
Mereka pindah dengan cepat setelah mendapatkan sertifikat itu. Kantor yang semulanya sudah bolong karena pertarungan, berubah menjadi tempat lain dan suasana baru.
Lokasi kantor mereka tidak begitu jauh daripada kantor kerja mereka sebelumnya.
Namun, di tempat ini terdapat kamar yang berada di bawah tanah dan tempatnya lebih mewah daripada sebelumnya.
"Ini kantor mewah sekali, berapa uang yang Lyam habiskan untuk membeli tempat ini?" Chain sangat takjub, untuk mereka bersembilan, sepuluh dengan adik Kashel yang masih membuntuti mereka hingga saat ini. Tempat itu sangatlah luas walaupun tidak memiliki banyak tingkat karena hanya ada tiga lantai dengan satu lantai di bawah tanah.
"Kantor sebelumnya pun, juga Lyam yang mencarikannya untukku." Ujar Kashel membawa barang-barangnya masuk ke dalam. Tempat itu sangat bersih bahkan dari energi gelap sekalipun.
"Dia benar-benar membuat orang yang terikat dengannya menjadi tidak rugi." Ujar Erphan asal.
"Heh, kurasa tidak semudah itu menjadi kontraktor Guardian, aku beberapa kali kena mental karenanya, bahkan untuk bangkit butuh banyak waktu, apa yang kudapatkan ini harusnya sesuai. Lagipula aku tidak meminta banyak hal." Ujar Kashel berucap.
Lyam yang di dekatnya hanya mendengarkan.
"Jika kau mau, kau bisa menguasai semua hartaku Kashel, lagi pula bagiku itu adalah milikmu." Timpal Lyam membuat Kashel menatapnya heran.
"Aku tidak mau, ini saja sudah cukup kok. Aku sudah senang, kau mau bertanggung jawab atas tempat tinggalku yang sebagian besarnya sudah tidak aman lagi." Kashel merapikan barang-barangnya.
Di sana hanya ada mereka berempat di ruangan. Kashel, Lyam, Karel, dan Grizelle tentu saja.
Sedangkan yang lainnya berkeliling mengenali tempat baru mereka, kantor sekaligus tempat tinggal .
"Sepertinya Guardian mendengarkanku yang ingin membuat Rumah Sakit di sini." Mata Luan berbinar-binar ia nampak senang ada begitu banyak ruangan kosong yang bisa digunakan.
"Sepertinya tidak, Lyam memang ingin membuat kantor saingan Organisasi." Anna berucap semuanya langsung menoleh, sepertinya setuju dengan ucapan Anna.
"Tapi kurasa Kashel tidak akan melakukan hal itu, paling dia hanya membuka kantor swasta kecil jika benar lepas dari pusat, mana mau dia membuat organisasi besar." Ujar Chain.
"Kurasa akan keren kalau Kashel membuat kantor sendiri, daripada pusat senang berlaku seenaknya saja." Kyler yang masih jengkel dengan Kantor Pusat berucap.
.
.
.
"Rai bagaimana, perkembangan penyelidikanmu?" tanya Kashel saat istirahat santai di ruangannya sambil menelpon Rai.
"Sangat sulit menemukan bukti lainnya Kashel." Jawab Rai dari seberang telpon.
"Oh iya, aku sekarang pindah kantor ya." Ucap Kashel tiba-tiba.
"Hah?! Kenapa kau baru bilang tiba-tiba seperti itu."
"Kau bisa mengurusnyakan? Soalnya Lyam lagi marah sampai ingin buat divisi sendiri." Ujar Kashel menjelaskan santai, seolah-olah itu hal biasa.
"Jangan tinggalkan aku seperti itu sendiri dong, kalau kau buat divisi sendiri aku mau curhat sama siapa." Rai merengek di seberang telpon.
"Justru karena kamu, aku tidak menyetujui keputusan Lyam." Jelas Kashel.
"Baiklah, aku akan menguruskan kepindahan lokasi kantormu." Ujar Rai lesu.
"Rai jika ada apa-apa kau harus memberitahuku ya, jangan dipendam sendiri. Agar aku bisa membantumu." Pinta Kashel.
TUT!
Telpon tiba-tiba saja terputus membuat Kashel merasa tambah tidak tenang dibuatnya.
.
.
.
"Freda itukan tidak sepenuhnya ingat dengan apa yang dialami saat bersama dengan kita Kashel." Ujar Grizelle ikut dalam pembicaraan itu.
"Sepertinya sifatnya masih saling bertentangan." Ujar Grizelle lagi.
"Tapi cepat atau lambat dia akan sadar dalam ingatan yang tumpang tindih itu." Lyam berucap.
"Ah, begitu ya. Jadi seperti tidak ada harapan." Ujar Grizelle lagi.
"Tapi tidak apa-apa Kashel. Wanita itukan tidak tahu banyak hal tentang dirimu. Karena sebelumnya kau juga tidak bercerita terlalu banyak." Ujar Lyam, yang dikatakannya benar. Hanya Grizelle yang mengetahui bagaimana bentuk ikatan antara Kashel dan Lyam.
Selebihnya ia hanya tahu bagaimana kelemahan-kelemahan milik Kashel dan kawan-kawannya karena kedekatan mereka.
"Inilah hal yang paling merepotkan jika ada yang berkhianat di antara kita. Mau melawannya, kita menganggap dia adalah keluarga," gumam Kashel menyandarkan dirinya di kursi.
"Kau tidak apa-apakan Kashel?" Grizelle bertanya khawatir.
"Aku sudah tidak apa-apa kok, kau jangan khawatir. Aku juga selalu terpikirkan tentang saat seperti ini dari dulu. Tapi, ini bukanlah hal yang begitu menyakitkan. Selama ada dirimu yang mendukungku Grizelle." Kashel berucap, hanya Grizelle satu-satunya orang yang ia percayai saat ini.
Untuk beberapa waktu Kashel masih bisa melupakan hal itu.
...----------------...
"Jaga dirimu baik-baik ya..." Kashel mengantar kepergian adiknya. Tidak terasa ia harus melanjutkan pelajarannya di akademi.
"Aku akan belajar dengan baik Kak, aku akan mengikuti Kakak ke depannya." Karel melambai pergi memasuki gerbang akademi dan Kashel setelah itu kembali masuk ke mobil.
Grizelle tampak bingung melihat Karel yang tiba-tiba menghilang di depan matanya.
"Kau kenapa?" tanya Kashel penasaran melihat istrinya yang tampak kebingungan.
"Masuk ke alam lain?" tanya Grizelle bingung.
"Astaga aku lupa jika kau tidak melihatnya." Kashel menepuk jidatnya, karena mantra sihir kuat yang dilapisi dengan energi Roh tempat itu tidak akan terlihat di mata orang biasa, dulu Kashel juga seperti itu dan untuk memasukinya Kashel harus menggunakan kacamata Rohnya. Namun, ketika memasuki akademi itu, Kashel bisa melepaskan kacamatanya kembali dan menjalani kehidupan seperti biasanya.
"Itu adalah sekolah yang menakjubkan sangat besar di tengah hutan belantara ini." Ujar Kashel menyetir dengan ugal-ugalan seperti biasa, Grizelle tidqk menanggapinya dan Grizelle juga tidak takut sama sekali dengan Kashel yang ugal-ugalan seperti itu.
"Umm itu, apa kau tidak takut aku menyetir seperti ini?" tanya Kashel mengendarai mobilnya dengan kasar.
Grizelle hanya tersenyum, "Lagi pula kita masih selamat, dan di jalan raya kau berkendara dengan baik kok. Aku tidak merasa benar-benar takut." Grizelle menjelaskan.
Mungkin Grizelle hanya satu-satunya wanita yang tidak takut gaya menyetir Kashel yang seperti itu. Bersama dengan adiknya yang tidak protes sama sekali.
Lyam tidak ikut seperti biasa, karena Kashel sudah benar-benar bisa menjaga dirinya sendiri sekarang.
...----------------...
"Setelah ini, aku harus menjalankan misi lagi. Kau tidak apa-apakan kutinggal?" tanya Kashel khawatir.
"Tentu saja tidak apa-apa. Lagipula ada teman-teman lain di sini." Grizelle berbicara santai.
"Rasanya aku ingin membawamu bersamaku, jika pekerjaanku tidak berbahaya." Ujar Kashel ia kemudian berpamitan.
"Ke Kantor Pusat, kita ada pekerjaan di sana selama seminggu." Ujar Lyam, Kashel tampak tidak tenang.
"Jika tidak mau kau bisa membatalkannya Kashel." Lanjut Lyam lagi.
"Aku akan melakukannya, tugas rutin kali ini." Ujar Kashel yakin, biasanya yang pergi ke Kantor Pusat adalah teman-temannya tapi kali ini adalah Kashel sendiri. Ia tidak ingin masa lalunya menjebaknya dalam kegelapan terus menerus dan mulai saat ini ia akan memilih berani menghadapi pusat.