kashel tidak tahu apa yang Lyam rasakan. Walaupun ada, itu hanya sedikit terpengaruh oleh kegelapan.


Ia berlari ke arah batu sihir itu, Kashel ingin menggapainya namun ada serangan dari belakang mengarah ke Kashel, Kashel yang sudah jengkel langsung membalasnya dengan tameng api yang benar-benar besar sehingga serangan itu menjadi tidak berarti apa-apa.


Kashel langsung menyentuh batu sihir itu entah mengapa karena punya elemen sama Kashel tidak khawatir jika ia akan terluka, dan seketika seluruh tubuhnya benar-benar terbakar. Dan benar saja batu sihir itu tidak mempengaruhi Kashel atau membuat Kashel terluka tapi makin memperkuat sihir api miliknya.


Mengerikan aku merasa seluruh tubuhku terbakar, bahkan kemampuan elemen yang lain tenggelam karena kemampuan ini. Batin Kashel tidak percaya batu sihir itu benar-benar berpengaruh seperti itu.


Kashel menyadari, bahwa yang menyerangnya tadi adalah Lyam yang memegang pedang kegelapan di tangannya.


Kashel mengeluarkan pedang cahayanya setelah itu. Namun bukan Lyam yang ia akan serang tapi dengan pedang itu ia memilih menghancurkan batu elemen itu. Membuat semua orang terkejut.


"Aku tidak perduli lagi dengan tugas ini, aku tidak akan membiarkan batu berbahaya seperti ini ada." Kashel puas setelah membuat semua orang terkejut api karena memilih menghancurkannya, api yang membakar Kashel memudar dari tubuhnya. Tetapi, efek api itu membuat tubuh Kashel memerah seperti terkena sengatan panas matahari berlebihan.


Kyler dan Freda yang sedari tadi berdiri jauh dari Kashel mendekat setelah api itu padam. Tempat itu perlahan menggelap dan mulai runtuh.


Kashel dengan cepat membawa ketiga temannya keluar melalui portal, semenjak batu sihir itu hancur segel yang mengurung mereka ikut lenyap juga. Sehingga mereka semua bisa keluar.


Guardian masih terlihat di bawah kendali pedang kegelapan.


"Sampai kapan kau akan kehilang kesadaranmu Lyam!" Kashel berteriak kesal pada Lyam yang menatapinya seperti musuh.


Kashel juga mulai merasakan kegelapan merasuki dirinya.


Akhirnya Freda dan Kyler, memilih untuk menghadapi Argai. Agar pertarungan Lyam dan Kashel tidak terganggu.


Sedangkan Kashel saat ini ia berduel pedang dengan Kashel menggunakan pedang cahaya dan pedang kegelapan.


Aku tidak percaya akan berkelahi dengan Lyam seperti ini. Kashel terus bertarung.


"Oi, sadarlah. Kashel bisa mengimbangi Lyam dan membuat pedang kegelapan terlepas dari tangan Lyam begitu juga dengan pedang cahaya." Kashel langsung memukul wajah Lyam. Saat ini sihir mereka tidak terhubung sehingga Kashel tidak merasakan sakit saat dirinya memukul Lyam.


Tidak berhasil, akhirnya Kashel menampar dirinya sendiri, Lyam langsung tersadar sambil memegang pipinya, karena jika Kashel terluka terhubung atau tidaknya sihir mereka, Lyam tetap akan merasakan sakit yang sama seperti milik Kashel. Kashel yang tubuhnya sudah memerah karena elemen apinya, sekarang benar-benar melukai wajahnya.


"Akhirnya kau sadar juga, sialan!" Kashel langsung mengumpat setelah tahu Lyam sudah sadar.


Guardian langsung menyerang musuhnya kembali. Membuat Argai tampak terkejut dibuatnya.


"Wadah jiwaku adalah pribadi yang kuat, tidak semudah itu kau bisa memerintahkan diriku untuk berpihak padamu." Guardian mengambil alih pertarungan Kyler dan Freda yang sudah kewalahan.


Lyam benar-benar menghajar Argai tanpa ampun. Kashel tidak ingin ikut campur dalam pertarungan itu. Kashel merasa sekujur tubuhnya perih. Belum lagi tekanan kegelapan yang habis diterimanya.


"Aku merasa lelah secara mental dan fisik." Gumamnya mendudukkan diri.


Hawa gelap, terlihat menyelimuti Guardian yang kembali ke wujud manusianya Lyam. Saat berjalan ke arah Kashel hawa gelap itu perlahan memudar dan menghilang, Kashel hanya menatapi Lyam santai.


"Dia berhasil kabur." Raut wajah Lyam kesal.


Ia kemudian mengambil kotak obat dan mulai menempelkan plester besar pada pipi Kashel yang memar


"Adu-duh! Kau kasar sekali!" Kashel mengomel karena tiba-tiba Lyam bersikap seperti itu, meskipun tidak terlihat terluka tapi Lyam sebenarnya mengalami hal yang sama seperti Kashel.


Untuk saat ini kemampuan regenerasi mereka dan kemampuan penyembuhan Lyam terganggu sehingga membuat Lyam mengobati Kashel secara manusiawi.


"Kau pintar juga." Lyam dengan telaten memperban sekujur tubuh Kashel yang memerah.


"Aku juga tetap memperhatikan manusia Kashel." Ujar Lyam, selama ratusan tahun ia sering melihat orang yang terluka jadi tidak masalah jika itu hanya sekedar memperban luka saja.


"Tapi kau tidak tahu caranya masak." Kashel protes.


"Aku tidak butuh makan, makanya tidak tahu memasak karena itu tidak penting." Lyam teringat lagi, di masa lalu ia pernah mencari kayu bakar dengan seseorang. Ia menyentuh kepalanya lagi.


"Ada apa Lyam, apa kau masih di pengaruhi energi gelap?" tanya Kashel, tapi ia tidak merasakan apa-apa juga.


"Bukan apa-apa." Tubuh Kashel sudah diperban sepenuhnya oleh Lyam.


"Aku merasa jadi mumi." Gumam Kashel merasa jika Lyam berlebihan pada luka-lukanya.


"Itu lebih baik agar lukamu bisa cepat sembuh, daripada dibiarkan terbuka." Meskipun protes Kashel tidak masalah dengan hal itu.


Kali ini Kashel yang membuka portal tempat mobil mereka parkir sebelumnya karena Lyam tidak tahu mobil itu ditaruh di mana.


Freda dan Kyler tidak protes lagi, karena mereka berdua sudah melihat kemampuan Kashel yang sudah membawa mereka semua keluar reruntuhan dengan selamat dan tanpa cacat apapun. Hanya Kashel saja sebenarnya yang memang malas menggunakan kemampuannya dengan baik.


Kashel pulang dengan wajah yang dibungkus oleh perban kali ini, di pipinya pun ada plester besar yang menempel. Ia keluar dari mobil sambil memakan roti tawar yang ia taruh di mulutnya.


"Apa yang terjadi padamu Kashel sampai wajah dan tubuhmu dibungkus perban seperti itu?" Luan bertanya pada Kashel yang sedang menenteng tasnya.


"Aku tidak apa-apa Lyam saja yang berlebihan." Kashel melewati Luan masuk ke dalam kantornya. Ia juga tidak tampak kesakitan sama sekali. Ia langsung pergi ke ruang kerjanya, sedangkan Lyam tidak tahu ia pergi ke mana. Setelah mengantar ketiga manusia itu pulang dengan selamat, ia pergi menghilang lagi sesaat.


.


.


.


"Misi kali ini gagal," Kashel berucap sambil mendudukkan dirinya di meja bersantai sambil menelpon Rai.


Dari seberang telpon Rai berteriak protes.


"Kau pikir mudah menyelamatkan benda sihir itu, di saat tubuhku jadi terbakar semuanya karena pengaruh batu elemen api mengerikan itu. Ditambah ada penyusup dari Kantor Pusat, yang membawa surat resmi kepadaku dan berpura-pura dikirim dari sana untuk membantu misiku." Kashel menjelaskan panjang.