
"Apa yang sedang Paman lakukan?" tanya Kashel melihat Rainer membaca sebuah buku yang tampaknya adalah buku mantra yang berukuran cukup tebal. Kashel mendudukkan diri di samping Rainer yang sedang mencoba melukis sebuah simbol sihir.
"Belajar simbol mantra penyegel." Jawab Rainer, terus melukis simbol itu tanpa berhenti.
"Paman hebat, bahkan tanpa konsentrasi bisa membuat mantra yang sulit itu." Kashel memperhatikannya, setiap garis yang dibuat oleh Rainer sangatlah rumit.
"Sama seperti kaukan Kashel, ketika menggambar mantra penghalang andalanmu." Ucap Rainer lagi sambil terus menggambarnya tanpa henti, tangannya begitu lincah.
Kashel juga teringat dirinya yang sering menggambar mantra penghalang sambil berbicara dengan Rainer, sebelum menjalankan tugas-tugas yang baru atau hanya menggambarnya agar tidak melupakan bentuk-bentuk dan urutan pembuatan mantra penghalang.
Kashel memperhatikan kertas-kertas mantra yang Rainer buat.
"Wah, Paman hafal semua mantra ini?" tanya Kashel takjub memperhatikan semuanya.
"Hanya yang penting-penting saja Kashel." Jawab Rainer tangannya masih sibuk menggambar.
"Paman benar-benar keren." Ujar Kashel takjub, Rainer bisa menghafal mantra-mantra rumit yang menurut Kashel dia sendiri sangat sulit untuk menirunya.
"Semua dari pengalaman Kashel, kau masih muda. Jadi belum banyak pengalaman yang kau dapatkan untuk saat ini." Ucap Rainer, sudah menghentikan aktifitasnya untuk saat ini.
Kashel terpaku pada salah satu simbol yang dibuat Rainer, Kashel banyak memperhatikan Rainer membuat simbol-simbol mantra penyegel, karena simbol mantra penghalang hanya ada beberapa macam saja. Penghalang juga sebenarnya bisa dibuat dari energi sihir menggunakan elemen yang sudah di kuasai oleh Kesatria Penjaga Batas. Tapi bagi tipe petarung sendiri memang lebih cocok menggunakan mantra penghalang dengan kertas mantra seperti yang Rainer lakukan karena tidak memiliki roh pelindung untuk bekerja sama dengannya.
"Paman," tegur Kashel.
"Ada apa Kashel?" tanya Rainer yang saat ini sibuk membaca buku tentang simbol sihir.
"Kenapa Paman mempelajari mantra terlarang ini?" tanya Kashel, ia tahu sekali mantra ini meskipun tidak bisa membuatnya tapi itu adalah mantra yang berbahaya. Pengguna dari mantra ini akan mati jika mengaktifkannya.
Mantra penyegel jiwa, itu adalah mantra dengan bayaran tubuh dan jiwa penggunanya. Melihat mantra itu Kashel merasa takut, ia memikirkan ada hal yang akan Rainer lakukan dengan hal itu. Kashel langsung merobeknya.
"Paman tidak boleh menggunakan mantra ini." Kashel terlihat menatap Rainer dengan sedih, ia tidak ingin kehilangan keluarganya yang berharga. Melihat mantra itu saja, Kashel takut membayangkannya meskipun itu belum tentu terjadi.
Mantra yang kebanyakan orang lain tidak ingin menyentuhnya, bahkan melewatkannya karena bayaran yang terlalu mahal.
.
.
.
"Jangan sedih seperti itu Kashel, aku mempelajarinya belum tentu menggunakannyakan." Rainer menenangkan Kashel, dengan mengelus kepala Kashel.
"Jangan pernah menggunakannya Paman, lupakan tentang simbol ini." Ucap Kashel ia mengusap matanya yang hampir menangis, orang satu-satunya yang mempedulikan keberadaannya membuat Kashel merasa sangat khawatir.
"Kalau begitu, buatlah situasi di mana aku tidak harus menggunakannya Kashel." Rainer berbicara pada Kashel sambil tersenyum menatapnya.
"Kalau begitu, berhentilah untuk menjadi Kesatria Penjaga Batas Paman, hiduplah dengan tidak melakukan hal-hal yang berbahaya." Pinta Kashel kali ini.
"Kau tidak perlu khawatir Kashel, aku tidak akan menggunakan mantra itu jika tidak perlu. Kecuali, untuk melindungi orang-orang yang kuanggap berharga." Ucap Rainer memantik korek api dan membakar rokok yang sudah berada di mulutnya menikmati setiap asap yang melalui paru-parunya bersantai.
Kashel tidak berkata apa-apa. "Jika itu aku orang yang Paman anggap berharga, kumohon Paman jangan pernah berkorban untukku." Ucap Kashel kemudian meninggalkan tempat duduknya dan pergi membuang kertas yang ia sobek beberapa waktu lalu tadi ke tempat sampah.
Namun, orang yang sangat berharga untukku itu adalah kau Kashel karena kau adalah keluargaku yang berharga, bahkan nyawa aku rela korbankan untuk menjaga hidupmu. Batin Rainer memejamkan mata, sambil terus mengisap rokoknya.
Ia teringat dengan masa lalunya, di mana ia tidak bisa melindungi keluarganya yang berharga, untuk saat ini meskipun nyawa taruhannya. Rainer akan melakukan apapun, untuk melindungi seseorang yang baginya sangat berharga.
.
.
.
15 tahun yang lalu ...
Rainer saat itu masih sangat muda, ia memiliki seseorang yang sangat ia sayangi. Seorang istri yang tengah mengandung saat itu. Ia sudah menikah dan memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia di sebuah desa.
Ia hanyalah manusia biasa yang hidup apa adanya.
Namun di tengah kebahagiaan kecilnya, saat itu kegelapan melahap desa itu. Tidak ada yang tahu mengapa kegelapan bisa datang ke desa terpencil itu, sampai akhir Rainer tidak tahu penyebabnya.
Semua orang panik ketakutan. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan diri. Kegelapan yang melahap desa itu bagai sebuah bencana mengguncang seluruh kehidupan yang ada di sana. Semua orang berterbangan lalu mati setelahnya, mayat bergelimpangan di sekitar Rainer yang saat itu tengah melindungi keluarganya. Ia tidak takut dan terus berusaha untuk lari.
Namun, usahanya gagal dan sia-sia. Istrinya mati di hadapannya akibat Roh Kegelapan yang mengguncang desa itu meluluh lantahkan semuanya seperti badai, Roh Kegelapan kuat tanpa wujud. Dengan tekadnya, Rainer masih berusaha melawan dan berjuang untuk terus hidup dan bisa mengalahkan Roh Kegelapan itu, ia hanya orang biasa saat itu tidak punya kekuatan sihir apapun.
Pada akhirnya perlawanan Rainer tetaplah sia-sia tidak ada gunanya. Rainer sekarat ketika itu, tapi orang berjubah hitam datang di saat-saat waktu terakhirnya, wajahnya tidak terlihat.
"To-tolong!" Ucap Rainer yang penuh rasa putus asa, tapi ia tidak ingin mati sekarang.
"Maafkan aku yang datang terlambat ke tempat ini." Orang berjubah hitam itu berjongkok di hadapan Rainer.
"Aku akan mencoba menyelamatkanmu anak muda. Mungkin ini akan sangat sakit, dan jika kau tidak tahan kau akan benar-benar mati. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk menolongmu selain cara ini." Ucapnya memberikan energinya.
"Aaaarghhh!" Rainer merintih kesakitan, luka-lukanya sembuh tapi karena kekuatan yang merasukinya itu tidaklah cocok untuknya ia menjadi sangat kesakitan.
Ini sangat menyakitkan, aku rasanya ingin hancur saja. Batin Rainer. Ia terus berteriak untuk beberapa waktu. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain merasakannya.
Perlahan rambut yang semulanya hitam berubah menjadi warna putih karena serangan mental yang amat kuat dan pupil mata yang semulanya berwarna hitam pun berubah menjadi kuning emas.
Hari itu ia diselamatkan dari kematian, tapi Rainer tidak tahu ia masih manusia atau bukan setelah itu. Melihat pantulan dirinya di mata air terdekat, warna rambut dan matanya telah berubah. Ia juga merasa ada kekuatan yang amat besar berkembang di dalam dirinya.
Kemudian makhluk berjubah hitam itu memperkenalkan dirinya, ia adalah Guardian. Nyawa Rainer diselamatkan oleh Guardian dan dia diberikan kekuatan sihir oleh Guardian juga.