
"Kenapa tempat ini lagi?" Kashel terlihat bingung dengan tempat yang ia pernah datangi sebelumnya.
"Makhluk berjubah itu? Dia Guardiankan, kenapa kali ini dia yang ada di sini." Kashel yang waspada pernah mengalami hal itu tidak berani mendekat.
Benar saja, dari tubuh Guardian yang berdiri muncul energi besar yang kemudian berubah menjadi naga raksasa dan menatapi Kashel dengan tajam.
"Uaaaaa!" Kashel bangun langsung terduduk ia melihat Rainer yang sedang duduk di depannya.
"Ada apa?" tanya Rainer pura-pura tidak tahu.
"A-aku mengalami mimpi buruk." Kashel mengeluarkan peluh sangat banyak karena mimpinya barusan.
"Paman, bagaimana monster yang kita hadapi tadi. Apakah sudah dikalahkan?" tanya Kashel penasaran karena melihat semuanya telah baik-baik saja.
"Jika kita tidak mengalahkannya, mungkin kita tidak akan bernafas sampai sekarang Kashel." Jelas Rainer, menanggapi pertanyaan Kashel yang cukup konyol.
"Paman benar." Kashel mengangguk kemudian menyadari sesuatu.
Guardian sudah menghilang hanya ada Rainer di situ. Kashel gelagapan bingung semua luka-lukanya yang menyakitkan hilang. Hanya saja baju yang ia pakai sobek tanda bahwa sebelumnya ia benar-benar terluka.
"Kenapa luka-lukaku sembuh paman?" Kashel terlihat kebingungan bahkan rasa lelah yang seharusnya tidak sembuh pun telah hilang semua, Kashel penasaran apa yang telah terjadi padanya.
"Kau beregenerasi sendiri Kashel, luka-lukamu sembuh sendiri."
Kashel malah terlihat terkejut tidak percaya mendengar penjelasan Rainer.
"Apakah karena berurusan dengan Roh Kegelapan terus menerus membuatku jadi tidak normal, Paman?" Kashel dengan wajah terkejutnya minta penjelasan.
"Apa kau pikir pekerjaan ini normal Kashel," Rainer berucap, Kashel hanya memandanginya.
Kashel tahu pekerjaan yang dilakukannya itu bukanlah sebuah pekerjaan dari manusia normal, meskipun Kashel juga tidak pernah melakukan pekerjaan manusia normal seumur hidupnya, karena ia terus menerus terjebak dalam Dunia Perbatasan sampai saat ini.
.
.
.
"Kau tidak perlu terlihat panik seperti itu," jelas Rainer pada Kashel.
"Maksud Paman?" Kashel bertanya bingung.
"Itu bukan tubuhmu yang beregenerasi sendiri, tapi ada yang menyalurkan energinya." Jelas Rainer kemudian ia berdiri menuju arah mata air terdekat dan mencuci wajahnya di sana.
Kashel terlihat langsung tersenyum senang karena itu bukan dirinya sendiri yang melakukannya.
"Jadi, apakah Paman yang menolongku?" Kashel bertanya di samping Rainer ikut mencuci wajahnya juga.
"Apakah menurutmu itu aku?" Rainer bertanya lagi.
"Kurasa iya," Kashel menjawabnya semangat, ia tidak perduli entah siapa yang dilihatnya dalam mimpinya tadi. Tapi yang pasti Kashel tahunya yang menolongnya adalah Rainer.
"Kau tidak apa-apakan sekarang?" Rainer khawatir pada Kashel.
"Aku baik-baik saja Paman, bahkan perasaanku jauh lebih baik." Kashel menjelaskan sambil memikirkan perasaannya.
"Hmm," Rainer menyalakan rokoknya, menyadari Kashel memang berbeda respon tubuhnya terhadap energi sihir milik The Borders.
"Bersiaplah, kita harus pulang setelah ini." Rainer membenahi barang-barangnya.
"Jadi sudah selesai?" Kashel mengikuti Rainer yang berjalan di depannya.
"Kau mau apalagi di sini, mau membasmi Roh Kegelapan satu hutan." Rainer bergurau dengan Kashel.
"Aku tidak mau, capek!" keluh Kashel, mengungkapkan perasaannya. Masih bisa selamat dalam kejadian semalam ia sudah merasa sangat bersyukur.
"Ya sudah ayo kita pulang, dan makan enak." Rainer mengajak Kashel makan-makan lagi karena sudah menyelesaikan misi dengan baik.
"Yeay! Makan-makan!" Kashel bersemangat.
Langit di sekitaran hutan itu terlihat lebih cerah dari sebelumnya ketika matahari mulai timbul di ufuk timur. Setelah kegelapan menghilang, cahaya mulai kembali menyinari hutan yang sebelumnya dikuasai oleh kegelapan yang kuat.
Saat keluar dari gerbang hutan mereka berdua bertemu lagi dengan dua penjaga yang sedang berjaga di depan hutan itu.
"Hei kalian berdua tidak apa-apa?" kedua penjaga itu menghampiri Rainer dan Kashel yang terlihat compang-camping dengan pakaian yang seperti habis terkena cakaran binatang buas tapi tapi tidak ada yang mengalami luka-luka yang berarti.
Mereka berdua terlihat sehat-sehat saja.
Kashel dan Rainer beristirahat di pos penjaga sejenak, mereka membuatkan Rainer dan Kashel masing-masing secangkir teh hangat.
"Jadi apa yang kalian hadapi sebenarnya di tengah hutan?" tanya salah satu penjaga itu. Kashel terlihat menikmati teh hangatnya tidak menghiraukan Rainer yang tengah berbincang-bincang di sampingnya.
"Apa kalian percaya jika aku bilang kami sedang mengalahkan binatang buas di hutan ini." Rainer menjelaskan sambil menyalakan rokoknya lagi santai.
"Mau tidak mempercayainya baju kalian sudah robek-robek seperti itu." Ucap penjaga berbicara akrab.
"Tapi kami heran baju kalian robek, tapi kalian tidak mengalami luka-luka sama sekali. Apa ilmu kebal itu benar-benar ada." Celetuk penjaga gerbang hutan itu penasaran.
"Uhuk!" Kashel tersedak oleh teh yang ia minum setelah mendengar kata-kata penjaga gerbang itu.
"Hei kau tidak apa-apa, Nak?" tanya penjaga itu khawatir pada Kashel.
"Panas." Ucap Kashel menjawab cepat.
"Pelan-pelan saja minumnya Kashel jangan buru-buru." Tegur Rainer kepada Kashel.
Hebat sekali orang yang punya ilmu sihir kebal, pikir Kashel tapi itu bukan mereka karena sebelumnya Kashel juga mengalami luka, tapi ajaibnya saat dia tidak sadar ia malah kehilangan semua luka-lukanya.
"Apa kalian percaya dengan sihir?" Rainer mulai berbicara, ia tidak merahasiakan tentang sihir sama sekali pada kedua orang itu. Keduanya mengangguk.
"Kami percaya, karena di luar sana ada orang yang hidup berbeda dari orang lain, memiliki kelebihan daripada orang biasa." ujar penjaga dengan tubuh sedikit kurus.
"Contohnya kalian berdua, mungkin saja kalian itu adalah salah satu dari penyihir itu, hahahaha." Penjaga satunya dengan tubuh sedikit berisi malah berbicara setengah serius.
"Aku merasa semenjak keluarnya kalian dari Hutan Terlarang, hutan ini seperti kehilangan hawa mistisnya yang mengerikan." Penjaga bertubuh kurus menatap ke arah hutan, hutan itu terlihat lebih cerah daripada biasanya.
Setelah itu mereka terdiam tanpa berbicara apa-apa lagi.
.
.
.
"Kami berdua pamit undur diri dulu," sopan Rainer sebelum pergi meninggalkan pos itu.
"Terima kasih teh hangatnya." Kashel berterima kasih atas jamuan mereka berdua.
"Tidak apa-apa, sudah sewajibnya kami menjamu tamu yang datang dengan baik."
"Oh iya, aku penasaran apa kalian berdua itu ayah dan anak, meskipun tidak mirip." Salah satu penjaga menebak-nebak.
"Ah itu –" Perkataan Kashel terputus.
"Dia adalah keponakanku." Rainer tersenyum sambil memegang kepala Kashel akrab.
Kashel menatapinya terharu, tidak ada orang yang sebelumnya pernah menganggapnya keluarga.
"Iya!" Kashel mengangguk, mengiyakan ucapan Rainer.
"Baiklah kalau begitu kami berdua pulang dulu, ayo Kashel masih banyak tugas lain nanti." Ajak Rainer. Kashel melambaikan tangannya pada kedua penjaga gerbang itu.
"Eh?! Tidak ada libur." Kashel protes mengikuti Rainer.
"Kita ini bukan pegawai kantoran Kashel, tapi pegawai lapangan. Jadi Kashel saat kita berpetualang seperti ini sekalian kita juga menikmati tempat yang kita datangi." Jelas Rainer dan Kashel menyimaknya dengan baik.
"Kalau begitu Paman kenapa tidak bekerja di kantor saja, akan lebih santai?" tanya Kashel.
"Aku ingin menikmati kehidupan ini dengan bersantai seraya menjalankan tugasku sebagai Kesatria Penjaga Batas." Jawab Rainer.
"Kalau kau disuruh memilih apa pekerjaan yang kau inginkan Kashel, pekerjaan lapangan atau pekerjaan kantor?" tanya Rainer penasaran.
"Aku suka pekerjaan kantor Paman, meskipun begitu aku menikmati kebersamaan bekerja sama dengan Paman di lapangan." Kashel menjawab dengan hal yang ia pikirkan.
"Semoga keinginanmu terwujud," Rainer tersenyum ramah dan Kashel mengangguk dengan senyuman.