
.
.
.
Rainer tiba-tiba menghentikan mobilnya mendadak, membuat Kashel yang tertidur di kursi belakang terbangun kaget.
Rupa-rupanya kedatangan mereka telah disambut oleh penunggu hutan itu. Ada banyak kelelawar yang menutupi kaca mobil yang dikendarai oleh Rainer. Padahal mereka baru sampai di gerbang desa.
"Ada apa paman? " Kashel bertanya sambil mengucek matanya.
"Lihatlah kedatangan kita telah disambut. " Ucap Rainer menunjuk keluar jendela.
"Disambut oleh apa? " Kashel yang baru bangun tidak melihat apa-apa. Ternyata kelelawar yang dilihat oleh Rainer adalah kelelawar ciptaan Roh Kegelapan yang bersemayam di Hutan Lembab Desa Nantai.
"Ah, " Kashel baru sadar jika yang dilihat oleh Rainer itu bukanlah makhluk yang bisa dilihat oleh manusia biasa.
Kashel mengambil kacamatanya dan memasangnya, Kashel kaget karena melihat kelelawar dengan mata merah sebanyak itu mengerumuni mobil mereka menghalangi jalanan, jelas saja Rainer tidak bisa mengemudikan mobilnya dengan baik karena menutupi pandangan. Kashel langsung membuka kacamatanya karena takut.
"Biasakanlah Kashel untuk melihat Roh Kegelapan, jangan takut." Rainer mengingatkan Kashel yang tidak terbiasa.
"Maafkan aku, Paman." hanya itu yang bisa Kashel ucapkan ia tidak pernah memikirkan untuk benar-benar bisa melihat Roh Kegelapan.
"Jadi Kashel apa kau pernah menyetir?" tanya Rainer Kashel terlihat bingung.
"Aku belum pernah menyetir sebelumnya, Paman." Jawab Kashel.
"Tapi kau pahamkan maksudku, " Rainer tersenyum ke arah Kashel.
"Baiklah, " Kashel tertunduk mengiyakan. Ia juga kurang yakin tapi ia harus melakukannya.
.
.
.
Rainer bermaksud menyuruh Kashel menyetir karena mata batinnya yang terbuka tidak bisa melihat jalanan dengan baik, akibat Roh Kegelapan kelelawar itu.
"Apa yang harus kuinjak ini, Paman?! " Kashel panik karena tidak tahu menyetir mobil.
"Salah itu tombol injak gas, Kashel awas! " Mereka berdua malah heboh di dalam mobil, karena Kashel yang dadakan diajarkan cara menyetir mobil.
"Fyuh! Kita selamat. " Ujar Kashel masih bisa menyetir dengan selamat sampai tujuan, rem tepat diinjak Kashel di depan sebuah pohon besar, jadi mobil yang mereka tumpangi hanya berjarak beberapa sentimeter dari pohon besar itu. Rainer memijat dahinya karena ulah Kashel, dia tidak akan membiarkan anak itu menyetir lagi sebelum ia punya SIM sendiri.
"Kapan-kapan kita naik motor saja, jika kau yang menyetir." gumam Rainer menghidupkan rokoknya, menghilangkan stresnya. Karena mereka hampir saja mati bukan karena Roh Kegelapan tapi hampir mati karena kecelakaan mobil.
"Maafkan aku Paman." Kashel menyadari kesalahan yang ia buat.
"Tidak apa-apa setidaknya kita masih selamat." Rainer tidak mempermasalahkannya.
Saat mereka tersadar mereka sudah berada di depan Hutan Lembab. Terlihat pepohonan di dalam hutan itu rindang dan suram.
Di penglihatan Rainer, hutan itu dipenuhi oleh kelelawar yang berterbangan di atasnya sangat banyak. Namun, di penglihatan Kashel hutan itu hanya terlihat menakutkan, suram, dan gelap terutama ini malam hari.
.
.
.
"Sepertinya perjalanan kita akan panjang Kashel, jika itu kamu mungkin tidak akan berpengaruh apa-apa."
"...."
"Tapi jika itu untukku, aku harus menghadapi makhluk-makhluk yang menghalangi untuk sampai kepada bosnya. Entah berapa tenaga yang akan terkuras Kashel." Jelas Rainer.
"Meskipun aku tidak berguna, tapi aku tak akan membiarkan Paman bertarung sendiri." Tegas Kashel meyakinkan Rainer.
"Baiklah, jika itu maumu rekanku yang masih muda." Rainer tersenyum ke arah Kashel.
Dalam hati, Kashel merasa takut tapi ia tetap akan melawan ketakutan itu. Untuk menjaga orang yang berharga untuknya, meskipun itu akan mempertaruhkan nyawanya.
Kashel memasang kacamata rohnya, dan melepaskan pedangnya dari sarungnya.
Kashel bergetar saat merasakan energi gelap yang sangat pekat dari hutan itu. Ia ingin langsung membuka kacamatanya karena takut. Namun, demi Rainer ia buang rasa takutnya itu. Kashel melihat banyak pasang mata kelelawar yang menatap mereka, mata mereka merah menyala. Lagipula tidak sekali saja untuk Kashel pernah merasakan kekuatan gelap seperti itu, ia seharusnya mulai terbiasa.
"Apakah kamu mau mundur sekarang Kashel, masih ada waktu untuk lari." Kashel menggeleng, ia tidak akan meninggalkan Rainer sendirian.
"Baiklah, selalu bersiap dalam posisi menyerang, Nak." Ucap Rainer bersemangat, tubuhnya mulai mengeluarkan energi sihir petir hitam biru miliknya.
Mereka melangkah memasuki hutan itu. Ribuan kelelawar langsung bergerak ke arah mereka bedua. Dengan kekuatan petirnya yang dahsyat Rainer berhasil menghancurkan beberapa ratus kelelawar yang menyerangnya sekaligus.
Sedangkan Kashel ia mengaktifkan mantra penghalangnya, kemudian sambil menebas kelelawar itu sedikit demi sedikit. Gerakannya tidak secepat cara bertarung Rainer.
Namun, karena pedang yang ia gunakan adalah pedang yang terbuat dari energi sihir murni Guardian, Kashel terlihat sangat mudah mengalahkan beberapa puluh kelelawar dalam hitungan menit. Dan itu termasuk hitungan cepat dalam petarung pemula, meskipun dengan pedang itu ia tidak merasa begitu kelelahan karena memaksa staminanya.
Hanya mantra penghalangnya saja yang sepertinya terus-terusan menyerap staminanya, dan karena itu Kashel punya batas waktu untuk bertahan sampai staminanya habis terkuras.
Mereka akhirnya memilih menghadapi ribuan bahkan ratusan ribu kelelawar itu sambil berjalan. Untuk bisa menemukan gua yang Guardian maksud.
"Kashel tunjukkan jalan, aku akan fokus melindungimu. Kau fokus saja merasakan energi bos mereka ini." Pinta Rainer.
"Baik, Paman." Kashel langsung terlihat fokus dan mulai berjalan sambil merasakan energi dari Roh Kegelapan yang mereka berdua cari.
Semakin mereka berjalan ke dalam hutan, semakin berkurang juga kelelawar yang menghalangi mereka. Mungkin itu tanda untuk mengecoh musuh supaya menganggap mereka salah jalan. Namun, Rainer percaya Kashel. Akhirnya setelah setengah jam perjalanan, mereka menemukan apa yang mereka cari yaitu gua di dalam Hutan Lembab.
Energi kegelapan terasa sangat kuat di sekitaran gua itu, Kashel terduduk karena kelelahan.
"Apa kau masih punya stamina Kashel?" tanya Rainer, kemudian Kashel berdiri dan mengangguk.
"Ya, Paman aku masih bisa bertahan. Untuk membantu, Paman." Ucap Kashel terlihat bersemangat, meskipun raut wajahnya terlihat sudah lelah.
"Baiklah, kita masuk ke dalam goa itu." Rainer berjalan di depan, tapi saat ingin memasukinya Rainer terpental.
"Paman!" Kashel panik membantu Rainer duduk.
"Ukh!" rintih Rainer kesakitan. Ia tidak menyangka, ada mantra pelindung di gua itu yang mengandung listrik cukup kuat.
Beruntungnya Kashel tidak berjalan lebih dulu.
"Gua ini, memiliki pelindung Kashel. Kita tidak bisa meremehkan Roh Kegelapan yang tinggal di dalamnya." Jelas Rainer, masih duduk mengatur nafas dan tenaganya.
"Apa yang harus dilakukan, Paman?" tanya Kashel, ia tidak tahu harus melakukan apa.
"Gunakan pedangmu dan dan ayunkan Kashel, hancurkan penghalang itu." Suruh Rainer. Rainer teringat dengan Roh Kegelapan yang berkulit tebal yang mereka hadapi beberapa hari lalu. Rainer yang kesulitan menghadapinya bahkan tidak bisa melukainya, Kashel dengan mudahnya menebas tangan naga itu dengan pedangnya sampai terluka cukup dalam.
Kashel hanya menuruti permintaan Rainer, ia terlihat berkonsentrasi dan mulai menebas penghalang itu.
BZZT!
PRANG!
Seperti sebuah suara kaca yang dipecahkan terdengar, retakan-retakan di sekitarnya terlihat. Penghalang itu kemudian hancur berkeping-keping karena tebasan pedang kecil Kashel, aura hitam kuat keluar dari dalam gua tersebut.
.
.
.