
Regu Kashel telah sampai dalam keadaan luka-luka dan Kashel diam saja di tempat duduknya yang lain, sembari mengumpulkan kembali staminanya yang telah terkuras.
Ia merasa tubuhnya sangat lemas saat ini, ia kelelahan karena sudah berjalan selama tiga jam lebih tanpa istirahat.
Bahkan Kashel tidak sadar bahwa regunya telah sampai dalam keadaan luka-luka karena bertarung melawan Roh Kegelapan.
.
.
.
"Apa yang terjadi pada kalian?" tanya guru pembimbing, mereka dinyatakan tidak lulus dalam ujian karena telah melewati batas waktu yang telah ditentukan.
"Kami terjebak pertarungan dengan Roh Kegelapan." Ucap salah satu teman satu regu Kashel. Ia berkata sambil meringis kesakitan pemuda itu bernama Jeya, ketiga orang lainnya tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Tapi karena kegagalan kalian, kalian dinyatakan tidak lulus dalam ujian ini." Wajah mereka semua terlihat terkejut. Tidak bisa protes apa pun.
"Dan salah satu teman kalian Kashel, dinyatakan lulus sendirian dalam ujian ini." Lanjut guru itu berucap, meskipun tidak berpengaruh banyak, tapi tidak lulusnya mereka dalam ujian ini akan mempengaruhi nilai mereka dan menurunkan peringkat mereka. Karena telah gagal melacak energi sihir yang merupakan kemampuan dasar dari Kesatria Penjaga Batas walaupun ini cukup sulit.
"Apa-apaan itu, mana mungkin dia bisa lulus." Ucap seorang wanita yang satu regu dengan Kashel. Ia bernama Mia.
"Dia meninggalkan kami tadi, saat kami bertarung." Ucap salah satu laki-laki dalam regu itu pemuda itu bernama Drax. Dan lainnya mengangguk. Ada satu lagi yang saat ini tidak perduli lagi dengan ujian itu karena kelelahan ia bernama Rewa.
"Bukankah seharusnya orang yang lemah harus ditinggalkan daripada menjadi beban dalam tim." Lyam tiba-tiba datang menyindir keempat orang itu. Ia merasa kesal karena masih ada manusia calon Kesatria Penjaga Batas yang hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri.
Bukankah kehadiran mereka sebenarnya untuk membantu manusia yang dalam masalah karena Roh Kegelapan.
Namun, akhir-akhir ini Lyam menemukan perbedaan dari zaman dahulu, sekarang mereka sedang bersaing siapa yang paling kuat. Bukan siapa yang bisa menolong orang lain.
"Guru aku juga meninggalkan rekan setimku karena mereka tidak berguna, jadi apa yang dilakukan teman mereka itu seharusnya tidak salah." Lyam membela Kashel entah mengapa ia yang seorang Guardian mau membela seorang yang lemah seperti Kashel. Lyam merasa Kashel yang merupakan seorang manusia biasa adalah orang yang harus ia lindungi. Seperti orang-orang biasa lainnya. Ia juga tadi meninggalkan timnya karena ia anggap bisa menjaga diri mereka sendiri.
.
.
.
Sejujurnya semenjak Kashel dilahirkan Lyam sudah memperhatikannya. Karena keluarga utama Kendrick adalah calon pewaris The Borders Organization. Lyam selalu hadir dalam kelahiran calon pemimpin.
Saat itu orang tua Kashel sangat senang dengan kelahiran Kashel berharap banyak dengan anak itu, namun setelah Lyam menjelaskan bahwa anak itu tidak memiliki energi sihir setelah ia melihatnya.
Orang tua Kashel terlihat kecewa ketika itu, tapi kemudian Guardian memintanya tetap untuk merawatnya dengan baik sampai pengangkatan pemimpin baru di masa depan karena biar bagaimana pun Kashel juga adalah salah satu calon pemimpin, meskipun tidak punya energi sihir.
Ia tidak tahu jika anak itu akan dipaksa sampai seperti itu untuk menjadi Kesatria Penjaga Batas, bahkan dicaci maki oleh orang-orang, Kashel masih bisa bersikap baik pada orang-orang.
Bahkan jika ia mau seharusnya ia bisa membanggakan dirinya sebagai salah satu calon pewaris The Borders Organization untuk membuat orang setidaknya sedikit hormat padanya, tapi ia tidak melakukannya sama sekali.
Kashel pernah memikirkan hal itu, Kashel menganggapnya jika ia melakukan hal itu, itu adalah hal yang percuma saja. Bisa-bisa ia akan tambah ditindas oleh teman-temannya.
Bukan berarti Kashel tidak pernah marah. Kashel tetap lah manusia biasa. Ada waktu-waktu ia mengeluhkan kehidupannya, tapi setelah itu ia kembali kepada ke ketabahannya. Ia menganggap tidak ada waktu untuknya untuk berlarut dalam kesedihan.
.
.
.
Luka-luka mereka kemudian diobati oleh tim medis, tidak ada komentar dari guru pembimbing. Karena kelulusan Kashel juga di anggap murni. Ia hanya manusia biasa tidak diberitahukan tempat di mana energi sihir yang mereka cari berada dan bagaimana energi sihir itu.
Kashel yang manusia biasa bisa menemukannya, jika ia mengikuti orang lain itu juga mustahil karena jalur yang dilalui tidak semuanya bisa di lewati melalui jalan lurus sehingga orang-orang dengan roh pelindung pasti akan langsung meninggalkan Kashel yang hanya berjalan kaki. Itulah pikiran guru pembimbingnya, anak itu memiliki bakat alami ketika mata batinnya terbuka.
.
.
.
Ujian malam itu mulai bubar ketika pukul jam dua belas malam. Semua siswa dituntun untuk kembali ke asrama masing-masing.
Kashel sudah sangat kelelahan sebenarnya tapi ia tetap memaksakan diri kembali ke asrama juga, karena ia tidak bisa sendirian tinggal di gunung.
Memakan pil sihir untuk mengembalikan staminanya itu tidak akan berguna pada Kashel yang merupakan orang biasa. Jadi mau tidak mau ia kembali dalam keadaan sangat kelelahan.
Ia juga berpikir mungkin cara itu adalah cara yang bagus untuk menambah kuat staminanya, demi memperkuat mantra pelindungnya agar bertahan lebih lama.
Jalur yang mereka lalui ternyata lebih aman dan dekat. Melalui jalur itu mereka bisa sampai kembali ke akademi dalam dua jam saja. Anak-anak tidak ada yang menyadari jalur itu di awal karena mereka di suruh untuk langsung menembus Hutan Kegelapan.
.
.
.
"Ahh! Akhirnya aku sampai di kamarku." Kashel langsung membaringkan dirinya di kasurnya. Ia belum mandi saat itu, ia merasa sangat kelelahan makanya langsung pergi ke kamar. Waktu itu jam menunjukan pukul dua lewat lima belas dini hari.
Kashel tiba-tiba saja ketiduran setelahnya, mantra pelindung yang ia aktifkan dan dampak benturan dari Roh Kegelapan di mantra pelindungnya benar-benar menguras staminanya.
Sebenarnya jika Kashel saat itu dalam keadaan suasana hati yang baik, mungkin Kashel tidak akan lelah seperti sekarang. Mengingat semua orang hanyalah teman-teman palsu untuk Kashel itu benar-benar membuat hatinya sakit, dan membuat hatinya menjadi lemah dan keberadaannya disadari oleh para Roh Kegelapan.
Belum lagi rasa patah hatinya pada seorang gadis yang ia cintai. Kashel dalam keadaan hati yang benar-bener lemah sekarang.
.
.
.
Keesokan harinya ...
"Hoam! Astaga aku masih mengantuk, bagaimana bisa kita yang semalam menguras tenaga masih disuruh sekolah hari ini." Gumam Kashel berbicara sendiri menyusuri lorong kelasnya, ia masih sangat ingin tidur.
Aku harus bersikap seperti apa ya nanti, perasaanku benar-benar kacau sekarang. Kashel membatin hatinya merasa sakit, tapi ia berusaha tegar dan ingin bersikap seperti biasa saja. Memikirkan bagaimana cara ia bersikap di dalam kelas terutama bertemu dengan gadis yang sudah memutuskan hubungan dengannya.
Karena suasana hati Kashel yang tidak baik, keberadaan Kashel bisa diganggu oleh Roh Pelindung meskipun mata batinnya tidak terbuka.
Teman satu regu Kashel yang tidak lulus ternyata memiliki dendam pribadi pada Kashel.
Mereka mengetahui bahwa Kashel memiliki kelemahan sekarang dan ingin mengerjainya, tapi Kashel yang tahu dia sedang lemah mengaktifkan mantra pelindungnya sedari awal.
Ia sudah tidak bisa percaya pada teman-teman sekelasnya, dan benar saja saat berada di depan kelas ia sudah dikepung oleh teman satu regunya yang ingin membuat perhitungan dengannya karena cuma Kashel yang berhasil lulus dalam ujian melacak energi sihir di Hutan Kegelapan di antara mereka berlima.