
Kali ini sepertinya mereka telah sampai di tempat tujuan mereka, tempat mereka berpijak sekarang telah buntu. Hanya ada tebing batu yang sangat tinggi di hadapan mereka.
Ketika mata memandang, ke ujung kanan dan kirinya tidak terlihat batasnya. Dan jika memanjat itu juga cukup mustahil karena tebing batu itu lebih terlihat seperti pintu raksasa sangking mulusnya.
"Apakah tempat ini yang kita cari?" bahkan Rainer masih tidak yakin.
Kemudian Kashel yang sudah menggunakan kacamata rohnya merasa ada yang menariknya, ia berjalan kanan.
"Kashel ada apa?" Kashel hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Rainer.
Kashel sadar apa yang ia lakukan tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia merasa sangat ingin mengikuti perasaan yang menariknya itu.
Kemudian ia berhenti di depan batu yang bentuknya seperti sebuah pintu.
"Kashel kau baik-baik saja?" tanya Rainer khawatir.
"Kepalaku sedikit pusing Paman," energi yang menarik Kashel mempengaruhi dirinya.
"Apa itu energi gelap Kashel?" tanya Rainer dan Kashel menggeleng.
"Kurasa bukan Paman, energi gelap tidak sama dengan ini. Energi ini terasa menenangkan dan terang." Jelas Kashel.
"Sepertinya apa yang kita cari menuntun kita sendiri kepadanya." Rainer mendapatkan jawabannya.
Kemudian Rainer menempelkan telinganya pada dinding batu itu. Ia merasa di dalam sana adalah jalan masuk ke dalam tebing batu itu, ia merasa ada suara angin yang berhembus dan ia hanya perlu menghancurkan gerbang ini terlebih dahulu untuk bisa masuk ke dalamnya.
Kemudian ia mengeluarkan petir dari tangannya dan meninju tebing batu itu. Batu-batu itu runtuh dan tiba-tiba angin kencang keluar dari dalam gua. Rainer dan Kashel tercengang.
Gua itu dipenuhi oleh Roh Kegelapan yang amat sesak, beruntungnya saat itu hari masih siang sehingga Roh Kegelapan yang keluar itu langsung musnah saat terkena sinar matahari.
Bahkan saat gerbang itu di hancurkan pun hawa pekat kegelapan itu masih sangat kuat di dalam sana. Gua itu terlihat sangat gelap.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Paman?" tanya Kashel. Semua tergantung keputusan Rainer.
"Kita harus menyelesaikan misi itu hari ini Kashel, membuka gerbang ini. Jika kita tidak menemukan pedang cahaya secepatnya, kegelapan akan semakin banyak berkumpul di sini." Jelas Rainer dan Kashel mengangguk. Ia akan selalu mengikuti ke mana pun Rainer pergi, meskipun itu berbahaya.
.
.
.
Mereka pun memilih menyusuri isi tebing batu itu di siang hari. Saat masuk ke dalamnya Roh Kegelapan tertarik dengan kehadiran mereka berdua. Tapi Rainer dan Kashel mengaktifkan mantra pelindung mereka sehingga Roh Kegelapan itu tidak bisa mendekati mereka. Bahkan ada yang tidak menyadari keberadaan mereka.
Lagi-lagi Kashel merasa dituntun oleh sesuatu ia seperti tahu jalan menuju ke arah yang mereka cari. Rainer hanya mengikutinya saja, karena tahu Kashel adalah orang yang dipilih oleh pedang cahaya itu sendiri. Seperti dirinya yang juga terpilih sebagai wadah untuk jiwa dari The Borders.
Akhirnya dari tempat gelap itu terlihat cahaya yang samar-samar. Kashel mulai bisa mengambil alih dirinya lagi. Tapi saat itu Kashel hanya diam saja, ia bingung kenapa dirinya sering terpengaruh oleh energi-energi sihir seperti itu. Mau itu sihir gelap, terang, ataupun yang netral sekalipun. Kashel merasa terganggu karenanya.
"Kita telah sampai ke tempat tujuan kita Kashel. Selama dua minggu kita berjalan, akhirnya." Rainer terlihat senang.
"Aku tidak akan ikut ke sana Paman, pedang itu biar Paman yang mengambilnya." Pinta Kashel, ia tidak mau lagi jika harus bertindak di luar kendalinya sendiri karena pengaruh energi besar.
"Aku, aku tidak suka Paman. Ketika diriku kehilangan kontrol atas diriku sendiri." Kashel menatap tangannya, ia benci ketika dirinya dikendalikan oleh sesuatu.
"Karena itu, kuatkan hatimu Kashel. Kuatkan hatimu agar hal-hal yang kamu tidak suka tidak bisa mengendalikan dirimu." Rainer menyuruh Kashel menatapnya.
"Tapi aku tidak akan memaksamu Nak, semua keputusan ada di tanganmu di sini. Karena yang tidak bisa kau pilih itu hanya jika yang terjadi telah ditakdirkan untukmu." Rainer berjalan setelahnya ia tidak akan memaksa Kashel, Rainer ingin anak itu memiliki keinginannya sendiri dan menentukan jalan hidupnya seperti apa yang ia mau sampai akhirnya takdir memilihnya nanti.
Namun, setelah itu Kashel memilih untuk mengikuti Rainer.
"Kenapa Kashel, katanya tidak ingin ikut?" Rainer bertanya pada Kashel yang mensejajarkan langkahnya.
"Suka atau tidak suka aku sudah ada di sini Paman, berdiam di situ belum tentu akan membuatku aman. Tapi kepastian berjanji akan mengikuti Paman, aku akan selalu menepatinya." Ucap Kashel yakin, walaupun energi sihir putih itu mempengaruhi dirinya ia akan tetap berusaha menjadi dirinya sendiri.
Terlihat di depan pedang itu ada Kesatria Cahaya berompi baja, wajahnya tidak terlihat karena menggunakan helm perang persis seperti yang dilihat Kashel di dalam mimpinya beberapa hari lalu di dalam perjalanannya kemari.
Kesatria Cahaya itu kemudian mengeluarkan duplikat pedang cahaya dari tangannya saat Rainer dan Kashel mendekat dan memasuki wilayahnya. Tapi ia hanya menyerang Rainer saat itu, tidak Kashel.
Saat Rainer keluar dari batasan wilayahnya yang terlihat seperti lingkaran sihir Kesatria Cahaya itu mundur dan tidak menyerang lagi dan kembali ke tempatnya.
"Paman!" Kashel berlari ke arah Rainer yang tampak terluka karena sempat terkena serangan Kesatria Cahaya itu.
BZZT!
Kashel terkejut karena ia terkurung di lingkaran sihir itu ia tidak bisa keluar dari wilayah itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Paman?" Kashel yang panik bertanya, ia tidak bisa jika terus-terusan terkurung di sana.
"Kau terpilih untuk mencoba mencabut pedang itu Kashel." Jawab Rainer.
"Kenapa bisa? Aku bukan orang yang sebaik itu. Kenapa harus aku?" Kashel protes.
"Jika kau tidak melakukannya kau tidak akan pernah bisa keluar dari tempat itu Kashel." Jelas Rainer lagi.
Tiba-tiba pandangan Kashel terhadap Rainer tertutup, penghalang itu menghalangi jarak pandang mereka bahkan Rainer yang dari luar pun tidak tahu apa yang terjadi di dalam penghalang itu. Bahkan penghalang itu pun kedap suara juga.
"Paman! Paman!" Kashel terus berteriak berusaha keluar dari penghalang sihir itu.
"Percuma manusia, saat ini kau tidak punya pilihan lain selain. Memilih untuk mencabut pedang ini, atau mati." Kesatria Cahaya itu berbicara.
"Namun jika kau gagal mencabutnya kau akan mati juga." Jelasnya lagi.
"Kenapa aku selalu harus disudutkan dengan pilihan yang sulit." Kashel duduk untuk berpikir sesaat saat itu.
"Menyebalkan, aku akan mencobanya. Jika mati, ya mati saja. Tidak akan ada orang yang peduli juga padaku." Kashel sudah tidak peduli lagi, ia tetap membayangkan masa depan yang akan memiliki banyak teman, tapi ia harus melalui hal ini terlebih dahulu dan cuma bisa yakin harus bisa melaluinya.
Kesatria Cahaya itu mempersilahkan Kashel mencabut pedangnya, Kashel naik di altar batu tempat pedang itu tertancap. Ia menelan ludahnya takut, tapi mau tidak mau Kashel harus berani.
Saat menyentuh pedang itu Kashel teringat dengan semua masa lalunya yang menyakitkan. Tapi, ia kemudian memilih untuk berdamai dengan masa lalu itu, itu adalah tanda kebaikan hati Kashel yang sangat besar.