
.
.
.
Kashel perlahan membuka matanya, tubuhnya baik-baik saja sebenarnya tapi ia kaget karena kekuatan besar yang sempat melahap dirinya tadi.
Saat melihat sekitar betapa terkejutnya Kashel ketika melihat Lyam sedang duduk tidak jauh dari Kashel.
"Kau!" Kashel langsung duduk terkejut.
"Apa?" Lyam hanya bertanya sekedarnya. Kashel hanya diam setelah itu, ia takut pada Lyam.
"Mulai saat ini, aku akan membantu dirimu jika kau dalam kesulitan. Kita menjadi teman mulai sekarang." Lyam langsung berbicara apa yang ia ingin bicarakan.
"Kapan aku menerimamu menjadi teman?" Kashel bertanya, Kashel memang ingin memiliki teman tapi bukan berarti temannya itu harus Lyam juga.
Orang nomor satu di akademi, berteman dengan orang peringkat terbawah tentang sihir. Sungguh tidak masuk akal menurut Kashel. Mereka punya hubungan yang berbanding terbalik. Kashel tidak bisa membayangkannya.
.
.
.
"Apa-apaan ini?!" Kashel terkejut karena Lyam sekarang sudah menjadi teman sekamarnya. Barang-barang pria itu telah dipindahkan ke kamar Kashel. Saat Kashel kembali.
Di asrama ini, kelas siswa berbeda tingkatannya tapi untuk masalah kamar mereka masih bisa saling berbagi kamar yang sama meskipun kelas sihir mereka berada ditingkatan berbeda. Seperti sekarang Lyam yang seorang kelas A bisa berada di kamar yang sama anak dari kelas C.
Kashel sudah tujuh tahun lamanya tinggal di asrama ini, selalu sendiri di dalam kamarnya tidak ada yang mau satu kamar dengannya.
Namun, tidak sekalipun Kashel merasakan ketakutan. Tapi ketika Lyam datang dan menjadi teman sekamarnya Kashel malah merasakan ketakutan.
"Hari ini kita akan jadi teman sekamar, karena kita teman." Lyam lagi-lagi mengucapkan kata-kata yang hanya ia ingin ucapkan saja tanpa memikirkan perasaan Kashel. Kashel menatapi dengan tampang tidak bersahabat.
.
.
.
"Apakah aku punya salah padanya sehingga ia ingin merencanakan pembunuhan berencana terhadapku," gumam Kashel duduk di meja belajarnya.
"Apa yang barusan kau katakan?" Lyam sudah tiba-tiba di samping Kashel, membuat pria itu terkejut kaget.
"Hah! Tidak aku hanya mengkhayalkan cerita sebuah buku cerita." Kashel gelagapan terkejut, sembarang memberi alasan. Bahkan ia tidak menatap mata Lyam sama sekali saat berbicara.
"Jadi kau suka baca buku cerita seperti itu juga?" Lyam penasaran.
"Sedikit kurasa, ketika aku punya waktu luang tentu saja." Kashel menjawab masih dengan agak gugup.
Kashel tahu Lyam bukan manusia, tapi Kashel tidak mau pula menyebutnya secara gamblang. Takut jika Lyam malah membuat dirinya dibunuh karena buka mulut tentang jati dirinya. Dan tujuan Lyam mendekati Kashel adalah untuk itu, menjaga Kashel agar tidak buka mulut.
Kashel benar-benar merasa tertekan atas kehadiran Lyam di dekatnya.
.
.
.
Karena tidak nyenyak tidurnya semalam Kashel ketiduran sampai pagi hari dan nyaris terlambat.
"Hei, apa kau tidak sekolah?" tanya Lyam dari bawah tempat tidur ia sudah terlihat bersiap-siap dan tinggal berangkat.
Kashel bangun mengucek matanya masih mengantuk, kemudian ia langsung duduk terkejut setelahnya.
"Astaga aku ketiduran," gumam Kashel, sambil berpikir bagaimana ia bisa tidur nyenyak seperti itu, di dekat orang yang mungkin akan membahayakan nyawanya.
Banyak orang yang heboh ketika mendengar rumor Kashel dan Lyam menjadi teman sekamar tetapi karena takut dengan Lyam, mereka tidak ada yang membicarakannya secara terang-terangan.
.
.
.
Tidak terasa hari ini sudah memasuki ujian praktek kenaikan kelas di kelas tujuh akan dimulai.
Semua kelas dari tingkat A sampai C akan diacak dan disatukan sebagai teman satu regu.
Apakah pada akhirnya aku akan ditinggalkan lagi seperti waktu itu.
Ujian kali ini adalah membasmi Roh Kegelapan. Kemudian guru pembimbing menjelaskan pada mereka bahwa tidak boleh meninggalkan tim dan harus berkerjasama dengan baik. Karena saat menjadi Kesatria Penjaga Batas nanti mereka akan sering mengerjakan tugas membasmi Roh Kegelapan dengan bantuan satu tim.
.
.
.
Malam ini mereka akan terjun ke lapangan di waktu Roh Kegelapan kuat muncul, waktu menunjukkan sekitar pukul jam sebelas malam.
Dengan kemampuan sihir nama-nama mereka diacak kertas beterbangan di udara dan mulai berkumpul menjadi satu, Lyam sebagai peringkat nomor satu di akademi. Diberikan tugas yang berbeda, di mana ia hanya akan mendapatkan regu dengan dua orang.
Ternyata Lyam diam-diam menggunakan kemampuan sihirnya untuk mengambil nama Kashel sebagai teman satu regunya.
.
.
.
Kashel terlihat kebingungan, karena selama nama-nama disebutkan. Namanya belum muncul sama sekali.
"Dan yang akan menjadi teman satu regu Lyam adalah Kashel." Kashel tampak terkejut, di antara banyaknya orang Kashel harus berpasangan dengan Lyam.
Lyam melakukan hal itu karena ia tidak ingin calon wadah jiwanya terluka. Akibat orang tidak bertanggung jawab. Terlebih Lyam tahu tidak ada orang yang benar-benar menyukai keberadaan Kashel di akademi ini.
"Mohon kerjasamanya," Lyam terlihat memberikan Kashel senyuman yang dipaksakan karena Lyam tidak biasa tersenyum dan itu tidak cocok dengannya meskipun wajahnya tampan.
Kashel tidak membalas senyumannya dan hanya menatap Lyam takut.
"I-iya, semoga aku tidak menjadi beban untukmu." Kashel menjawab agak ragu setelah itu.
.
.
.
"Kau lihat si peringkat terendah berpasangan dengan nomor satu."
"Kurasa dia hanya numpang nilai pada akhirnya."
"Syukurlah bukan aku yang satu regu dengan si nomor satu."
"Dia akan mati kurasa sebelum mengimbangi Lyam, hahaha."
Bisik-bisik terakhir ini, yang membuat Kashel merasa agak hati-hati dengan Lyam.
.
.
.
"Kenapa? Bersamaku akan kupastikan kau aman." Lyam berucap menjelaskan situasinya pada Kashel.
"Kenapa kau mau bekerjasama denganku?" Kashel penasaran. Karena pada dasarnya tidak akan ada orang yang mau bekerja sama denganku, pikir Kashel.
"Karena kau terpilih jadi rekanku, kurasa itu takdir. Jadi tidak ada hal yang khusus."
"Lagi pula kemampuan melacak Roh Kegelapan milikmu sepertinya agak berguna. Kalau masalah membasmi kau cukup serahkan semuanya padaku, kau tidak perlu mengotori tanganmu untuk membasmi Roh Kegelapan." Lyam terus mengoceh.
"Aku baru tahu kau banyak omong juga rupanya." Kashel berbicara menanggapi Lyam.
Saat ini Kashel mengenakan kacamatanya langsung, karena itu adalah perintah dari guru pembimbingnya. Sampai ujian ini selesai Kashel harus menggunakan mata batinnya tidak boleh menutupnya atau dia akan dinyatakan tidak lulus.
.
.
.
WUSH!
Angin kencang yang berasal dari Roh Kegelapan di hutan itu datang menghampiri Kashel dan Lyam dengan sangat cepat.
Lyam langsung dengan sigap menghancurkan Roh Kegelapan itu. Dengan kemampuan elemen anginnya. Kemudian ia memasukkan energi hitam itu ke dalam sebuah botol segel sebagai bukti bahwa ia telah mengalahkan energi gelap.
Ia dalam mode seriusnya, Kashel kagum sekaligus takut dengan Lyam yang seperti itu, karena di hadapan Kashel Lyam tidak menyembunyikan kekuatannya sama sekali.
"Kau hebat, aku merasa tidak berguna di sini." Kashel memuji Lyam karena ia merasa tidak enak dengan Lyam.
"Jika kau mau, kau bisa menjadi kuat persis seperti diriku." Lyam berucap dengan tatapan serius, tapi Kashel hanya menganggap itu bercanda. Mana mungkin bisa itu adalah pikiran Kashel. Kashel tidak tahu jika ucapan Lyam itu benar-benar serius.
"Sudahlah, aku juga tidak mau seperti itu. Itu bukanlah tujuanku mencari kekuatan besar seperti tokoh di dalam buku dongeng yang selalu diremehkan orang lain kemudian mencari kekuatan dan menjadi kuat. Aku tidak ingin seperti itu dan akan memilih jalanku sendiri." Kashel berucap sambil terus berjalan. Ia menjadi pemandu Lyam untuk menunjukkan di mana Roh Kegelapan kuat berada.
Menjalani kehidupan normal, itulah tujuanku sebenarnya. Batin Kashel tersenyum ia tidak sabar menunggu hari itu, tapi apa yang terjadi ke depannya bukanlah seperti yang ia bayangkan.