
.
.
.
Kedatangan mereka bertiga disambut oleh penjaga gerbang dan langsung diizinkan masuk karena memiliki surat izin dari Kantor Pusat.
Perjalanan mereka untuk sampai ke sana cukup jauh karena dari pagi mereka berangkat sore hari mereka baru sampai ke tempat tujuan.
"Pantas saja nama Desa ini adalah Desa Raja Naga. Perhatikan roh-roh pelindung itu, meskipun kecil mereka adalah naga. Semua penduduk di desa ini memiliki roh pelindung berwujud naga." Ucap Chain takjub.
Kashel terlihat diam saja, rupa-rupanya di alam bawah sadarnya ia berusaha menahan energi The Borders yang ingin menampakan energinya juga karena merasakan kehadiran roh pelindung berwujud naga yang sangat banyak dari desa itu, belum lagi seperti ada energi sihir yang berbeda mempengaruhinya juga.
"Kau sebaiknya tidur saja sana. Jangan mengganggu pekerjaanku di sini." Ujar Kashel di alam bawah sadarnya. The Borders tertidur kembali, Kashel bisa bernafas lega setelahnya, dan mulai bisa fokus dengan kenyataannya kembali.
"Ada apa Kashel?" tanya Erphan menyadari ada gelagat aneh dari Kashel.
"Karena tempat ini adalah asalnya The Borders muncul di dunia ini, ia ingin memperlihatkan eksistensinya pada penduduk yang tinggal di sini. Menunjukkan bahwa dia pemilik tempat ini."
"Jadi?" tanya Chain tidak mengerti.
"Tentu saja, aku tidak akan membiarkan naga itu membuat heboh semuanya." Kashel terlihat kokoh dengan pendiriannya yang seperti biasanya menyembunyikan identitasnya.
Chain baru paham jika tadi The Borders sempat ingin mengambil alih Kashel ternyata.
.
.
.
"Ke mana sebenarnya tujuan kita ini?" Chain mulai merasa lelah. Saat ini mereka bertiga tidak bisa menggunakan mobil yang mereka bawa untuk berkeliling desa karena tidak diizinkan ada transfortasi di sini. Karena desa ini cukup tradisional dan masih asri, berkat letaknya yang berada di tengah hutan belantara.
"Aku akan bertanya saja jika seperti ini." Ujar Erphan tidak tahan lagi karena lelah sudah setengah hari di perjalanan ia ingin lebih cepat beristirahat sekarang. Namun saat Erphan ingin bertanya mereka sepertinya dihindari.
"Mereka, warga desa ini sepertinya menolak kedatangan kita kemari Kashel." Ucap Erphan.
"Ah aku kesal, masa tidak ada yang mau menunjukkan kita rumah kepala desa." Chain akhirnya buka suara, menggerutu karena kedatangan mereka kemari juga karena pusat bukan kemauan mereka.
"Kashel sebaiknya kau tunjukkan saja kau itu siapa sebenarnya." Kashel memeloti Chain tidak suka dan langsung membuat pria itu terdiam.
"Ikuti aku saja jika orang desa tidak mau menunjukkannya, semoga tujuannya benar." Ujar Kashel, Chain dan Erphan hanya mengangguk. Kashel bisa merasakan keberadaan energi sihir yang berbeda dari pemimpin di desa ini, walaupun hanya menebaknya sepertinya Kashel tidak salah pada akhirnya.
Sampailah akhirnya mereka bertiga di sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu jati kokoh dan rumah itu cukup besar. Mereka menebak itulah rumah yang mereka cari. Rumah pemimpin dari desa ini. Rumah itu terlihat sangat terawat dan bersih dari halaman sampai tampilan rumahnya.
Di halaman rumah itu mereka bertiga melihat pria berotot yang memiliki tato naga di sekujur tubuhnya yang sedang bertelanjang dada.
Mereka bertiga orang-orang kurus yang hanya memiliki sedikit otot hanya bisa saling pandang memandang karena takjub dengan otot pemuda yang sangat baik dalam penglihatan mereka.
.
.
.
Pria berotot itu kemudian berbalik, setelah menyadari ada orang lain yang sedang menatapinya membelah kayu.
Kashel, Chain, dan Erphan menelan ludahnya pahit.
"Kami adalah orang-orang dari Kantor Pusan The Borders Organization yang di kirim kemari untuk menghadapi sebuah keganjilan di desa ini." Ujar Kashel sopan dan memberikan surat perintah dari Kantor Pusat.
"Apakah Kantor Pusat sudah tidak punya orang kuat lagi, sehingga mengirimkan orang-orang kurus lemah ini." Mereka bertiga hanya diam saja bersabar, Kashel bersyukur bukan Rigel atau Kyler yang ia bawa dalam misi ini atau perkelahian di antara mereka tidak terelakkan.
Walaupun, mereka berdua sebelumnya merengek ikut dengan Kashel, tetapi Kashel membulatkan tekadnya untuk pergi bersama Erphan dan Chain. Dan dugaan Kashel tidak salah karena tempat ini bisa menguji kesabaran mereka berdua, Kashel juga baru pernah kemari sebenarnya.
Pria itu tampak seumuran dengan Kashel dan bahkan tinggi mereka sama, hanya saja kelebihan dari pria itu ia lebih berotot.
"Kami hanya menjalankan apa yang diperintahkan Kantor Pusat pada kami, jadi kami mohon izin untuk melakukan tugas kami di sini." Kashel masih berbicara sopan, kemudian pria itu mencoba mengeluarkan energi menakutkannya dari roh pelindungnya, seolah tidak terjadi apa-apa Kashel dan yang lainnya hanya menatapi pria sombong di depannya itu.
Bagi mereka bertiga tidak ada aura dari energi Kesatria Penjaga Batas yang lebih seram dari milik Lyam.
"Aku tidak mengizinkan kalian orang-orang lemah menginjak wilayah Tuanku." Pria itu menghalangi jalan masuk Kashel.
"Tapi kami tetap harus menjalankan tugas kami." Kashel juga tetap bersikeras.
Pria itu menarik kerah baju Kashel sehingga mata mereka saling bertatapan. Mata merah Kashel membuat pria itu sedikit melonggarkan cengkeramannya, meskipun Kashel tidak melawannya sama sekali.
"Hei, hentikan!" Erphan dan Chain berusaha melerai mereka.
"Pria yang lemah dan tidak punya roh pelindung sepertimu tidak pantas menatapku dengan tajam seperti itu." Pria itu berbicara dengan nada keras pada Kashel.
"Kenapa? Aku tidak merasa takut padamu." Ucap Kashel jujur dengan polosnya.
Kashel kau malah mencari gara-gara. Erphan ingin menepuk jidatnya.
Kashel, kamu sungguh terlalu jujur tidak bisakah sedikit berbohong. Batin Chain salut sekaligus prihatin.
"Dan juga jangan seenaknya mengatakan orang lain lemah, menurutku orang kuat yang sesungguhnya adalah orang kuat yang tidak bergantung pada suatu benda apapun,
"Percuma kuat jika tidak ada benda yang membuatmu kuat kau hanyalah seseorang yang lebih lemah daripada orang yang kau anggap lemah." Kashel malah makin menantang pria pemarah itu.
Kashel ucapanmu itu bahkan membuatku tersinggung juga. Batin Erphan.
Kashel ada benarnya, pikir Chain ia merasa kuat tapi bergantung pada sesuatu.
Hampir saja tinju mendarat di pipi Kashel jika tidak ada datang seorang pria yang menghalau keributan itu.
"Hentikan!" seorang orang pria tua muncul dan langsung melerai pertikaian itu. Pria berotot itu membungkuk hormat. Pria yang tampak berumur sekitar 50 tahunan itu mengenakan baju seperti pada orang-orang umumnya kaos yang biasa dipakai orang tua, dengan dipadukan celana kain panjang berwarna hitam.
"Maafkan aku guru." Sopannya pada gurunya. Ia kemudian mengambil bajunya yang semulanya ia lepas karena berkeringat membelah kayu dan menggunakannya sehingga tato naga yang ada di tubuhnya tertutupi sepenuhnya.
"Maafkan muridku yang tidak bisa menahan dirinya ini. Kalian pasti orang-orang yang dikirimkan Kantor Pusat kemari, masuklah anak-anak muda."
"Terima kasih, Tuan." Kashel membungkuk hormat karena sudah disambut dengan baik oleh orang sesungguhnya pemilik kediaman ini.
"Maafkan aku ya teman-teman jika tadi menyinggung perasaan kalian, mengatakan hal seperti itu."
"Santai saja Kashel, kau yang berucap seperti itu juga tidak jauh berbeda dari kami." Ujar Chain merangkul bahu Kashel.
"Kau benar Chain," Kashel tetap seperti biasanya.
.
.
.